
Happy reading
"Saya terima nikah dan kawinnya Shena Putri Adeliana binti Andra Wijaya dengan mas kawin tersebut, tunai."
"Bagaimana para saksi, Sah??"
"SAH!!"
Kata sah memenuhi ruangan yang ada disana. Varo tak menyangka jika ia akan menikah secepat ini.
Walaupun hanya sekedar ijab kabul biasa tapi ia sudah resmi menjadi suami dari Shena secara hukum dan agama.
Seperti pernikahan pada umumnya mereka juga tukar cincin dan mendapat wejangan dari penghulu dan orang tua mereka.
Sena sangat cantik dengan kebaya berwarna putih yang sudah lama ia siapkan untuk hari pernikahannya. Walaupun sederhana tapi pernikahannya sungguh mengesankan karena banyak sahabat yang datang dan juga yang tidak disangka Shena adalah dekorasi tempat pernikahan mereka sangat mewah.
Entah berapa banyak orang yang diperlukan Varo untuk mendekor ruangan ini.
Cups
"Terima kasih sudah mau menerimaku," bisik Varo seraya mengecup kening Shena.
Malam ini adalah malam yang paling indah dalam hidup Varo.
"Aku juga berterima kasih padamu. Aku bisa melepas masalah jangkung bersama laki-laki yang tepat. Walau waktunya tidak tepat," jawab Shena dengan wajah malu malu.
Varo yang mendengar itu tak marah sama sekali, memang apa yang diucapkan Shena benar adanya.
"Aku ingin cepat ke kamar kita dan melakukan itu."
"Mas jangan mesum sekarang, aku malu tahu," jawab Shena dengan bisiknya.
"Bisik bisiknya nanti dulu ya, sekarang kalian tanda tangan disini ya," ucap pak penghulu menyerahkan berkas-berkas pernikahan keduanya.
Kedua orang tua mereka juga tak kalah senangnya melihat anak-anak mereka menikah. Acara yang sebenarnya sederhana tapi mereka membuatnya sangat istimewa dan jauh dari kata sederhana. Mungkin karena mereka kaya jadi bisa membuat acara yang megah dalam waktu yang singkat.
"Sayang resepsi kalian diadakan satu bulan ya, soalnya kalian nikahnya hari ini."
__ADS_1
"Iya Pah."
Setelah para sahabat Varo dan Shena pulang kini tinggallah kedua keluarga inti yang ada di sana.
"Setelah ini kalian bebas untuk melakukan apa saja, jangan melakukan hal yang membuat Kakak marah. Apalagi sampai bang Leon tahu dengan apa yang kalian lakukan," ucap Leo pada adik dan adik iparnya.
Varo yang sedang berada di samping Shena itu langsung menatap Leo yang ada di samping istrinya.
"Kakak ipar tenang aja, aku gak akan melakukan hal yang aneh aneh lagi. Karena sekarang Shena sudah menjadi istriku," jawab Varo dengan senyum jumawanya.
"Sepertinya pukulanku tadi pagi masih kurang untuk membuatmu cedera," ujar Leo yang tak suka dengan Varo.
"Aku siap menerima pukulan itu jika akhirnya menikah secepat ini. Tahu begini aku akan melakukannya dari kemarin," ujar Varo tanpa malu yang membuat Shena langsung mencubit perut suaminya.
"Jangan aneh aneh."
Mereka yang ada di sana tertawa walaupun sedikit kecewa dengan kedua pastur itu tapi tak bisa menutup kemungkinan jika mereka juga bahagia karena sudah bersatu menjadi keluarga. Keluarga Shena dan keluarga Varo kini sudah resmi berbesanan.
"Sudah sudah, hari sudah malam lebih baik kita tidur. Besok kita kedatangan Oma dan Opa begitupun dengan kakek dan nenek. Siap siap untuk mendapat Omelan mereka semua."
Warung yang mendengar kata Opa, Oma, kakek, dan nenek itu menelan ludahnya. Iya masih teringat terakhir kali bertemu dengan keempat orang tua itu. Ia mendapat ceramah panjang kali lebar kali tinggi hingga ia tak tidur malamnya.
"Ayo tidur, aku gak mau ketemu lagi sama mereka."
"Kenapa?"
"Gak mau aja."
Kedua orang tua Varo dan juga Viola tertawa saja. Mereka tahu apa yang membuat Varo seperti itu.
****
Akhirnya mereka semua meninggalkan ruangan itu menuju kamar masing-masing. Btw pernikahannya diadakan di rumah besar Varo hingga mereka bisa tidur di sana.
"Ayo sayang, kita juga ke kamar."
"Kita satu kamar mas?" tanya Shena dengan polosnya.
__ADS_1
Shena tidak pernah ke kamar laki-laki lain selain kamar ayah, kedua kakaknya, dan adiknya. Tapi kini ia harus ke kamar suaminya yang otomatis adalah kamarnya juga.
"Kamu mau kita pisah kamar?" tanya Varo yang sedikit bingung dengan pertanyaan Shena.
"Enggak gitu," ujarnya dengan pelan.
"Kita satu kamarlah sayang. Masa udah nikah kita pisah kamar, apa bedanya sama belum nikah kalau gitu?" tanya Varo mengajak Shena untuk ke kamarnya.
Mereka harus menaiki lift menuju pantai 4 rumah itu. Sebenarnya ada tangga menuju kamar tapi mereka mengambil yang simpel.
Di dalam lift pun, Varo mulai mencari kesempatan dengan memeluk perut rata sang istri yang masih berbalut korset dan kebaya yang di pakainya.
"Sayang gak sesak?" tanya Varo yang di jawab anggukan kepala oleh Shena.
"Sesak sih sebenarnya, apalagi gak bisa nafas bebas kalau begini," jawab Shena dengan pelan.
Ting
Sampailah mereka di lantai 4, keduanya keluar dari lift menuju ke kamar Varo.
Dengan cekatan Varo langsung membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan sang istri masuk.
"Silahkan masuk sayang," ucap Varo pada sang istri.
"Mas, kamar kamu kok rapi banget Mama wangi lagi. Kamu yang beresin kamar ini sendiri?" tanya Shena yang terpesona dengan kamar sang suami yang sangat rapi. Padahal Varo adalah laki-laki lajang dulunya.
Yang ia tahu kamar laki laki yang belum menikah ya sangat berantakan, sama seperti milik kakaknya dulu sebelum menikah.
"Aku suka kalau kamu senang. Aku sangat menjaga privasi kamar aku sayang. Gak ada yang boleh masuk ke kamar ini walaupun itu pelayan. Aku gak mau ada yang berubah dari tatanan yang sudah aku tata."
Shena sontak mengangguk, ia menutup pintu dan menatap sekeliling. Kamar Varo sangat luas, bahkan bisa dibilang kamar ini dua kali dari kamarnya. Apalagi ada ruangan kerja yang ada disana.
"Semoga betah ya."
"Heem."
Bersambung
__ADS_1