
Ardisa masih tidak habis pikir dengan apa yang telah Fahri lakukan kepadanya. Walaupun mereka belum resmi berpacaran, tetapi sikap Fahri telah melebihi seorang kekasih ketika memperlakukannya.
Hanya 2 minggu ketika Fahri tiba-tiba menghilangkan, lalu sekarang ia dikabarkan akan segera menikah. Apakah bisa secepat itu? Apakah mungkin ia hanya sebatas pelarian saja bagi Fahri? Apakah ia sebenarnya sudah memiliki kekasih tapi Fahri tetap mendekatinya? Ada begitu banyak pertanyaan yang ada dipikiran Ardisa.
Ia sungguh kecewa. Biar bagaimanapun, kedekatannya selama tujuh bulan ini benar-benar telah membuka hatinya untuk Fahri dan siap untuk menjalani hubungan yang serius. Tetapi nyatanya itu semua hanya angan-angannya saja.
"Huufftttt."
Ardisa menghela napasnya berat. Saat ini ia sudah berada didalam kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sudah dua jam ia hanya berbaring diatas kasurnya. Meratapi kisah asmaranya yang bahkan belum dimulai.
"Dis, Disa. Kamu didalam kah."
Itu adalah suara dari tantenya. Ardisa sedikit mengernyitkan dahinya ketika ia mendengar tantenya memanggilnya. Tumben sekali, pikirnya. Biasanya tantenya juga akan langsung masuk ketika sudah mengetuk pintu.
"Iya, tan. Disa didalem."
"Oke, tante masuk ya."
Tantenya masuk kedalam kamarnya dengan membawa semangkuk salad buah. Mata Ardisa langsung berbinar ketika melihatnya.
"Wah. Apa tu, tan. Kok enak."
"Oh ini. Ini opor ayam, Dis. Udah tau salad buah, pake nanya lagi lu dasar bambank."
"Heheheh iya, tan. Kan basa-basi gitu loh tan. Enak yah, tan. Bagi dikit bolehlah."
"Isssh. Nih nih, kamu ini, ditungguin dari tadi gak keluar-keluar kamar. Kenapa kamu. Galau?."
__ADS_1
"Taann, mau ceritaa."
"Heh kenapa tu."
"Tante inget Fahri, kan. Yang beberapa bulan ini deket sama Disa. Masa kabarnya dia mau nikah, tan."
"Lah nikah sama siapa. Tante kira dia deketnya sama kamu. Kok tiba-tiba nikah sama orang lain."
"Gak tau, tan. Katanya sih sama temen kuliahnya."
"Isshh kan. Ya udah deh, ngapain juga terus-terusan dipikirin. Dasar tukang ghosting. Berbulan-bulan deketin kamu, kasih harapan, malah tiba-tiba ngilang. Mau nikah pulak."
"Apa Disa ya yang terlalu berharap sama dia. Tujuh bulan deket, udah tau dia gk pernah kasih kepastian, tapi aku tetep aja ngarepin dia."
"Udah gk papa, Dis. Malah bagus kalian belum resmi pacaran. Kalo udah resmi pacaran kan nyesek banget. Cewek kayak kamu gk cocok sama cowok boyo tukang ghosting kayak si Fahri itu."
"Iya, tan. Emang bukan jodohnya yah."
"Kamu tenang aja, Dis. Tante udah ada nih cowok yang mau Tante kenalin sama kamu. Dia ganteng, baik, terus pangkatnya juga lumayan lah. Pokoknya cocok deh sama kamu."
Nyeh. Lihatlah. Tantenya bahkan sudah merencanakan tentang perkenalannya dengan laki-laki lain. Dasar memang tantenya, bersemangat sekali untuk menjodohkannya.
"Iyain aja lah. Biar tante seneng."
"Gitu dong harus. Kamu harus kenalan sama dia. Sukur-sukur kalian emang jodoh."
"Iya iya, tan."
__ADS_1
"Ya udah, gih keluar makan malam dulu. Gak usah galau-galau. Boyo kok di galau-in. Gak banget deh."
"Iya, tan. Ini mau makan kok."
"Udah mau jam sepuluh, tumben mau makan jam segini. Biasanya gak mau karena takut gendut."
"Ya gimana ya, tan. Kan dari tadi emang belum makan. Terus sekarang laper. Hehe."
"Lagian kamu tu. Gak gendut-gendut banget kok. Udah ideal badan kamu, gak usah sok-sok diet deh."
"Iya tante."
Akhirnya Ardisa dan Tantenya pun pergi ke ruang makan. Tante dari Ardisa dengan sabar mah menemani Ardisa untuk makan malam. Dia memang sudah menganggap Ardisa seperti putrinya sendiri.
Ardisa makan dengan tenang. Ia sesekali melirik ke arah tantenya yang sedang memainkan ponselnya. Terdengar backsound lagu yang tidak asing ditelinga Ardisa. Ternyata benar dugaannya, tante Ardisa memang sedang men-scroll TikTok. Akhirnya Ardisa bisa tau darimana tantenya itu dapat mengetahui tentang kosa-kata anak muda jaman sekarang. Ternyata dari TikTok.
"Dis, nomor kamu udah tante kasihin ke Emil. Nanti kalo misal dia ngechat kamu. Kamu balas ya."
Ardisa mengernyitkan dahinya. Emil?. Siapa Emil, pikirnya.
"Emil itu loh yang tante bilang tadi, cowok yang mau Tante kenalin ke kamu."
Akhirnya Ardisa mendapatkan jawabannya. Bisa-bisanya tantenya langsung memberikan kontak nomornya ke laki-laki itu. Padahal Ardisa saja baru saja merasakan patah hati karena di ghosting Fahri.
"Iya, tan."
Ardisa melanjutkan makannya dengan tenang. Ia akan mencoba untuk melupakan Fahri dan membuka hati untuk orang lain.
__ADS_1