
Happy reading
"Hufft."
"Saya bukan suami kamu yang dengan gampang terbawa gosip yang kamu bawa. Saya kenal Shena walau belum lama, dia baik. Bahkan orang buta saja tahu jika calon istri saya ini baik, tidak seperti Anda."
Shena yang mendengar jawaban dari calon suaminya itu tersenyum lembut. Orang tuanya memang tak salah memilihkan ia calon suami.
Varo bukan laki laki yang gampang terpengaruh dengan omongan orang di luar sana. Walaupun ia disebut perawan tua tapi Varo tak mempermasalahkan hal itu.
"Tapi."
"Stop, kedatangan kalian kesini hanya merusak suasana saja. Lebih baik kalian keluar, daripada menganggu. Saya tak peduli dengan siapa saya berbicara tapi jika saya sudah tidak nyama dan juga kekasih saya tidak nyaman maka kalian tak ada artinya bagi saya."
"Tuan Julian, saya rasa Anda perlu mengajari istri Anda agar lebih sopan pada orang."
Julian yang mendapat teguran dari Varo itu langsung menunduk malu. Memang sikap Shiren sudah keterlaluan saat ini. Apa Shiren tak berpikir jika sampai Varo mencabut kerja sama mereka maka dapat dipastikan malam ini juga mereka sudah menjadi gembel.
"Baik, maaf sudah menganggu waktu Tuan Varo."
"Ayo Shi."
Walaupun Julian masih ingin banyak berbincang dengan Shena tapi sepertinya ia tak bisa jika ada Varo di dekat Shena.
"Mas aku belum selesai ngomong ih."
Shiren memberontak saat Julian menarik tangan Shiren. Tapi Julian tetap saja menarik tangan istrinya dengan kasar. Tidak ada perlakuan lembut dan kasih sayang. Lagipula Julian tak mencintai Shiren, ia masih cinta dengan Shena. Tapi gara gara wanita tak tahu diri ini ia harus putus dan bertanggung jawab pada kehamilan Shiren.
Varo yang melihat hal itu cuek saja, sedangkan Shena merasa ngeri di seret seperti itu oleh Shena.
"Ngeri juga Julian seret istrinya," gumam Shena yang masih di dengar oleh Varo.
"Aku gak akan seret kamu kasar kayak gitu kok. Entah nanti kalau kita di kamar pengantin, aku akan membuat kamu menjerit nikmat dengan memanggil namaku," jawab Varo mengangkat tubuh sang kekasih menuju rumah ganti. Bukan apa apa ia hanya ingin mendiamkan ular yang sudah bangun karena Shena mendudukinya.
Reflek Shena melingkarkan tangannya di leher Varo. Ia tak mau jatuh dengan tidak anggun di depan Varo.
"Mas, dulu aja yang ganti."
"Kita ganti bareng, lagipula kita hampir menikah kenapa kamu gak mau satu ruangan sama aku?" tanya Varo menurunkan Shena di ruang ganti.
Shena hanya terdiam malu, ia tak mungkin melepaskan gaun yang menempel di tubuh indahnya ini di depan Varo kan? Tapi Varo sepertinya mengingkan Shena berganti di depannya.
"Malu mas."
__ADS_1
"Kenapa malu?"
"Nanti mas pengen lagi pas lihat tubuh aku," ujar Shen dengan malu. Sebenarnya bukan itu yang ingin di katakan Shena tapi ya sudahlah.
"Aku tiap ketemu kamu juga gak tahan pengen makan kamu. Tapi aku selalu tahan sebelum kamu jadi istriku pantang bagiku untuk menyetubuhi kamu," jawab Varo tanpa Shena sadari sudah menarik resleting dress berwarna biru muda milik Shena.
Dan alhasil gaun itu jatuh dari tubuh Shena, dengan tubuh yang menghadap ke cermin. Varo bisa melihat bra yang dipakai Shena.
"Indah."
"Mas Varo mesum ih."
"Gak papa mesum sama calon sendiri."
Varo meletakkan gaun itu di gantungan baju kemudian ia melepas tuxedo yang ia pakai hingga tersisa ia memakai kemeja saja.
