Akhirnya Menikah

Akhirnya Menikah
Resepsi


__ADS_3

Happy reading


Hal yang ditunggu-tunggu oleh kedua keluarga akhirnya terlaksana. Semua rangkaian acara masih sama seperti sebelumnya hanya saja ijab kabul sudah tidak dilakukan lagi. Karena mereka sudah sah secara agama dan negara.


Mereka sudah sepakat jika resepsi pernikahan akan di lakukan setengah hari saja. Atau kalau bisa Shena tak boleh sampai kelelahan.


Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, semua tamu undangan datang memenuhi gedung itu. Bahkan mantan kekasih dan mantan sahabat Shena juga datang. Karena Julian adalah rekan bisnis sang suami jadi mau tak mau Shena harus melihat wajah yang sangat ia hindari.


MC pun membacakan susunan acara hari ini tentu dengan waktu yang sangat mepet tapi resepsi pernikahan berjalan dengan hikmat dan aman.


Para tamu undangan memberikan selamat pada pengantin yang duduk di pelaminan itu. Hingga kini tiba saatnya Julian dan Shiren.


Shena melihat mantan sahabatnya yang kini entah kenapa tubuhnya makin kurus saja. Tapi mungkin itu hanya perasaannya saja.


"Selamat Tuan Varo, selamat juga nona."


Geli rasanya saat Julian memanggilnya Nona, hahha padahal dulu Shena hampir saja menikah dengan Julian. Untungnya Tuhan membukakan kebenaran ini pada Shena. Walau ia harus sakit hati sedikit tapi itu lebih baik daripada harus melanjutkan pernikahannya dengan Julian.


"Terima kasih."


"Oh ya anak kalian kok gak diajak?" tanya Shena dengan antusiasnya. Shena memang menyukai bayi bayi lucu sejak ia hamil.

__ADS_1


"Dia lagi sakit, jadi gak kami ajak," jawab Shiren dengan senyum lebarnya. Ia berpikir jika Shena mulai menerima dirinya kembali sebagai sahabat. Dengan begitu ia pasti bisa merebut Varo dari Shena.


"Astaga kalian meninggalkan anak kalian di rumah? Harusnya kalian menjaga anak kalian. Karena seorang bayi itu butuh dukungan dari orang tuanya langsung."


Keduanya tampak malu, benar apa yang dikatakan oleh Shena. Sekarang mereka bukan lagi anak-anak remaja yang bisa senang senang tanpa memikirkan apapun.


"Ini juga mau pulang."


Tak lama setelah Shena mengucapkan itu keduanya langsung turun karena dibelakang mereka masih ada orang.


****


Padahal Shena tak enak jika harus meninggalkan acara sebelum waktunya. Shena tak mau dianggap sebagai istri yang manja di hadapan orang orang. Tapi apalah suaminya ini, ingin sekali ia geplak kepala suaminya ini agar tidak over protektif terhadapnya.


Seperti saat ini mereka sudah berada di kamar dengan pakaian yang sudah berganti dengan baju piyama. Varo memijat kaki Shena yang ada di atas pahanya itu.


"Mas, Shena boleh bicara sama Mas?" tanya Shena pada sang suami.


"Boleh sayang."


"Aku gak mau mas terlalu over protektif sama aku. Aku tahu Mas lakuin ini karena Mas sayang sama aku dan juga anak kita tapi apa kata dokter kandungan aku dulu. Aku gak boleh stress, jika aku Mas kurung gini terus aku akan stress dan itu gak baik untu anak kita Mas."

__ADS_1


Varo yang mendengar itu langsung terdiam kemudian ia melanjutkan memijatnya.


"Mas cuma mau yang terbaik buat kamu."


"Shen gak apa apa kok, kata dokter ibu hamil juga perlu aktivas kecil seperti jalan jalan pagi. Bukannya di kamar aja."


Shena menurunkan kakinya kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.


"Aku mau itu, Mas. Aku mau momen momen dimana kita jalan jalan pagi berdua keliling kompleks aja gak apa apa. Yang penting Baby sehat."


"Jadi Mas gak boleh protektif sama kamu?" tanya Varo yang dijawab gelengan dan anggukan.


"Boleh dikit yang penting baik buat bayi kita tapi jangan buat aku gak nyaman."


"Oke apapun demi istriku ini."


Varo mencubit hidung mancung sang istri kemudian dibalas tawa ringan oleh Shena. Mereka menikmati momen ini sebelum akhirnya mereka terlelap bersama dengan posisi saling memeluk.


Tamat


Insyaallah ada ekstra part-nya.

__ADS_1


__ADS_2