Akhirnya Menikah

Akhirnya Menikah
Chapter 4


__ADS_3

Fahri


Share lokasi ya.. Aku mau otw😃


Itu adalah pesan dari Fahri yang baru saja Ardisa baca. Hari ini adalah hari Sabtu.


Sesuai dengan janji Ardisa yang mau bertemu dengan Fahri.


Setelah membaca pesan dari Fahri, Ardisa nampak berfikir sejenak, lalu membagikan lokasinya.


Ardisa kembali menyapukan bedak ke wajahnya, lalu mengoleskan lip tint pada bibirnya.


Cantik. Ardisa memiliki kulit sawo matang, eksotis. Manis dan cantik. Dengan beberapa jerawat yang tak mampu di tutupi oleh make up nya.


Ardisa juga sering mengeluh kenapa wajahnya sering sekali berjerawat, padahal ia sudah memakai skin care yang lumayan menguras kantong dan ber BPOM.


Ardisa keluar kamar dan ingin meminta izin kepada om dan tantenya.


Ardisa menemukan Tantenya sedang berada di ruang tamu. Sedang bersantai sepertinya.


"Pagi, Tante."


"Eh, Dis. Mau kemana? Rapi banget tumben. Kan gk kekantor?."


"Iya, tan. Ini mau pergi."


"Ooh. Pergi sama siapa? Sama pacar kah?."


"Gk pacar kok, tan. Cuma temen."


"Tapi cowok kan. Hahaha ciyeee gercep juga yaa."


"Temen, tan. Baru kenal juga."


"Ya udah. Hati-hati yah. Jangan aneh-aneh. Di jemput apa gimana?."


"Iya, tan. Di jemput. Itu orangnya udah di depan gerbang."


"Oalah. Ya udah tante anterin. Mau ngomong juga sama dia. Bentaran aja."


Ardisa dan Tantenya keluar rumah menuju gerbang. Di sana sudah ada sebuah mobil dengan seorang laki-laki berada di dekat pintu mobil.


Fahri tersenyum melihat Ardisa. Cantik.


Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit, Fahri sudah sampai di depan gerbang rumah dari Om dan Tante Ardsia.


Tante Ardisa yang semula berada di samping Ardisa lantas berjalan menuju Fahri. Fahri tersenyum dan mencium tangan Tante Ardisa.


"Halo, tan."


Sapa Fahri sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Iya. Mau pergi yah. Tolong jagain keponakan tante yah. Jangan aneh-aneh ya kalian."


Fahri tertawa kecil, "Iya, tan. Gk akan aneh-aneh kok. Izin bawa keponakan tante yang cantik ini ya, tan."


"Hahaha iya, tante kasih izin. Ya udah sana. Hati-hati yah."


"Iya, tan. Disa pergi dulu ya, tan."


"Iya, iya. Sana cepet. Keburu siang. Panas hahahah."


Fahri membukakan pintu mobil untuk Ardisa. Ardisa tersenyum lalu masuk ke dalam mobil.


Disusul oleh Fahri yang langsung masuk ke dalam mobil. Setelah membunyikan klakson, Fahri langsung pergi menuju kafe brilian.


Suasana hening menyelimuti ke dua insan itu selama beberapa menit. Fahri lalu memanggil Ardisa dengan nada sedikit gugup.


"Ardisa, yah?."


Rasanya Ardisa ingin sekali tertawa. Ya iyalah Ardisa. Ya kali bukan, masa salah bawa orang.


"Iya, Ardisa. Kamu Fahri kan?."


Akhirnya Fahri dan Ardisa tertawa dengan pertanyaan yang dilontarkan masing-masing dari mereka. Masih terasa canggung. Jadi yaa seperti itulah.


"Apa kabar hari ini?."


Fahri bertanya dengan senyum manis di wajahnya.


Ardisa menjawab dan membalas pertanyaan Fahri dengan senyum yang tak kalah manisnya.


