
Mika berharap kalau dirinya bisa digendong oleh Zafri ala bridal style. Namun, nyatanya harapannya musnah karena Zafri hanya membantunya memegang sebelah lengannya. Jarak pria itu juga bisa dikatakan sangat jauh. Sebenarnya sakit di kaki Mika itu adalah pura-pura agar ia bisa menarik perhatian Zafri. Jujur, saat melihat Zafri, Mika langsung terpesona melihatnya untuk yang ke-dua kalinya. Dua kali? Ya, mereka pernah di pertemukan di desa yang sama saat 4 tahun yang lalu. Mungkin Zafri sudah lupa, berbeda dengan Mika yang masih sangat ingat.
Begitu sampai di tempat awal, semua orang yang melihat Mika berjalan terseok-seok pun bertanya-tanya. Apalagi melihat keberadaan Zafri yang datang bersamaan dengan Mika.
Zafri yang sudah jengah langsung menyerahkan Mika kepada teman satu timnya.
"Lo ngapain?" bisik Rachel begitu Mika sudah berada di tangannya.
"Gak berhasil lagi. Lo kan tau dari dulu gue suka sama Dokter Zafri. Dia tampan, pintar, pokoknya perfect." balas Mika tampak berdiri biasa-biasa saja tanpa merasakan sakit.
"Ck! Udah lah, Mik. Pria seperti itu susah didekati. Harusnya lo itu sadar, lo itu bukan type-nya." ucap Rachel memang benar adanya. Tapi, ya mau bagaimana lagi namanya juga perempuan. Kalau sudah suka ya tetap suka.
"Lo cukup diam dan lihat aja, Hel. Gue pasti bisa naklukin hatinya." kekeuh Mika mendapat gelengan kepala oleh temannya.
"Terserah lo deh, Mik. Tandanya gue udah negur dan ingetin lo kalau semua itu gak baik. Lo terima aja resikonya nanti."
"Lo diem!"
"Baiklah. Mengingat hari sudah semakin sore. Jadi, kita bisa langsung menuju asrama. Di sana ada dua mobil pick-up. Nanti silahkan dibagi dua kelompok atau mungkin bisa sesuai dengan kelompoknya." seru Pak Joko, pria tua tadi selaku orang yang bertanggung jawab atas relawan tersebut.
"Ayo, silahkan angkat barang-barangnya naik ke mobil." ucap pak tua itu menuntun mereka semua.
Semuanya langsung bergerak. Membawa barang masing-masing dan menaikkannya ke atas mobil pickup. Begitu sudah naik ke atas mobil semuanya, mereka langsung dibawa ke asrama. Tempatnya memang masuk sedikit ke dalam. Jalan yang sedikit rusak membuat bus yang mereka tumpangi tidak dapat mengantarkan ke asrama tersebut. Jadilah orang-orang desa menjemput mereka di perbatasan.
•••
Keesokan harinya, semua orang sudah tidak berada lagi di asrama. Mereka sudah terjun ke rumah-rumah warga untuk memberikan pelayanan kesehatan.
"Ini obatnya, diminum sesuai resep ya, Pak." ucap Zafri sambil membereskan peralatannya.
"Terimakasih, Dokter." ucap laki-laki yang sudah berumur sambil sesekali terbatuk.
Di desa itu memang banyak dihuni oleh masyarakat yang sudah tua. Sangat jarang anak-anak muda yang tinggal di desa itu. Oleh karena itu sekarang kondisi desanya sangat memprihatinkan, populasi warganya semakin menurun setiap tahun, bahkan setiap bulan. Kalaupun anak-anak mudanya ada, itu semua tidak menutupi kemungkinan mereka menjadi pribadi yang nakal.
Akhirnya selesai juga pekerjaan Zafri untuk hari ini. Waktunya ia kembali ke asrama untuk beristirahat. Zafri kembali bersama rombongan yang lainnya yang juga sudah selesai dengan tugasnya.
__ADS_1
Zafri berjalan berdampingan dengan seorang pria berkacamata. Namanya Dokter Reno. Pertama kali tiba di desa tersebut, mereka juga sudah sempat berkenalan, dia adalah dokter dari rumah sakit lain. Dokter Reno adalah termasuk pria yang pendiam, tapi, jika sudah diajak bicara dia akan sedikit cair.
