
Seminggu berada di desa terpencil membuat Zafri sedikit sengsara. Bukan karena dia mengeluh atau apa. Namun, dengan keberadaan Mika di sekitarnya malah membuatnya tidak leluasa bergerak. Setiap pergerakannya selalu diikuti oleh wanita itu. Ketegasannya bahkan tidak membuat Mika patah semangat.
Namun, sekitar dua hari yang lalu wanita itu perlahan menjauh. Jelas Zafri tau akibatnya. Dokter Reno adalah pria yang menyukai Mika sejak awal masuk kerja. Namun, bagi Mika, Reno adalah dokter cupu. Namun, Reno adalah pria yang selalu ada di samping Mika saat wanita itu merasa kesusahan. Dua hari sebelum kepulangan mereka, Reni menyatakan perasaannya. Namun, jelas itu ditolak oleh Mika. Bahkan wanita itu juga mengeluarkan kalimat-kalimat yang membuat Reno kecewa.
Akhirnya setelah perjuangan panjang, Reno menyerah. Dia lebih memilih melepaskan Mika. Keesokan harinya Reno pulang mendahului rombongan.
Saat itu Mika bingung karena tidak melihat Reno yang selalu ada di sekitarnya. Akhirnya Mika menemui Zafri untuk bertanya tentang yang keberadaan Reno, karena yang dia tau Zafri adalah rekan kerja yang lumayan dekat dengan Zafri saat mereka menjadi relawan.
Flashback on
"Dok, Dokter ada melihat Reno tidak?" tanya Mika menemui Zafri setelah mereka menyelesaikan pekerjaannya.
Zafri menggelengkan kepalanya. "Tidak ada." jawab pria itu.
"Memangnya ada apa?" lanjutnya.
"Tidak ada, Dokter. Oh ya. Ada yang ingin saya bicarakan dengan Dokter Zafri."
"Silahkan."
"Sebenarnya... sebenarnya saya menyukai Dokter saat pertama kali bertemu."
Zafri terkejut karena Mika menyatakan perasaannya secara tiba-tiba.
"Saya menyukai Dokter. Rasa ini sudah ada sejak 4 tahun yang lalu. Dokter masih ingat saat pertama kali kita bertemu?" pikiran Zafri langsung menerawang. Mengingat peristiwa apa yang ia lewatkan.
Zafri menggelengkan kepalanya menanggapi.
"Tidak apa kalau Dokter tidak ingat saya. Intinya sekarang saya sudah mengatakan yang sebenarnya. Saya menyukai Dokter. Dokter mau tidak jadi pacar saya?"
Zafri langsung membulatkan kedua matanya.
"Apa Dokter juga menyukai saya?" tanya Mika menatap wajah Zafri intens.
"Maaf sebelumnya. Saya tau kalau mencintai itu adalah hak setiap manusia. Tapi, kalau boleh jujur, saya tidak menyukai Anda, Dokter Mika. Karena saya pun juga sedang mencintai seorang wanita. Maaf jika jawaban ini tidak sesuai dengan harapan Anda. Tapi, di sini saya juga ingi meluruskan masalah ini."
Mika menatap Zafri kecewa. Seakan ada ledakan rasa amarah di dadanya. Hatinya panas.
"Saya hanya ingin menyadarkan Anda bahwa masih ada pria yang mencintai Anda, Dokter Mika. Salah satunya dokter Reno."
"Tapi, saya tidak menyukainya." sangkal Mika cepat.
"Tidak masalah. Saya hanya ingin menyampaikan pesan Dokter Reno tadi pagi. Dia mengucapkan kata maaf karena sudah pergi tanpa berpamitan. Dokter Reno juga mengatakan bahwa dia menyerah. Dia menyerah atas cintanya kepada Anda. Dokter Reno juga berpesan kalau minggu depan, mungkin dia sudah menggelar pernikahannya. Saya hanya ingin anda sadar, bahwa apa yang kita inginkan itu tidak selalu terkabulkan. Saya turut prihatin kepada Dokter Reno karena dia sudah berjuang selama beberapa tahun terakhir untuk meluluhkan hati Anda, Dokter Mika. Mungkin cukup itu saja yang ingin saya sampaikan. Semoga Anda tidak menyesali perbuatan Anda sendiri."
