
Happy reading
Setalah meminum susu segar dari sumbernya langsung, keduanya turun ke bawah dan mencari gaun yang pas untuk kedua keluarga mereka.
"Mas kenapa gak bilang dari awal kalau mau ke rumah malam ini?" tanya Shena.
Shena berpikir setelah ia memberitahukan jika nanti malam keluarga Varo akan datang ke rumah keluarganya akan tergesa gesa menyiapkan keperluannya.
"Kejutan sayang. Tadi pagi setalah kamu berangkat kerja aku udah kirim WO ke rumah kamu. Dan aku tadi malam juga sudah memberitahukan hal ini pada Ayah dan Bunda," jawab Varo yang membuat Shena terkejut. Bagaimana bisa laki laki ini memberi tahukan hal ini dulu pada orang tuanya daripada dirinya.
"Sekarang kamu pilih gaun yang kamu suka. Ini semua rancangan kamu kan?" tanya Varo pada Shena yang mengangguk.
Memang gaun gaun yang ada disini adalah rancangannya.
Mereka berkeliling butik bersama, bagaikan anak induk yang mengikuti induknya Varo berjalan di belakang Shena.
"Mas yang ini gimana?" tanya Shena memperlihatkan gaun biru yang ada di tangannya.
"Bagus, tapi kamu pilih berberapa gaun yang menurut kamu bagus nanti kamu coba satu satu," ujar Varo dengan senyumnya.
Shena pun mengangguk dengan patuh, ia mengambil gaun itu dan memberikan pada pegawainya.
Kabar hubungan Varo dan Shena juga sudah menyebar ke seluruh pegawai butik. Karena Varo sudah berberapa kali datang ke butik untuk bertemu Shena.
"Mbak Shena, nanti kalau nikah jangan lupa undang kita kita ya," ucap salah satu pegawai Shena yang sedang membawakan gaun Shena.
"Iya Lis. Nanti aku undang," jawab Shena dengan senyum. Tak mungkin ia tak mengundang orang yang sudah ia anggap sebagai keluarganya. Semua pegawainya juga orang baik baik tanpa ada yang berniat jahat sama sekali.
Akhirnya setelah beberapa saat mereka berkeliling mencari gaun yang sesuai mereka mengambil 6 gaun dengan pola dan model yang beda. Dan itu 2 gaun dipilih Varo dan 4 gaun dipilih Shena.
"Sekarang kita pilih tuxendo ya buat kamu," ujar Shena dengan senyum pada Varo.
"Iya."
Mereka juga mengambil tuxedo yang warnanya hampir mirip dengan gaunnya. Agar mereka bisa couple nanti.
__ADS_1
Setelah itu keduanya berjalan menuju ruang ganti. Varo memilih untuk menunggu Shena berganti gaun dulu.
Gaun pertama yang dipakai Shena sangat pas di tubuh wanita berusia 29 tahun itu.
"Gimana Mas?"
"Dadanya terlalu terbuka sayang," ujar Varo yang tak menyukai dada Shena yang indah dilihat orang lain.
"Lah kan gak banyak orang yang datang nanti."
"Siapa bilang? Aku undang sahabat sahabat dan berberapa orang lainnya sebagai saksi pertunangan kita," jawab Varo yang membuat Shena tak percaya. Apa sudah sematang itu rencana Varo.
"Jadi aku juga boleh undang teman teman aku?"
"Silahkan sayang kalaupun kamu nanti mau undang wartawan juga aku gak masalah," jawab Varo dengan santainya.
"Aku suka sama gaunnya," ujar Shena menatap pantulan dirinya.
"Ya sudah nanti kita bungkus, sekarang kamu coba yang lain," ujar Varo dengan senyum.
Walau ini butik milik Shena tentu ia tak mau saja mengambil keuntungan dengan tidak membeli gaun ini. Lagipula uangnya tak akan habis hanya karena membeli gaun dari butik Shena.
"Ganti sayang," ujar Varo.
