
Di sinilah keduanya berada, Zafri menatap Melody yang tampak terdiam sambil menatap rumahnya yang menjulang tinggi ke atas.
Tepat saat malam itu, Zafri memaksa Melody untuk datang menemui kedua orang tuanya. Bukannya apa, ini adalah malam terakhir di mana saat kedua orang tuanya mengancamnya akan mencoretnya dari kartu keluarga. Sebenarnya Zafri tidak percaya itu karena ia tau bagaimana perangai kedua orang tuanya. Dan Melody yang mendengar cerita dari Zafri pun cukup prihatin. Alhasil keberadaannya di sini adalah untuk meluruskan kesalahpahaman tentang foto itu.
"Aku tidak bisa." seru Melody seketika berubah pikiran.
Zafri langsung menatapnya protes. Baginya, ini tinggal satu langkah saja untuk menjelaskan kesalahpahaman itu. Lagi pula untuk apa Zafri berhubungan dengan wanita yang baru saja ia kenal.
"Tidak! Kau sudah berada di sini. Kau tidak ingat janjimu?" Zafri kembali mengingatkan akan janji Melody. Sebenarnya Melody terpaksa berjanji karena ia diancam oleh pria itu.
Flashback on
"Bantu aku." lirih Zafri memohon.
"Tidak! Aku tidak mau berurusan dengan orang yang tidak aku kenal. Apalagi urusan itu berakhir bertemu dengan orang tuamu. Aku tidak mau!" tolak Melody langsung memalingkan wajahnya ke samping lalu tangannya ia lipatkan di dadanya.
"Aku akan mengabulkan apa pun permintaanmu." bujuk Zafri lagi. Pria itu menarik-narik pelan lengan Melody bak anak kecil yang sedang merengek.
"Ayolah..." Zafri merasakan kalau ia sudah hilang harga diri di hadapan wanita itu. Zafri yang tidak pernah merengek seperti itu sangat merasa jatuh harga dirinya sebagai seorang lelaki dingin.
Melody menggoyangkan jari telunjuknya sebagai balasan. "No! Apapun itu, aku tetap tidak mau. Kita sama sekali tidak memiliki hubungan." Melody masih bertahan dengan keputusannya.
Zafri tidak kehilangan akalnya. Tiba-tiba terbesit satu ide di kepalanya. Mungkin itu akan sedikit menggelikan. Mengingat Zafri adalah pria lajang yang belum pernah sama sekali berhubungan dengan wanita mana pun.
"Aku akan membuatmu terhubung denganku."
"Apa?" beo Melody tidak mengerti.
"Aku akan menghamilimu jika kau masih menolak! Kau hanya perlu membantuku menjelaskan tentang kesalahpahaman itu." ancam Zafri membuat Melody langsung terdiam. Namun, sesaat wanita itu langsung terbahak mendengar perkataan Zafri. Ayo lah, mereka baru saja mengenal dan tidak mungkin pria itu akan melakukan hal di luar batas.
"Hahahaa... menghamiliku? Apa kau waras Dokter?" gelak tawa Melody langsung keluar membuat Zafri memejamkan matanya sejenak.
"Aku serius!" Zafri menekankan kalimatnya serta merubah ekspresinya. Sontak wanita itu langsung berhenti tertawa. Menyisakan sedikit air mata di sudut matanya karena terlalu lama tertawa.
"Coba saja!" tantang Melody ingin melihat respon Zafri. Apakah benar pria itu akan melakukan sesuai ucapannya atau hanya gertakan kecil saja.
"Sungguh?" tanya Zafri cukup terkejut. Ia kira ancamannya itu akan berguna. Namun, wanita itu terlalu menyepelekan ucapannya. Garis bawahi tentang ini bahwa ancaman Zafri tidaklah main-main. Ia bukan pria lemah yang akan menarik semua ancamannya.
"Ya." balas Melody tetap santai. Bahkan dengan santainya ia menaikkan satu kakinya menyilang di pahanya.
Zafri tersenyum smrik. Rupanya wanita itu sungguh siap dengan ancamannya. Perlahan Zafri membuka satu kancing jasnya yang terletak di bawah dadanya hingga kancing itu terlepas. Zafri tidak menyia-nyiakan waktunya, ia langsung membuka jasnya itu dan melemparnya asal.
