(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan

(Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 24


__ADS_3

Seketika Melody mengalihkan pandangannya saat ia melihat Zafri yang menatapnya tajam. Wanita itu berpura-pura memainkan ponselnya untuk menghilangkan rasa gusarnya karena sedari tadi Zafri terus menatapnya tajam.


Wanita itu jadi mengingat bagaimana ia awalnya mengatakan bahwa pimpinan perusahaan itu adalah seorang gay. Dan yang membuat Melody syok adalah saat tau siapa pimpinan tersebut.


Awalnya Melody tidak percaya bahwa Zafri adalah pimpinan dari perusahaan yang bernama Z Two Group tersebut. Namun, hal itu semakin diperkuat saat mereka baru saja masuk ke dalam. Di ambang pintu masuk, semua karyawan sudah berjejer rapi sedang menyambut kedatangan pimpinan mereka sambil membungkukkan badannya. Dan yang semakin membuat Melody percaya adalah saat ia dibawa masuk ke dalam ruangan Zafri. Beruntungnya tadi saat berada di depan, Melody mengenakan penyamarannya sehingga semua orang tidak tau keberadaannya.


Mungkin saja saat ini seluruh staff di kantor Zafri sudah membicarakan tentang mereka. Bagaimana Zafri yang membawa wanita ke kantornya untuk pertama kalinya.


Berbeda dengan itu, saat ini Zafri tengah dilanda kekesalan yang hakiki karena Melody mengatakannya sebagai seorang gay. Gay? Lihatlah, belum apa-apa wanita itu sudah berani mengatakannya gay. Ya walaupun Melody tidak tau bahwa pimpinan itu adalah Zafri. Namun, bukankah itu lancang karena sudah mengambil persepsi yang tidak-tidak.


"Tok... tok... tok..." tiba-tiba pintu diketuk dari luar.


"Masuk!" ucap Zafri menggelegar membuat Melody memejamkan matanya karena takut kalau sewaktu-waktu Zafri mengamuk.


Seorang pria seumuran Zafri masuk ke dalam sambil membawa dua dokumen di tangannya. Dia adalah sekretaris Zafri sekaligus tangan kanannya. Namanya Raymond, sama seperti Zafri, pria itu juga seorang lajang yang belum menikah apalagi mempunyai kekasih.


Begitu masuk ke dalam ruangan atasannya, Raymond sudah merasakan aura di sekelilingnya tiba-tiba mendingin. Pria itu menatap Melody dan Zafri bergantian. Aneh saja melihat keduanya sama-sama terdiam apalagi pandangan Zafri kini terarah pada Melody.


Raymond berjalan mendekati meja Zafri lalu menyodorkan dia dokumen itu. "Ini hasil rapat tadi siang, Tuan." ucap pria itu.


"Oke. Apa ada masalah mengenai meeting tadi?" tanya Zafri sambil membuka-buka dokumen tersebut.


"Tidak ada, Tuan. Hanya saja para investor menanyakan tentang keberadaan anda." jawab Raymond yang berdiri dengan kedua tangan ia letakkan di atas perutnya.


Zafri yang mendengarnya hanya mengangguk. Tiba-tiba Zafri meletakkan dokumen itu ke atas meja hingga menimbulkan suara. Pria itu duduk dengan satu kaki menyilang ke kaki sebelahnya.

__ADS_1


"Tolong pesankan dua makanan untukku." pinta Zafri.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi."


"Hmmm..." balas Zafri dengan gumaman.


Raymond memperlambat langkah kakinya begitu ia mendekati Melody yang duduk di atas sofa. Keduanya saling pandang, Melody menaikkan dua alisnya ke atas seakan-akan bertanya.


Diam-diam Raymond melirik ke belakang. Tiba-tiba pria itu meneguk ludahnya kasar saat melihat kilatan tajam mata Zafri yang seakan menghunus tubuhnya.


"Hati-hati, Nona." bisik Raymond pelan dan langsung melarikan diri. Sementara Melody yang mendengar itu mendadak bingung. Hati-hati? Maksud dari perkataan Raymond apa?


Tepat saat beberapa detik kemudian, Melody langsung mengerti apa maksud dari perkataan Raymond barusan. Wanita itu langsung menelan ludahnya kasar.


"Kalau kau di sini hanya untuk menggodanya, aku tidak segan untuk melemparmu ke bawah dari lantai atas." ancam Zafri.


•••


Zafri tampak fokus mengerjakan pekerjaan di meja kerjanya. Berbeda dengan Melody yang kini tampak senyap. Padahal beberapa saat lalu wanita itu tampak mengoceh tidak jelas sambil memainkan ponselnya setelah mereka menyantap makan siangnya yang dibawa oleh Raymond.