"Baik. Apalagi setelah liat senyum kamu."


Hiyaaaa. Ardisa merasa sedikit kurang nyaman dengan rayuan yang diberikan Fahri. Waah seperti bibit-bibit f*ck boy. Pikir Ardisa.


Ardisa lalu menggeleng pelan, menyingkirkan prasangka buruk yang ada pada dirinya tentang Fahri. Semoga tidak seperti itu. Pikirnya.


"Bisa aja kamu."


Ardisa menjawab sekenanya. Bingung harus seperti apa.


"Aku ngajak kamu jalan gk ada yg bakal marah, kan?."


"Engga kok. Kan tadi tante udah ngizinin."


"Hahahaha"


Fahri tertawa mendengar jawaban dari Ardisa. Maksud dari Fahri adalah barangkali Ardisa memiliki kekasih.


"Maksud aku, barangkali cowok kamu marah karena jalan sama aku."


"Ya enggak lah. Ya kali aku jalan sama cowok lain sedangkan aku sendiri punya pacar. Jahat banget keknya."

__ADS_1


Deg


Fahri sedikit tersentak dengan kata-kata yang baru saja Ardisa layangkan. Fahri memang tidak memiliki kekasih. Tapi, dia memiliki beberapa wanita yang sedang ia dekati. Ardisa salah satunya.


Alasannya, dia mendekati beberapa wanita hanya agar bisa memilih yang terbaik. Terbaik versi Fahri tentunya.


Sungguh bibit f*ck boy ternyata benar-benar ada pada diri Fahri.


"Hehe. Iya juga yah."


Setelah melaju selama 15 menit, akhirnya mereka sampai di kafe brilian.


Setelah memesan beberapa makanan, akhirnya mereka kembali melanjutkan obrolan mereka.


Ardsia sedikit nyaman ketika mengobrol dengan Fahri. Itu karena Fahri nyambung ketika diajak berbicara. Meskipun hanya berbicara masalah pekerjaan masing-masing, tapi setidaknya ada hal-hal yang bisa dibicarakan.


Fahri juga merasa nyaman ketika mengobrol dengan Ardisa. Apalagi Ardisa memiliki senyum yang manis dan wajah yang cantik. Meskipun sebenarnya Ardisa tdiak memenuhi standar wanita cantik menurutnya. Fahri memiliki standar kecantikan dengan kulit putih bersih.


Standar kecantikan orang memang berbeda-beda. Karena itu relatif.


Kamu cantik di mata orang orang yang tepat. Jadi, tidak usah insecure.


"Kamu udah berapa lama kerja di kantor bareng kak Erin?."


"Udah 5 tahunan keknya."


"Oo gitu yah."


"Iya."


Suasanya kembali hening.


Beberapa saat kemudian, makanan yang mereka pesan telah datang.


Fahri dan Ardisa makan dengan tenang dengan sesekali mengobrol dan tertawa kecil.


Setelah makan dan mengobrol, Ardisa lalu diantar pulang oleh Fahri.


Fahri tentu tidak enak jika harus mengajak Ardisa pergi terlalu lama, apalagi mereka baru kenal dan baru sekali ini pergi bersama.


Setelah berada di depan gerbang rumah Tante dari Ardisa, Ardisa mengajak Fahri untuk mampir. Namun Fahri menolaknya, karena dia ada urusan, katanya. Dia hanya menitipkan salam kepada om dan tante Ardisa.


Fahri membukakan pintu untuk Ardisa, lalu Ardisa keluar dari mobil Fahri.


"Ya udah masuk ya. Aku mau langsung pergi soalnya. Sampein maaf aku ke om tante ya karena gk bisa mampir."


"Iya. Ya udah aku masuk dulu ya."


Ardisa tersenyum lalu pergi menuju gerbang rumah tantenya.


Fahri melihat punggung Ardisa sampai ia masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Fahri akhirnya pergi dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya.


__ADS_2