Keduanya berjalan di barisan paling belakang. Saat di pertengahan jalan, tiba-tiba dua orang wanita mendatangi mereka. Keduanya memposisikan diri mereka di samping Zafri.
"Hai, Dok." sapa Mika melambaikan tangannya.
Zafri hanya membalasnya dengan anggukan.
"Sudah selesai pemeriksaannya, Dok?" tanya wanita itu lagi.
Sekali lagi Zafri menganggukkan kepalanya membuat Mika mendengus dalam hati.
"Nanti malam Dokter ada kegiatan?"
"Tidak." jawab Zafri.
Mika tampak menyunggingkan senyumnya. "Dari yang saya dengar kalau pemandangan malam di atas bukit itu sangat indah. Dan juga setiap malam pasti ada bintang jatuh." jelas Mika dengan senyum yang mengembang.
"Silahkan kalau mau." sahut Zafri cuek.
"Nanti saya tunggu di depan asrama ya?"
"Untuk?" Zafri mengernyitkan dahinya.
"Dokter mau pergi ke sana bersama saya bukan?"
Zafri tampak berdecih kecil. "Maksud saya silahkan kalau mau pergi. Tapi, saya tidak ikut."
"Pfttt!!!"
"M-maaf." ucap Dokter Reno yang tadinya keceplosan tertawa.
Mika yang mendengarnya langsung menatap tajam pria itu.
"Dokter Reno? Apakah anda sibuk malam ini?" Zafri malah bertanya kepada Reno.
__ADS_1
"Tidak, Dokter." jawab Dokter Reno.
"Bagaimana kalau anda ikut bersama Dokter Mika? Kalau Dokter Rachel bagaimana?" pertanyaan itu tertuju kepada Rachel yang berjalan di barisan ujung di samping Mika.
"Saya terserah Mika-nya bagaimana, Dokter." balas Reno mendapat pelototan tajam dari Mika. Zafri baru ingat bahwa keduanya adalah rekan kerja, tentunya mereka sudah saling mengenal.
"Kalau saya tidak bisa. Saya ada janji nanti malam."
Sontak Mika langsung menyikut lengannya. "Jangan bilang lo mau telfonan sama pacar lo itu?" tebak Mika mendapat gidikan bahu oleh Rachel.
Mika tersenyum kaku menatap Zafri. Mika tampak sedikit malu atas penolakan dari pria itu, tapi, tekadnya semakin kuat untuk mendapatkan Zafri.
"Kalau dokter mau, saya siap menemani kok." ucapnya lagi.
"Saya janji tidak akan mau." ucap Zafri lalu langsung mempercepat langkahnya meninggalkan rekan-rekan kerjanya.
"Pfttt..." untuk kedua kalinya Dokter Reno tampak keceplosan. Dia menutupi mulutnya menggunakan punggung tangannya sambil melihat Mika.
"Apa!!" ketus wanita itu garang.
"Enggak. Aku duluan. Mari, Rachel, Mika." Dokter Reno sempat mengedipkan sebelah matanya ke arah Mika.
"Iwww iwww iwww, jijikkkk..." wanita itu tampak memberontak sambil memukuli lengan Rachel.
"Aww... sakit, Mik. Lo itu aneh banget sih. Tiap kali ketemu Dokter Reno bawaannya sensi mulu." Rachel mengusap-usap lengannya yang terasa pedas.
"Dengerin ya, Rachel. Gue itu gak suka Dokter Reno. Dia itu genit. Ngedeketin gue mulu. Gak tau malu deh, udah ditolak juga masih aja tetep ngeyel."
"Lahh, itu bukannya lo ya? Lo kan gitu, udah dapat penolakan dari Dokter Zafri, tapi, masih aja deketin. Keknya lo kekurangan cermin deh. Nih, sini gue donasiin."
"Itu beda konsep ya. Gue mah belum nyatain perasaan gue. Beda dengan Dokter Reno itu, mana sok-sokan akrab lagi."
"Lagian gue heran deh sama lo. Modelan Dokter Reno aja ditolak. Lah ini malah ngejar modelan pintu kulkas."
"Lo juga tuh. Modelan Pak Joko aja ditolak. Padahal mah sempurna." balas Mika tidak mau kalah. Mereka bahkan sampai tidak sadar kalau rombongan sudah jauh dari mereka.
__ADS_1
"Anjirrr! Pak Joko itu banyak istrinya. Amit-amit gue dijadiin istri yang ke-dua puluh."