Melody sedikit mengintip lewat sudut matanya saat mendengar sebuah suara seperti kain dilemparkan asal dan mendarat di lantai. Matanya langsung melebar saat melihat pria itu sudah membuka jasnya. Dan sekarang bahkan Zafri sudah membuka kancing teratas kemeja putihnya.
__ADS_1
"Kau mau apa?" tanya Melody benar-benar dibuat jantungan.
"Cih!" Zafri berdecak pelan dan tetap melanjutkan gerakannya yang membuka kemejanya. "Mau apa lagi? Bukankah ancamanku barusan kau anggap remeh...?" sekarang semua kancing kemejanya itu sudah terlepas. Menampakkan perut ratanya yang sixpack. Kedua kalinya mata Melody dibuat melotot dan bahkan kini mulutnya terngaga melihat pahatan indah di depan matanya. Andai yang di hadapannya itu bukanlah Zafri, maka Melody tidak segan untuk menyentuh dan membelainya lembut.
"T-tunggu...!" Melody menahan bahu Zafri ketika tau pria itu mendekat ke arahnya. Bahkan gaya duduk menyombongkan itu sudah ia buang berganti dengan tubuhnya yang perlahan mundur ke belakang hingga punggung belakangnya sudah mengenai pembatas sofa membuatnya tidak bisa lagi bergerak.
"M-mak-sud-nya a-pa...???" bahkan wanita itu sudah dilanda gugup. Spontan tangannya menahan tangan Zafri saat pria itu bergerak menuju kancing kemeja yang ia pakai.
"Aku hanya ingin membuktikan ucapanku." balas pria itu dengan nada bassnya.
Melody sudah gelagapan. Sungguh! Pria itu tidak main-main dengan ucapannya. Awalnya Melody tidak percaya kalau Zafri akan melakukan hal seperti itu. Tidak sadar wanita itu melamun. Entah apa yang ada di dalam pikirannya itu hingga tatapannya mulai kosong.
"Aaaaakkkkhhh!!!" pekik Melody terkejut saat kakinya ditarik dan otomatis tubuhnya langsung terjerembab di atas sofa. Dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah Zafri yang kini sudah berada di atas tubuhnya.
Mata Melody tidak sekalipun berkedip melihat pemandangan di atasnya. Bisa ia lihat alis tebal pria itu, hidung mancung, dan... bibir tipis. Mata Melody kembali turun ke bawah, ia melihat jakun pria itu yang turun naik. Melody menahan nafasnya sejenak. Kembali matanya menjelajah sampai ke bawah hingga kini matanya disuguhi pemandangan indah. Dada bidang dan perut sixpack. Mata Melody tidak berkedip sama sekali saat melihat perut itu yang seperti roti sobek.
"Kau mau menyentuhnya?" bisik Zafri tersenyum melihat tingkah Melody yang sangat lucu baginya. Wanita itu langsung tersentak saat mendengar suara Zafri yang berada tepat di telinganya.
Melody kembali tersentak saat tangannya ditarik dan diarahkan untuk menyentuh perut Zafri. Wanita itu hanya terdiam tidak bergerak. Tangannya masih digenggaman membuatnya tidak bisa bergerak.
"Kau masih tidak mau membantuku?" tanya Zafri kembali bertanya.
"Tidak!" jawab Melody spontan.
"Baiklah." final Zafri. Zafri melepaskan tangannya dari tangan Melody lalu bergerak menuju kancing teratas kemeja Melody.
Zafri menghentikan pergerakannya. Ia mendekatkan bibirnya hingga kini berada tepat di depan telinga Melody. "Aku tidak keberatan untuk menanamkan sahamku di sini." tangannya bergerak menyentuh perut rata Melody dan mengusapnya pelan.
Melody langsung tercekat dan menahan nafasnya sejenak. Rasa aneh itu kembali menjalar di sekujur tubuhnya untuk yang kedua kalinya setelah kejadian di rumah sakit waktu lalu.
"Mau atau tidak?" tanya Zafri masih berbaik hati sebelum melahap mangsanya.