Zafri langsung melangkah pergi meninggalkan Mika yang tampak mematung setelah mendengarnya.
Flashback off
Kepulangan Zafri disambut baik oleh kedua orang tuanya. Bagaimana tidak, selama seminggu lebih itu mereka tidak dapat berkomunikasi karena keterjangkauan sinyal membuat Zafri tidak bisa menghubungi orang tuanya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Melody?" tanya sang papa saat mereka menyantap makan malam bersama. Hanya bertiga, karena Aiyla adiknya sudah dibawa pulang ke kediaman suaminya.
__ADS_1
Zafri bingung karena tumbenan papanya bertanya persoalan Melody.
"Ya bagimana? Kan sudah Zafri jelaskan kalau kami tidak menjalin hubungan." jelas pria itu.
"Terserahmu saja, boy, boy. Kemarin Mama lihat Melody jalan dengan pria lain. Mama harap kalian benar-benar tidak menjalin hubungan." Ceisya datang sambil membawa mangkuk makanan lalu menatanya di atas meja.
Zafri terdiam. Apa benar apa yang dikatakan oleh mamanya? Kenapa Zafri jadi gelisah tidak menentu?
"Jika terus begini, Mama benar-benar akan menjodohkan kamu dan menikahkan kalian secepat mungkin. Mama dan Papamu sudah tidak lagi muda, Boy. Harusnya kamu tau itu."
"Zafri tau, Ma." lirih pria itu.
"Papa setuju. Kali ini kamu cukup diam dan terima saja. Tepat di usiamu yang ke-28 tahun. Papa masih mentolerir. Jika lewat, kamu sudah harus siap menikah dengan wanita pilihan mama dan papa." kecam Zafran tanpa bantahan. Jika sudah papanya angkat bicara, Zafri tidak berani membantah.
•••
"Hai, cantik. Ke sini sama siapa? Gabung yuk!"
"Sini, cantik! Kita bersulang dulu."
Beberapa suara godaan pria hidung belang membuat Melody merasa risih. Namun, dia tetap berjalan masuk ke dalam bar, tempat di mana banyak orang-orang mencari kesenangan malam.
Melody merogoh koceknya untuk mengambil ponselnya.
"Lio, masih lama tidak?" ya seperti itu lah saat Melody mengirim pesan kepada Liona. Kedatangannya ke sini hanya satu, yaitu bertemu kliennya.
Tring
^^^"Yahh, aku sudah masuk ke dalam."^^^
"Dasar dodol. Aku menyuruhmu untuk menunggumu di luar, bukan masuk ke dalam. Kau tau bukan kalau di dalam itu sangat bahaya, apalagi tidak ada aku di sana."
^^^"Ya sudah, aku akan menunggumu di tempat yang sepi saja."^^^
"Jangan dekati pria."
^^^"Iya, iya. Aku tau itu."^^^
Melody menyusuri tepian sudut ruangan yang penuh oleh kerumunan. Karena pencahayaannya kurang, membuat Melody tidak melihat jelas dan berakhir dengan dirinya menabrak seseorang.
Brughhhhh
Keduanya sama-sama terjatuh karena tabrakan yang cukup keras. Melody segera bangkit sambil menahan rasa nyeri di pantatnya.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Melody kepada pria yang ia tabrak.
Pria itu mendongakkan kepalanya.
"Andi!" pekik Melody terkejut melihat pria di hadapannya.
Andi tersenyum tanpa sadar. Dia berusaha berdiri dengan tubuh sempoyongan.
