
Cahaya matahari pagi perlahan masuk melalui celah-celah gorden yang tertutup. Di atas kasur empuk itu terdapat sepasang keturunan anak adam dan hawa yang masih asik bergelung di dunia mimpi. Entah sudah berapa lama mereka tertidur. Keduanya baru pertama kali merasakan ketenangan dan kenyamanan selama dalam tidur mereka. Terutama Melody yang sedari dulu menderita insomnia yang membuat jadwal tidurnya tidak teratur. Kalaupun mau tidur, wanita itu selalu mengonsumsi obat tidur.
Suara lengu*han pelan keluar dari balik bibir Melody yang ternyata sudah tersadar lebih dulu. Mendengar itu membuat Zafri kembali mengeratkan tangannya yang melingkar di perut Melody. Ternyata, pria itu sudah terbangun sejak 30 menit yang lalu. Lalu, kenapa dirinya tidak langsung bangun dan segera pulang? Alasannya cukup mudah, Zafri hanya ingin menikmati pagi yang berbeda saat ketika ia bangun di rumahnya.
Melody membuka matanya perlahan. Rasa hangat yang menyelimuti hatinya membuat wanita itu enggan membuka mata. Namun, hari sudah pagi, ia harus segera bersiap-siap untuk kembali bekerja.
Melody melihat sebuah tangan kekar yang melingkar di perutnya. Dan yang lebih terasa adalah sebuah lengan yang menjadi bantalan tidurnya. Tanpa sadar Melody menarik sudut bibirnya saat mengingat kejadian semalam. Nyatanya, Zafri tidak melakukan hal apa-apa kepadanya. Pria itu langsung mengajaknya segera beristirahat sebelum menjalani hari esok.
"Apa tidurmu nyenyak?" seru Zafri dengan suara seraknya khas bangun tidur. Berulang kali Zafri mendekatkan wajahnya ke rambut Melody. Pria itu sangat menyukai wangi rambut milik Melody. Wanginya membuat Zafri lebih tenang.
"Hummm... kamu?" tanya Melody balik. Keduanya masih berada di posisi yang sama.
"Aku baik-baik saja. Dan ya, hentikan untuk mengonsumsi obat tidur. Itu tidak baik. Apalagi tidak mendapatkan resep dari dokter secara langsung." ujar Zafri mengingatkan.
Sontak Melody mengubah arah tidurnya menghadap Zafri. Pria itu sedikit menjauh untuk memberit jarak antara keduanya.
"Aku punya kamu sebagai seorang dokter. Benar bukan?" tanya Melody memasang senyumnya.
"Apa kau baru saja memintaku untuk menjadi dokter pribadimu?" selidik Zafri menatap Melody curiga.
Wanita itu hanya menyengir memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Apa kamu tidak bekerja?" tanya Melody.
"Aku bisa mengambil sesi siang untuk hari ini." jawab Zafri sambil menarik pelan tangannya dari bawah kepala Melody. Pria itu sedikit meringis karena merasakan tangannya kebas. Zafri memijat pelan tangannya dari mulai pergelangan tangan hingga ke bahu. Setelah merasa lebih baik, Zafri langsung bangkit dari tidurnya.
"Jika kau tidak memiliki pekerjaan sampai siang ini. Aku ingin mengajakmu makan siang dan aku mau meminta penjelasan darimu." Zafri melirik Melody yang sudah terduduk.
"Baiklah. Aku akan mengabari Liona agar tidak menjemputku pagi ini." jawab Melody mengedarkan pandangannya dan melihat ke arah nakas di mana ada ponselnya di sana. Wanita itu lekas mengambilnya dan mencoba untuk membukanya.
"Zaf." panggil Melody kepada Zafri yang baru akan bangkit dari atas kasur.
"Ada apa?" tanya Zafri lalu menoleh.
__ADS_1
"Ponselku kehabisan daya." Melody menunjukkan ponselnya yang tampak mati total sambil menyengir.
Zafri yang melihat itu segera mengedarkan pandangannya. Netra matanya terhenti pada jasnya yang tersampir di sandaran kursi.
"Pakai ponselku. Ada di saku jas." ucap Zafri lalu beranjak dari sana.
"Mau ke mana?" tanya Melody.
"Aku belum mau pulang." sahut Zafri membuat Melody mengulum senyumnya.
Setelah melihat Zafri menghilang dari balik pintu kamarnya, Melody lekas beranjak untuk mengambil jas Zafri di kursi kerjanya.
Melody hampir memekik senang karena sudah menemukan ponsel Zafri di saku jas pria itu. Ia langsung mengambil benda pipih itu dan memencet tombol powernya hingga benda itu hidup. Mata Melody berbinar melihatnya. Namun, saat akan membukanya, Melody dilanda bingung saat tau ternyata ponsel Zafri terpasang kunci keamanan.
