
Happy reading
"Mas, kita mampir ke rumah makan dulu yuk. Aku lapar, kan kita makannya juga tadi pagi. Dan ini udah jam 4 sore," ucap Shena dengan pelan.
Varo mengangguk kemudian ia mencari rumah makan yang kiranya cocok untuk mereka makan.
"Sayang disini gak ada rumah makan, adanya juga kedai pinggir jalan itupun jarang jarang ada."
"Ya sudah gak apa apa, Shena laper. Makan ana aja apa yang ada," jawab Shena dengan nada lembutnya. Ia tak bisa menghiraukan perutnya yang sedari tadi keroncongan.
Mobil itu terus melaju, hingga sampailah mereka disebuah kedai sederhana tapi banyak sekali pengunjung. Kata orang orang jika kedai itu banyak yang beli maka ada dua kemungkinan yang pertama kedai itu memang memiliki cita rasa yang enak dan yang kedua adalah kedai itu memakai penglaris.
Tapi Varo dan Shena tak ingin menggiring opini yang tidak jelas. Karena saat ini mereka sedang lapar, lagipula kelihatannya kedai itu sangat bersih.
"Mas ramai banget ya kedainya. Kalau aku gini udah buka warung besar daripada di pinggir jalan gini," ujar Shena dengan nada pelan.
"Mungkin modalnya belum cukup, sayang. Kamu mau pesan apa, biar mas yang pesan," ujar Varo yang sebenarnya tak terlalu suka jika makan di pinggir jalan seperti ini.
"Pecel ayam aja deh, Mas. Kayaknya enak malam malam gini makan pecel," jawab Shena menatap orang orang yang sedang makan disana.
"Minumnya?"
"Teh anget aja," jawab Shena.
Yah karena disana tidak hanya menyediakan teh saja tapi juga beragam minuman. Hal itu membuat mereka bisa memilih minuman yang mereka inginkan.
Setalah memesan makanan untuk mengisi perut mereka, mereka berdua menunggu dengan duduk di karpet yang disediakan disana.
Shena menatap Varo yang sepertinya tak terbiasa makan di tempat yang seperti ini. Bisa dilihat dari cara dia tadi membersihkan tempat duduknya dulu padahalkan sudah bersih.
__ADS_1
"Mas Varo gak pernah makan di pinggir jalan ya?" tanya Shena menatap Varo yang sedang menatap jalan raya itu.
"Jarang sih yank. Kalau gak terpaksa aku juga gak mau makan disini. Gak higienis sayang makan dipinggir jalan tuh," jawab Varo yang membuat Shena menggeleng.
"Aku kadang bingung sama orang kaya jaman sekarang. Kenapa mesti orang kaya mesti mengutamakan uang sih? Kenapa orang kaya gak berbagi untuk yang membutuhkan? Kakak kaya hanya dengan membeli makanan dipinggir jalan seperti ini saja tidak akan mengurangi seperempat uang kakak. Kenapa harus memilih mengkayakan si kaya. Dan memiskinkan si miskin?" tanya Shena yang membuat Varo tersindir jika seperti ini.
Varo paham jika selama ini ia jarang bersedekah kepada orang yang membutuhkan. Varo lebih mengutamakan menyejahterakan teman temannya jika ia sedang bahagia memenangkan tender besar dengan party di hotel bahkan apartemen mewahnya daripada menyumbangkan hasil kerjanya kepanti asuhan.
Belum juga Varo menjawab makanan yang tadi di pesan Varo datang. Ibu ibu yang memakai hijab itu nampak tersenyum pada Shena dan Varo.
Jarang jarang ada orang cantik dan ganteng mampir ke kedai buluknya ini. Tapi walau begitu ia sangat bersyukur dengan apa yang sudah terjadi. Kedai ini pernah dituntut karena orang kaya yang memviralkan pecel ayamnya yang katanya pakai ayam tiren. Padahal ayam dan lele yang digunakan mereka masih segar segar karena mereka mempunyai perternakan sendiri.