"Mau!" jawab Melody cepat.
Namun, jawaban Melody justru membuat Zafri salah sangka. Ia kira Melody mau kalau dirinya menanamkan sahamnya di perut Melody... atau semacamnya. Hal itu membuat Zafri tersenyum lebar.
Tangannya kembali membuka kancing kemeja Melody. Namun, Melody langsung menahan tangannya. "Kau mau apa?" tanya wanita itu.
Zafri mengangkat sebelah alisnya. "Tentu saja untuk menanamkan sahamku. Tadi kau sudah menjawab bukan?" balas Zafri kembali melanjutkan aktivitasnya.
"T-tungg-u dulu!! M-maksudku itu, aku mau membantumu. Bukan mau itu!" jelas Melody membuat pergerakan Zafri berhenti seketika.
"Kau menjawab kurang jelas." sahut pria itu kembali berkutat di kemeja Melody.
__ADS_1
"Hei! Aku sudah menjawab, aku mau membantumu. Jadi, berhenti membuka pakaianku. Kau itu sangat mesum, Dokter. Jadi, lepaskan aku." ujar Melody menaikkan nada bicaranya.
Zafri langsung menarik tangannya dan langsung menjauh. Pria itu juga langsung turun dari atas tubuh Melody. Zafri kembali mengancingkan kancing kemejanya yang sempat ia lepas untuk menggertak Melody.
"Lusa malam aku akan menjemputmu. Kau harus berada di sini, dan jika aku tidak menemukan keberadaanmu itu. Jangan salahkan aku kalau aku berbuat lebih." Zafri beranjak untuk mengambil jasnya yang teronggok di lantai yang berada di belakang sofa. Pria itu langsung mengenakan jasnya dan merapikan penampilannya.
"Kau mau ke mana?" tanya Melody seakan berharap pria itu tidak meninggalkannya.
"Pulang. Apa kau mau aku menginap di sini?"
"Ah, tidak, tidak! Silahkan pulang. Dan ya, hati-hati." Melody langsung mendorong tubuh Zafri menuju pintu.
Flashback off
"Ayo masuk!" ajak Zafri langsung menarik tangan Melody.
"Hei, tunggu dulu! Aku belum bilang iya."
"Cerewet! Kau tidak berhak menolak." balas Zafri membawa masuk Melody ke kediamannya.
"Apa!? Aku ini bukan hewan. Kau gila!" umpat Melody pasrah saat dirinya ditarik masuk.
"Jangan sekalipun mengumpat di hadapan orang tuaku. Oh ya, aku lupa. Apa kau tau? Papaku itu seorang jenderal polri. Dia jago dalam hal menembak. Dan tembakannya itu selalu tepat sasaran."
"Aku tidak bertanya!" ketus Melody.
"Aku hanya mengatakan. Dan ya, satu lagi. Mamaku itu seorang dokter. Dia adalah dokter spesialis bedah mulut. Dia lulusan S1 jurusan kedokteran gigi. Sekarang dia bekerja di tempat yang sama denganku."
"Sungguh?"
"Iya. Kau tau, dia sangat cantik. Tapi, sangat cerewet." bisik Zafri.
"Sekarang kau juga sudah mulai cerewet."
"Apa? Aku? Tidak, tidak. Aku sudah bercerita tentang keluargaku. Kau bagaimana?"
"Aku? Entahlah."
"Ku tunggu!"
"Aku tidak yakin itu."
Mereka tidak sadar kalau sudah berjalan melewati ruang tamu. Dan bahkan keduanya juga tidak sadar kalau mereka baru saja mengobrol asik. Seperti teman yang sudah lama.
__ADS_1
Ada empat pasang mata yang kini melihat keakraban mereka. Dan kedua orang itu juga semakin bertambah yakin kalau putra sulung mereka itu benar-benar menjalin hubungan dengan Melody.
"Sepertinya kalian sudah siap untuk segera menikah." seru Ceisya ikut bahagia melihat putranya yang seperti nyaman bersama wanita lain. Dan untuk pertama kalinya Ceisya melihat kecerewetan Zafri bersama orang luar karena sebelumnya Zafri belum pernah mengobrol banyak dengan orang lain terutama wanita.