Merasakan sunyi di ruangannya membuat Zafri penasaran. Ia langsung menyudahi pekerjaannya yang sedang menandatangani tumpukan kertas di atas mejanya. Pria itu berjalan mendekati dan sofa karena tidak menemukan Melody duduk di sana. Setelah sampai, Zafri dibuat geleng-geleng kepala karena melihat wanita itu sudah tertidur pulas dengan layar ponsel yang masih menyala.


Zafri memutari sofa tersebut hingga ia berada tepat di hadapan Melody. Pria itu menarik ponsel Melody dari tangan wanita itu dan mematikannya.


"Syutttt..." ucap Zafri pelan ketika melihat pergerakan kecil dari Melody. Namun, itu terjadi hanya sebentar karena Melody kembali tertidur. Aneh sekali, katanya susah tidur. Kenapa baru ditinggal satu jam wanita itu sudah pulas. Diam-diam Zafri menarik kedua ujung bibirnya ke atas.

__ADS_1


Zafri langsung membetulkan letak posisi Melody yang sebelumnya dapat dikatakan kurang nyaman. Zafri menaruh bantal sofa di kepala Melody agar wanita itu merasa nyaman. Melihat Melody yang tertidur lelap membuat Zafri merasa damai entah kenapa.


Pria itu kembali melangkah menuju kursi kerjanya untuk mengambil jasnya lalu setelah itu ia kembali lagi ke sofa. Zafri menyelimuti tubuh Melody menggunakan jasnya.


Setelah memastikan tidur Melody nyenyak, Zafri kembali lagi menuju mejanya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk.


Saat sedang fokus dengan tumpukan kertas di atas mejanya, tiba-tiba ponsel Zafri berdering. Lekas Zafri mengangkat panggilan telfon itu yang berasal dari rumah sakit.


"Baik, saya akan segera ke sana."


Tut


Panggilan diputuskan. Seketika Zafri mendadak gusar. Sekarang ia ada panggilan darurat, sementara itu pekerjaannya belum selesai. Sebenarnya bukan pekerjaan yang Zafri khawatirkan, namun, keberadaan Melody lah yang membuatnya khawatir. Karena tidak ingin ada sesuatu yang buruk terjadi di rumah sakit, Zafri langsung bersiap-siap.


Zafri berjalan mendekati Melody dan mengangkat tubuh wanita itu masuk ke dalam gendongannya. Pria itu langsung membawa tubuh Melody masuk ke sebuah ruangan rahasia yang terdapat di ruangannya. Ruangan tersebut bisa dikatakan sebuah ruangan lengkap dengan fasilitasnya. Ada kamar, kamar mandi, ruang ganti, dan bahkan ada mini pantry di dalam sana. Sangat jarang Zafri menggunakannya karena ia jarang datang ke kantor.


Zafri langsung menurunkan tubuh Melody ke atas kasur dengan pelan, tidak lupa ia menyelimuti tubuh wanita itu. Setelahnya Zafri kembali ke luar untuk segera berangkat ke rumah sakit karena ada panggilan darurat. Semoga saja saat ia kembali lagi, Melody belum bangun.


"Ray, kau jaga ruangan. Jangan biarkan siapapun masuk. Kalau ada apa-apa telfon aku, aku ada urusan di rumah sakit sekarang." ucap Zafri berbicara setengah formal karena ia sudah akrab dengan Raymond sedari kecil.


"Bagaimana dengan Nona Melody, Tuan?" tanya Raymond.


"Itu masalahnya. Kau tetap jaga di luar, aku akan kembali secepatnya. Aku pergi dulu." Zafri menepuk pundak Raymond lalu langsung berlari menuju lift. Karena sedang terburu-buru, Zafri bahkan lupa memberitahu tentang keberadaan Melody saat ini yang ia sembunyikan di ruang rahasianya.


Sementara Raymond yang melihatnya hanya menggelengkan kepala. Ternyata profesi menjadi seorang dokter itu tidak mudah. Kita harus siap siaga jika ada panggilan darurat dari rumah sakit. Dan satu hal yang terpenting, dokter adalah taruhan dari nyawa pasien. Membayangkannya saja sudah membuat Raymond pusing.

__ADS_1


"Tuan-Tuan. Bekerja terus, bagaimana mau dapat istri kalau begitu." Raymond terkekeh, namun, sesaat kemudian ia langsung terdiam. Seakan-akan perkataannya barusan membuat dirinya sendiri tersindir. "Aku juga ternyata." kekeh pria itu senyum-senyum sendiri.


__ADS_2