Akhirnya Menikah

Akhirnya Menikah
Kebangun


__ADS_3

Happy reading


"Eughh."


Shena terbangun di jam malamnya, entah kenapa ia jadi suka terbangun malam hari padahal ini masih jam 2 pagi. Masih terlalu pagi untuk memulai aktifitas.


Shena menatap langit langit kamar yang masih asing di matanya itu. Ini kali pertamanya ia terbangun di kamar seseorang yang kini sedang tidur disampingnya ini.


"Hahaha udah nikah ya gue?" tanya Shena pada dirinya sendiri.


Shena menatap laki laki yang kini berada di sampingnya itu kemudian ia teringat apa yang sudah mereka lakukanlah semalam.


Kemudian ia membuka selimut dan kemudian ia menutupnya kembali. Ia terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat.


"Gue udah gak per awan lagi dong?" tanya Shena dalam hati. Kemudian ia menatap lagi laki laki yang sedang nyenyak tidur itu.


Laki laki tampan yang sangat menjadi idola gadis gadis di luar sana itu kini sudah resmi menjadi suaminya.


Tangannya terulur untung menyentuh pahatan sempurna di wajah sang suami itu. Ia tak menyangka dipertemuan mereka yang begitu singkat mereka langsung menikah dalam hitungan hari. Apakah Shena menyesal, tentu saja tidak karena Varo sudah membuktikan keseriusannya padanya selama berberapa hari. Semoga Varo tidak berubah itulah yang menjadi keinginannya saat ini.


"Ganteng banget sih kamu Mas, kalau gini caranya aku bisa cinta berkali kali sama kamu," ucapnya dengan pelan.


Ia masih belum percaya jika sekarang ia sudah resmi menjadi istri dari seorang Alvaro Nendra Alfarizqi.

__ADS_1


Saat sedang asyik memandangi wajah tampan sang suami, tiba-tiba mata indah laki-laki itu terbuka. Shena yang malu langsung menutup matanya dan berpura-pura tidur.


Varo yang melihat itu hanya tersenyum gemas kemudian ia memiringkan badannya menghadap Shena.


"Aku tahu kamu belum tidur kok sayang," ucap Varo mengelus pipi Shena yang sudah memerah. Suaranya yang serak membuat jantung Shena dag dig dug tak karuan.


Karena merasa usahanya untuk pura-pura tidur tidak berhasil, Shena memutuskan untuk membuka matanya dan menatap Varo yang juga sedang menatapnya.


"Kamu udah lama bangunnya?"


"Baru aja, sejak ada tangan mungil ini di wajah aku," jawabnya dengan pelan.


"Maaf."


"Ternyata awet juga ya, tidur dengan posisi gini. Gak lepas," bisiknya menarik tubuh Shena hingga keduanya saling menempel.


"Mas."


"Hmm masih terlalu pagi untuk memulai aktifitas, tapi kalau kamu ingin melanjutkan yang semalam aku sih iya aja," jawab Varo dengan senyum manisnya.


"Mas jangan bahas itu, Shena malu tahu," ucapnya dengan pelan. Jujur saja ia masih sangat malu jika membahas hal vulgar seperti ini. Walau ia sudah melakukannya tadi malam.


"Kalau gitu ayo tidur aja," ucap Varo yang sudah mulai memejamkan matanya lagi.

__ADS_1


"Aku mau pipis dulu," ucapnya yang membuat Varo langsung membuka matanya.


"Mau pipis sendiri atau dipipi*in?" tanya Varo dengan muka tengilnya.


Shena yang melihat itu langsung mencubit paha Varo hingga membuat apa yang tadi tertancap kini sudah tercabut.


"Ahhh."


"Jangan nakal," ucapnya dengan pelan.


Shena mengambil pakaian yang ada di koper dekat nakas dan memakainya cepat. Apa yang dipakai Shena? Daster. Pakaian yang paling mudah digunakan untuknya. Walaupun Sena mempunyai putik tapi ia sangat suka memakai daster jika malam hari.


Setelah memakai pakaian Shena berlalu menuju kamar mandi dan menuntaskan pipisnya.


Setelah selesai, shana keluar kemudian membaringkan kembali tubuhnya di atas kasur empuk itu.


"Peluk yank."


Akhirnya keduanya kembali terlelap dengan posisi saling memeluk. Mungkin mulai sekarang posisi itu akan menjadi posisi tidur paling favorit mereka.


Bersambung


Tya sebagai penulis cerita ini mau mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.

__ADS_1


__ADS_2