Dengan pasrah Shena berganti gaun ke lima, gaun berwarna biru muda yang pertama di pilih Shena itu sangat pas di badan Shena.
"Awas aja kalau yang ini Mas Varo gak sreg juga," ujar Shena keluar dari ruang ganti.
Mungkin memang seperti ini jika memilih baju untuk lamaran atau pernikahan. Karena ia pernah mendapat klien yang seperti dirinya sekarang.
Saat keluar dari ruang ganti itu, Varo yang tadi sedang meneliti penampilannya dengan tuxedo yang dipilih Shena tadi mulai tertegun melihat Shena yang keluar dengan gaun berwarna biru muda yang sangat indah dipakai di tubuh Shena.
Varo mendekat ke arah Shena, kemudian ia meneliti gaun itu. Dan semuanya sempurna, tidak seperti yang sebelum sebelumnya.
"Sayang ini kamu?" tanya Varo yang tak percaya jika yang di depannya ini adalah Shena. Pasalnya Shena kini berubah menjadi sosok bidadari yang baru saja keluar dari ruang ganti.🤣🤣
__ADS_1
"Bukan aku khodamnya Shena," jawab Shena dengan ketus. Lama lama ia kesal juga dengan calon suaminya ini.
"Sumpah kamu cantik banget, apalagi pakai gaun ini."
"Jadi pakai yang ini aja ya. Aku gak mau ganti lagi, capek."
"Iya, tapi sebelum kamu ganti aku ingin kita berfoto dulu."
Shena mengerutkan keningnya, kenapa harus foto? Kan mereka hanya tinggal membungkus saja.
"Buat kenang kenangan sayang."
Akhirnya mereka meminta bantuan Siti yang kebetulan tadi bersama mereka. Siti selaku Sekretaris Shena sejak 5 tahun lalu sangat senang kala mendengar jika sang bosnya ingin menikah.
Berberapa foto sudah selesai terambil dengan akhir yang membuat Shena malu. Bagaimana tidak, di foto terakhir Varo memangku Shena dengan sebuah ciuman yang dilakukan laki laki itu.
Berani beraninya Varo mengambil ciuman darinya disaat ada orang di sekitar mereka.
"Sayang aku mau nikah cepet sama kamu."
"Kita nunggu keputusan orang tua Mas."
"Tapi mau setiap hari peluk kamu gini. Gak ada yang larang kalau sudah halal, apalagi kalau mau begituan. Kamu tahukan aku juga seorang laki laki dewasa yang sudah sangat matang untuk merasakan hal hal yang seperti itu."
Shena lagi lagi tersipu mendengar ucapan Varo apalagi posisi mereka seperti ini. Sungguh posisi yang tidak mengenakkan sama sekali. Sebagai seorang yang sedikit paham akan hal itu Shena berusaha setenang mungkin untuk tidak membuat gai*ah Varo terpancing karena dirinya.
Tangan Shena terulur untuk mengelus rambut Varo. Laki laki yang masih memakai tuxendo berwarna hitam itu menatap dadanya yang memang menggoda iman Varo.
"Mas nanti kan kita juga bakal nikah, jadi yang sabar dulu."
"Heem. Janji ya sayang kamu jangan buat aku kecewa, aku gak mau kejadian lalu terulang lagi," ujar Varo dan dianggukkan oleh Shena. Siapa juga yang mau pernikahan yang sudah direncanakan batal? Tidak ada.
"Iya Mas. Jangan sedih gini dong, kemarin aja bilangnya suruh jangan ngingat masa lalu. Sekarang mas yang seperti ini," ujar Shena dangan lembut.
Varo terlihat sangat lemah jika dilihat seperti ini. Sedikit sedikit ia sudah paham dengan kehidupan Varo. Lagipula sejak ia mengenal ia sudah memutuskan untuk menerima segala kelebihan dan kekurangan dari Varo. Begitupun sebaliknya.
__ADS_1
Saat sedang mengelus rambut Varo, Shena dibuat terkejut dengan siapa yang sedang berada di butiknya.
Bersambung