__ADS_1
"Melody? Akhirnya aku bertemu denganmu." racau pria itu mabuk.
"Kenapa kau di sini?" tanya Melody.
"Aku? Hahaha, aku aku mencarimu. Aku mencintaimu, Melody." Andi tertawa meracau membuat Melody meringis pelan.
"Kau mabuk, sebaiknya kau pulang saja."
Hubungan keduanya kini perlahan membaik. Andi sudah menunjukkan tanda-tanda berubah dan tidak terlalu terobsesi dengan tubuhnya. Namun, Melody selalu waspada. Setiap mereka bertemu, selalu ada Liona di sampingnya. Dan sekarang? Apakah Melody bisa selamat? Mengingat Andi dalam keadaan mabuk.
"T-tidakk... aku tidakm mabuk."
"Kau mabuk, Andi!"
"Tidakm, Melody..." Andi terus berjalan mendekat membuat Melody refleks berjalan mundur hingga kini punggungnya mentok di dinding.
"Jangan dekat-dekat, Andi!" kecam Melody yang tidak mendapat respon dari Andi. Pria itu terus meracau sambil terus berusaha menggapai tubuh Melody.
Melody yang takut langsung berlari ke sembarangan arah sambil berusaha mengirim pesan kepada Liona. Melody ketakutan hingga tanpa sadar ia memasuki ruangan kosong yang ternyata itu adalah kamar.
Sedangkan Andi yang dalam keadaan mabuk langsung berlari mengejar Melody yang menghilang dari pandangannya. Dia berlari menyusuri lorong-lorong yang terdapat banyak pintu kamar di sana. Karena tidak tau Melody bersembunyi di mana, akhirnya Andi membuka sembarang semua pintu yang berjejeran itu.
Dia mengabaikan teriakan kesal dari para pengunjung yang tampak menikmati malam di dalam kamar bersama seorang wanita.
Brakk
Sontak Melody terkejut saat pintu terbuka secara tiba-tiba. Ia menutup mulutnya rapat saat mendengar suara langkah kaki milik Andi yang perlahan masuk ke dalam.
"Melody, aku tau kamu di sini. Cepat keluar, Sayang. Aku mencintaimu. Mari kita nikmati malam yang indah ini bersama-sama. Kita akan berbagi keringat, kau akan mende*sah di bawahku, Sayang. Kemarilah, jangan sembunyi."
Melody bergidik ngeri membayangkannya.
Srettt
Bak adegan aksi di drama pembunuhan, Andi menarik meja yang menjadi tempat persembunyian Melody. Wanita itu menjerit kala Andi langsung menarik tangannya.
"Lepas!!!"
"Hahaa... tidak akan, Sayang. Ayolah, buka pakaianmu, Sayang. Aku ingin melihat tubuhmu yang indah itu."
"Lepas, brengsekkk!!! Tolonggggg!!!" Melody berteriak sekencang mungkin.
"Hmppttt..." mulutnya langsung ditutup menggunakan tangan milik pria itu. Andi menarik tubuhnya hingga membuat tubuh mereka menempel. Melody menjerit dan berusaha melepaskan tangan Andi di mulutnya.
Pria itu menggiringnya ke tengah kasur dan langsung mendorong Melody hingga wanita itu terjerembab di atas kasur. Refleks Melody berusaha bangkit. Namun, kakinya langsung ditarik ke bawah sehingga ia kembali terbaring.
"TOLONGGGGG!! TOLONGGGGG!!!"
Melody berteriak sekencang mungkin saat Andi mulai menaiki tubuhnya. Mengapit kedua kakinya dengan paha pria itu dengan kuat.
"Aku mencintaimu, Melody. Mari kita nikmati malam ini." Melody sungguh tidak kuasa karena tenaganya kalah telak. Berulang kali Melody menggelengkan kepalanya saat pria itu berusaha menciumnya.
__ADS_1
Brakkk!!!