"Monggo di makan, mbak, Mas."
"Makasih bu."
Makanan yang tersaji di depan mereka itu sangat menggugah selera Shena sedangkan Varo menatap biasa saja. Karena ia belum pernah makan pecel ayam sebelumnya.
"Mas kenapa bersihin sendok sama garpu? Enak makan pakai tangan loh daripada itu," ucap Shena mencegah Varo yang ingin mengelap sendok dan garpu yang ada di sana.
"Ih gak higienis sayang, Mas gak mau sakit gara gara makan gak pakai sendok," ucap Varo yang sepertinya tak terbiasa makan langsung dengan tangan.
"Hais Mas Varo sayangnya Shena, kita itu bukan lagi di restoran atau apa. Lihat ini pecel, mana bisa makan sama sendok, enak juga langsung pakai tangan. Lagian makan pake tangan itu sunah, Mas."
Varo lagi lagi terkejut dengan ucapan Shena, kenapa Shena bisa sesederhana ini padahal Shena itu adalah wanita dari kalangan atas sama seperti dirinya bahkan wanita ini juga sudah mempunyai beberapa butik terkenal.
"Tapi."
"Kalau Mas gak mau, biar Shena yang suapi Mas Varo ya."
__ADS_1
Varo yang mendapat tawaran itu langsung mengangguk. Kapan lagi ia bisa disuapi oleh wanita cantik yang notabene adalah calon istrinya?
"Mas harus biasain makan makanan sederhana gini. Dan juga Mas harus belajar makan langsung pake tangan," ,ujar Shena mengambil air dan mencuci tangannya di air yang mengalir.
Walau ini adalah kedai pinggir jalan tapi disana juga ada tempat pencuci tangan yang bagus. Tidak kobokan seperti di kedai kedai lain.
Shena yang sudah selesai mencuci tangan itu mulai mengambilkan ayam yang ada di piring itu dan menyuapkan pada Varo. Awalnya Varo ragu untuk menerima suapan Shena itu tapi Shen dengan lembut menyodorkan tangannya yang sudah ada ayam pecel itu.
"Gimana? Enakkan Mas?" tanya Shena dengan suaranya yang sedikit tak jelas karena juga sedang mengunyah makanan.
"Emmm lumayan, mau lagi," jawab Varo mulai menikmati sensasi pedas di mulutnya karena sambal di ayam tadi.
Shena dengan telaten menyuapi calon suaminya itu yang tanpa mereka sadar membuat orang orang menatap iri ke arah mereka. Bahkan ada yang terang terangan ngambek pada pacar mereka agar mau disuapi seperti itu.
"Mas, habis ini langsung pulang kan?" tanya Shena pada Varo.
"Iya sayang. Aku gak mau di cekek sama ayah dan kakak kakak kamu, walau aku cukup dekat dengan mereka tapi mereka itu sangat posesif terhadap kamu. Bahkan aku sering mendengar mereka selalu membanggakan kamu sebagai prinsess di rumah mereka," jawab Varo.
Laki laki itu sudah menghabiskan satu porsi pecel ayam yang ada di depannya. Karena suapan Shena, bahkan di akhir tadi Varo sempat sempatnya menjilat jari jari Shena yang membuat Shena malu. Karena perlakuan Varo itu, walau bagi orang lain itu biasa tapi baginya itu romantis.
"Masa iya, mereka cuek cuek aja tuh kalau di rumah."
"Itu karena kamu jarang di rumah sayang. Lagian mereka kan tidak serumah sama kamu."
Shena mengangguk membenarkan ucapan Varo. Mereka meminum teh hangat itu sebelum akhirnya membayar makanan yang tadi mereka makan.
Ternyata makanan di pinggir jalan tak seburuk yang dibayangkan Varo. Setalah itu Varo membayar lebih makanan mereka sebagai tanda terima kasih karena kedai ini ia bisa merasakan suapan dari Shena.
Bersambung
__ADS_1