Varo mulai memeluk tubuh Shena yang terbuka itu, mereka menatap ke arah cermin. Varo meletakkan dagunya di pundak Shena hingga ia juga bisa melihat tubuh mereka di pantulan cermin itu.
Cups
"Mas."
"Hmm."
Varo hanya mengangguk dengan tangan yang sudah merayap ke atas. Untungnya Shena memakai hotpants.
Laki laki itu mulai meremat buah yang sudah matang itu dengan lembut.
"Ahh."
"Rembes sayang," bisiknya saat merasa ada yang basah di tangannya.
"Mas jangan gitu."
"Kenapa?"
Sial, suara Varo sangat menganggu inderanya. Ia menjadi mengingkan kekasihnya jika seperti ini. Usapan dan remasan tangan Varo membuat Shena yang notabene juga wanita normal mengingkan lebih.
"Ahh hahh mas."
Varo tersenyum melihat wajah Shena seperti itu, ia mengambil kursi dan mendudukinya. Varo memangku tubuh Shena yang baginya itu lumayan ringan.
"Kamu bisa melihat diri kamu dari cermin ini," ucap Varo melepas pengait bra milik Shena.
__ADS_1
"Gara gara ikan tuna yang mas kasih nih. Jadi cepet penuhnya," ujar Shena menyalahkan Varo yang tadi memberinya makan ikan tuna.
"Iya Mas yang salah, sini biar Mas tanggung jawab."
Inilah kesalahan yang menguntungkan diri Varo sebagai seorang laki-laki.
"Mas terang*ang ya? Keras banget," bisik Shena saat Varo sudah memulai menyesap buahnya.
Varo yang mendengar itu spontan langsung menyesap dengan keras hingga membuat Shena memekik. Karena ia tak terbiasa dihisap seperti ini.
"Ahh sakit banget. Mas jahat," ringis Shena menarik rambut Varo yang ada di depannya.
Tangan Varo yang tadinya meremat pelan buah satunya itu mulai mengambil tangan Shena dari rambutnya dan mengelus rambutnya. Varo mengingkan Shena mengelus rambutnya.
Dan hal itu diikuti oleh Shena, wanita itu memang sangat patuh jika memang itu membuat Varo nyaman. Asal tidak kehormatannya.
Berbeda dengan Varo dan Shena yang sedang berada di dalam ruang ganti itu bermanja tanpa takut jika tirai yang ada di sana terbuka. Para karyawan yang mendengar suara dari balik ruang ganti itu malah deg deg ser sendiri.
"Pelan pelan makanya."
"Ahh mas Varo."
"Hmm."
"Ahh Mas."
Pikiran mereka mulai membayangkan hal yang tidak tidak tentang apa yang dilakukan oleh bos dan calon suami bosnya itu.
"Astaga apa yang baru saja aku dengar itu? Rasanya aku ingin keluar saja."
"Astaga ternyata Tuan Varo sangat berna*su pada bos kita."
"Tuan dengan nyonya sangat tak tahu tempat, kan jadi pengen kalau begini."
"Bos kita sudah tak polos lagi, ya tuhan. Semoga cepat hadir Nona kecil yang unyu unyu."
Para karyawan yang mendengar itu menyimpulkan argumennya masing-masing tentang apa yang sudah dilakukan oleh Shena dan Varo di dalam.
Siti dan Nessa yang mendengar hal itu hanya menggeleng, kenapa Shena bisa bertindak seperti itu di ruang ganti. Kan ada ruangan yang lebih privat di ruangan Shena.
"Semuanya bubar, kalian di bayar bukan untuk berargumen yang tidak jelas. Kerja kerja!!!"
Teriakan Siti membuat merek langsung buyar, mereka tak mau kena semprot sekretaris bos mereka itu. Bisa bisa mereka nanti dapat sangsi, bagaimanapun untuk bekerja di butik ini sangat susah. Jadi mereka harus melakukan yang terbaik agar mereka tetap bekerja disana.
__ADS_1
Bersambung