Akhirnya Menikah

Akhirnya Menikah
Kantor Varo


__ADS_3

Happy reading


Hari hari berjalan dengan lancar, hubungan Shena dan Varo juga makin romantis dari hati ke hari.


Ting


Mas Varo


Kangen


Shena yang melihat chat masuk itu memang hanya membaca saja tanpa ada niat untuk membalas. Rencananya ia ingin memberikan surprise pada suaminya, karena selama 3 minggu mereka menikah ia belum sekalipun memberikan surprise untuk Varo.


Karena mereka sama sama sibuk dengan bisnis masing masing. Varo dengan kantornya sedangkan Shena dengan butiknya yang makin berkembang pesat.


Honeymoon? Mereka belum ada kepikiran untuk honeymoon. Niatnya saat habis resepsi pernikahan mereka 1 Minggu lagi baru honeymoon.


"Mbak Shen, mau pergi ya?" tanya Siti yang memang sedang mengerjakan tugasnya di dalam ruangan Shena.


"Iya mau ke kantor suami mbak dulu. Kangen soalnya," jawab Shena memasukan ponselnya ke dalam tas.


"Yang udah punya suami mah beda ya mbak. Siti senang mbak sudah gak galau galau lagi gara gara mantan sialan," ujar Siti yang ikut senang dengan kebahagiaan sang atasan.


"Makasih ya, Sit. Mbak doain kamu cepet juga dapet jodoh," ucap Shena dengan senyum manisnya. Ia memang tak pernah lupa mendoakan para orang tersayangnya dengan kebahagiaan.


"Aamiin paling kenceng, apalagi Mak udah ngebet pengen gendong cucu tapi ya gitu. Jodohnya lagi ditahan dulu sama Allah," jawab Siti dengan senyum miris.


Diusianya yang sudah memasuki 26 tahun ia belum juga dapat pacar atau laki laki yang mendekatinya. Siti juga gak jelek jelek amat, tapi kenapa ya Allah.


Shena tersenyum dan pamit pada Siti, wanita itu keluar dari butik menuju mobilnya dan berhenti disebuah restoran kesukaannya dan sang suami.


Shena memesan makan siang disana, setalah membeli makanan ia langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil itu ke kantor Varo.


Akhirnya mobil Shena berhenti di sebuah gerobak, tiba tiba saja ia ingin memakan rujak buah yang ada disana.

__ADS_1


"Pak rujaknya masih?" tanya Shena pada penjual rujak itu.


"Masih neng, mau berapa?"


"Emm 10 ribu ya pak, banyakin mangganya," jawab Shena seraya mengeluarkan uangnya dari dalam tas.


Setelah pak rujak itu menyelesaikan pesanan Shena, Shena memberikan uang kepada pak tukang.


"Makasih ya pak."


"Sama sama, Neng. Semoga kandungannya sehat sehat sampai lahir," jawab Pak Rujak menerima uang dari Shena.


Shena yang mendapat doa dari pak rujak itu terkejut kenapa bisa pak rujak itu bilang ia hamil? Tapi ya sudah tidak apa apa, di aamiin i saja.


Setelah meletakkan makanan itu di mobil, Shena kembali menjalankan mobilnya menuju kantor suaminya.


Tak sampai setengah jam akhirnya, Shena sampai di kantor suaminya. Kantor yang sangat besar itu sudah berada di depan matanya. Ia tak pernah kesini sebelumya makanya ia jadi bingung dimana ruangan suaminya.


Apalagi ia tak ada yang kenal di kantor ini, beda dengan kakak kakaknya yang sudah biasa masuk ke kantor besar ini. Pikiran Shena kini berkelana jika ia akan diusir oleh para pegawai disana seperti yang di novel novel. Apalagi tidak ada yang tahu pernikahan mereka. Selain berberapa teman dekat saja.


Wanita berusia 29 tahun itu berjalan menuju kantor dengan tangan yang membawa makanan dan juga tas yang ia bawa.


Sampainya di depan resepsionis, Shena menghentikan langkahnya.


"Permisi mbak."


"Iya Kak, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis itu dengan ramah.


"Ruangannya pak Varo ada dilantai berapa ya?" tanya Shena dangan senyum manisnya hingga membuat wanita yang menjabat sebagai resepsionis itu terpesona.


"Ruangannya ada di lantai 46, Kak. Mohon maaf dengan siapa ya?" tanya resepsionis itu.


"Saya Shena, temannya pak Varo. Mau antar maka siang aja nih sekalian ada yang ingin di bahas. Pak Varonya ada tamu ya?"

__ADS_1


"Setahu saya gak ada sih kak."


"Oalah ya sudah kalau begitu, permisi."


Shena berjalan cepat menuju lift dan menekan angka 46. Shena sudah tak sabar ingin memberi kejutan pada Varo, karena selama ini Varo selalu mengajaknya ke kantornya saat makan siang. Tapi hari ini ia inisiatif sendiri.


Sampainya di lantai 46, Shena langsung keluar dan ia melihat ada seorang wanita yang Shena yakini itu adalah sekretaris Varo.


"Siang mbak."


"Iya, ada yang bisa saya bantu."


"Pak Varo ada tamu mbak?"


"Maaf Anda siapa ya?" tanya wanita itu mencoba untuk ramah.


"Saya temannya pak Varo, mau antar maka siang sekaligus ada yang ingin saya bicarakan sama pak Varo," ujar Shena dangan senyum manisnya.


"Sudah buat janji?"


"Belum, tapi saya yakin dia gak larang saya untuk masuk kok."


"Maaf kak, tapi sepertinya Pak Varo sedang dengan suasana hati yang kurang baik. Jadi tolong ya mbak buat moodnya baik."


"Siap, nanti kalau dia ngamuk saya jewer aja kupingnya," jawab Shena dangan guraunya. Sepertinya wanita hamil di depannya ini baik. Tak seperti sekretaris biasanya di novel novel. Lagipula ini dunia nyata bukan fiksi.


Setelah mendapatkan izin dari sekretaris Varo, Shena langsung membuka pintu dan melihat suaminya yang sedang meletakkan kepalanya di atas meja.


Varo yang mendengar suara pintu itu berdecak kesal.


"Sudah saya bilang, kalau ada yang kurang jelas. Nanti aja sampai mood saya naik," bentak Varo.


"Mas."

__ADS_1


Duarrr


Bersambung


__ADS_2