Karena merasa dirinya tidak tau apa-apa, Melody langsung keluar dari kamarnya sambil membawa ponsel Zafri di genggamannya. Saat melihat di ruang tamu, ternyata Zafri tidak ada di sana. Indra penciuman Melody langsung peka saat ia mencium aroma masakan dari arah dapur. Langkah kakinya langsung berjalan menuju dapur.
Melody terdiam saat melihat pemandangan di depan matanya. Zafri benar-benar tampak seksi di matanya saat lengan kemejanya ia gulung sampai ke siku dan yang lebih lagi pria itu mengenakan opron yang melekat pas di tubuh Zafri yang kekar. Hampir saja Melody meneteskan air liurnya sendiri, sesaat ia langsung tersadar tujuan awalnya mendatangi Zafri.
"Hmm..." pria itu hanya bergumam tanpa mau menoleh ke arah Melody.
"Ponsel kamu terkunci." ujar Melody mengangkat ponsel Zafri di tangannya.
"Aku sibuk." balas Zafri singkat.
Melody menghembuskan nafasnya berat. "Terus, ini bagaimana?" tanya Melody lesu.
"Buka sendiri. Sandinya tanggal lahirku." sahut Zafri memberitahu.
Melody tau sandinya adalah tanggal lahir Zafri. Tapi, ngomong-ngomong Melody tidak tau Zafri lahir di tangga, bulan, dan tahun berapa.
Wanita itu sebelah alisnya. "Masalahnya aku tidak tau." jelas Melody.
__ADS_1
"22 Maret, 199X." beritahu Zafri.
Sesaat Melody malah terbengong. "Kamu b-bilang M-maret kan?" tanya Melody gugup.
"Apa aku harus berkata lewat speaker?" sindir Zafri. Ia yang sudah selesai memasak langsung melepas opron di tubuhnya lalu berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya.
Setelah mencuci tangannya bersih, Zafri berjalan mendekati Melody yang tampak terbengong dengan ponsel di genggaman tangannya. Begitu sampai di hadapan Melody, Zafri langsung mengambil ponselnya dari tangan wanita itu dan tampak mengetikkan angka-angka untuk membuka pengaman ponselnya. Setelah terbuka, Zafri kembali memberikan ponselnya kepada Melody.
Tersadar kalau Melody masih terbengong, Zafri langsung melambaikan tangannya tepat di hadapan wajah Melody hingga membuat wanita itu tersentak kaget dan menatapnya.
"Kenapa?" tanya Zafri heran.
"K-kenapa bisa?" monolog wanita itu.
Dahi Zafri mengerut mendengar gumaman Melody. "Kau kenapa?" ulang Zafri masih dengan pertanyaan yang sama.
"T-tanggal lahir kira sama, Zaf." lirih Melody kembali terbengong.
Zafri bedecih pelan. Hal sekecil itu kah yang membuat Melody terbengong tidak percaya. "Oh ya? Kebetulan sekali." balas Zafri lumayan takjub juga.
"Iya, hanya tahunnya saja yang berbeda. Di bulan Maret, usiaku genap 25 tahun. Dan kamu...?" Melody menjeda perkataannya sembari menatap Zafri lekat.
"28. Apakah aku setua ini?" tanya Zafri menyunggingkan senyumnya sebelah.
Melody lekas menggelengkan kepalanya. "Bukan tua. Tapi, sudah matang. Waktunya sudah pas untuk menjalin hubungan menuju pernikahan." entah kepada Melody bisa berpikiran seperti itu. Intinya, ia hanya menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya.
Tanpa sadar Zafri langsung terdiam. Ia membayangkan dirinya akan menjalin hubungan ke arah yang serius. Tapi, sampai saat ini Zafri belum mendapatkan wanita yang akan ia ajak untuk menjalin rumah tangga. Dan tanpa sadar Zafri menatap Melody lalu tersenyum. Benar, feeling sang mama tidak lah pernah salah dalam memilih wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya.
"Apa kau memiliki kekasih?" tanya Zafri tiba-tiba membuat Melody langsung menatapnya.
Wanita itu langsung tertawa receh. "Hahaha, kau sedang bercanda? Aku ini wanita karir yang tentunya akan mengejar karirku terlebih dahulu dibandingkan mencari sosok laki-laki yang akan menjadi calon suamiku."
__ADS_1
Hati Zafri langsung mencelos. Apa ini? Kenapa jawaban yang Melody berikan itu tidak sesuai dengan ekspektasinya. Kenapa Zafri seakan tidak rela kalau Melody lebih memilih mengejar karirnya terlebih dahulu. Tidakkah Melody berpikir kalau umurnya sudah tidak lagi muda. Mungkin diumur segitu adalah batas usia normal untuk seorang wanita menikah.