
Setelah drama nomor kontak Ardisa yang Tantenya berikan kepada anak buahnya, Ardisa masih merasa lega. Ia lega karena laki-laki itu tidak mengiriminya pesan, atau mungkin belum.
Pagi ini dia membuka aplikasi WhatsApp nya dan tidak ada chat dari nomor tak dikenal.
Hanya ada chat dari Fahri.
Fahri
Pagi ππ
Cie ada yang ngucapin selamat pagi. -Batin Ardisa.
Terlalu lama menjomblo membuatnya terheran-heran ketika mendapat chat ucapan selamat pagi.
^^^^^^Ardisa^^^^^^
^^^Pagi juga^^^
Fahri
Semangat kerjanya..
Jangan lupa sarapanπ
^^^Ardisa^^^
^^^Iya. Kamu juga yah^^^
Fahri
Sipπ
Hanya sebatas itu. Ardisa masih bingung bagaimana membalas chat dari laki-laki. Rasanya awkward sekali pikirnya.
Ardisa menyimpan ponselnya ke dalam tasnya. Dia pergi ke dapur untuk sarapan.
Saat di dapur dia bertemu dengan tantenya yang juga akan sarapan.
"Gimana Dis, udah chat belum anaknya?".
Ardisa memutar bola matanya jengah. Masih pagi sudah ditanya seperti itu, pikirnya.
"Belum, tante."
"Sibuk mungkin dianya hehe."
Ardisa menjawab sekenanya. Dia masih malas jika harus meladeni laki-laki yang Tantenya pilihkan. Bosan sekali. Sudah lebih dari tiga kali dia di comblangkan seperti itu, tapi hasilnya nihil. Karena bukan jodohnya ye kan.
"Halah dia ini. Dia tu anaknya pemalu banget, Dis. Baik anaknya tu. Semoga kalian jodoh lah ya. Nanti biar tante bilangin ke dia biar gk usah malu-malu buat nge-chat kamu.
eh buset. gk gitu juga kali tan. kok kesannya jadi aku yang ngarepin dia sih. -Tentu saja itu hanya mampu dia ucapkan dalam hati. Mana berani Ardisa berbicara seperti itu kepada tantenya.
"Iya, tan. Kali aja jodoh kan kita gk tau hehe."
"Sarapan dulu sini. Biar gk kena magh kamu."
"Iya, tan. Ini Disa mau sarapan kok."
Sarapan dilakukan dengan tenang. Hanya sedikit obrolan tentang kelakuan dari keponakan Ardsia, alias anak dari Om-Tantenya yang susah untuk belajar.
*****
Suasana di kantor masih sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang baru masuk ke kantor.
Ardisa membuka komputer di mejanya. Dia ingin memulai pekerjaannya agar saat istirahat makan siang dia bisa sedikit santai.
Kawan-kawannya pun mulai berdatangan.
"Pagi kak Disa."
__ADS_1
Suara lantang dengan senyum cerah itu berasal dari Dita. Dita satu ruangan dengan Ardisa. Karena itulah, mereka akrab.
"Pagi, Dit."
"Eh kak, gimana, udah dapat chat dari adeknya kak Erin?."
"Hih. Kepo banget si kamu."
"Kan pengen tau kak. Pengen cepet-cepet liat kak Disa nikah tau heheh."
"Nanti kalo udah saatnya, pasti nikah kok. Tenang tenang."
"Hmm iye lah tu."
Ardisa sering bingung ketika mendapat pertanyaan dan tekanan tentang menikah.
Dia juga ingin sekali untuk segera menikah. Apalagi usianya yang sudah 28 tahun.
"Dah lah. Kerja dulu. Nggosipnya nanti kalo pas istirahat. Canda doang eh gk boleh nggosip. Berdossaaa."
"Dasar kamu. Yang suka bawa-bawa berita terus dikasih bumbu juga kamu, Dit."
"Hahahahah iya kak iya. Iyain aja biar cepet."
Setelah itu mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
****
Jam makan siang telah tiba. Dikantin, Ardisa dan Dita bertemu dengan Kak Erin. Mereka mengobrol dan sedikit menyinggung tentang Fahri.
"Gimana, Dis. Fahri udah nge-chat kamu belum?."
"Iya udah kak."
"Gimana gimana. Asik kan orangnya?."
"Iya gitu lah kak hehe. Mungkin karena masih baru kenal jadi agak awkward gitu."
"Iya kak. Ini juga lagi dijalanin dulu. Baru kenal juga kan."
"Iya, semangat yah kalian. Moga aja bener-bener jodoh deh."
"Hehe iya kak."
"Eh btw. Tau gk si. Pak Badrun, si boss kita itu. Dia kek pilih kasih gk sih sama si anak baru. Mentang-mentang cantik ye kan." Gerutu Dita
"Perasaan tadi pagi siapa yah yg bilang kalo nggosip itu Berdosaaa. Kok sekarang malah bawa gosip gitu."
"Heheheh. Jangan gitu lah Kak. Hilaf bentar kan gk papa."
"Hilaf kok sadar. Yang namanya hilaf tu ya pas gk sadar lah, Dit." Sambung Erin
"Eh tapi iya sih. Pak Badrun kek apakali sama si anak baru itu. Apalagi dianya juga kek caper gitu."
Ardsia hanya diam dan tidak menanggapi obrolan mereka. Walaupun dia sebenarnya juga sedikit kesal dengan kelakuan boss nya itu. Karena dia pernah melihat sendiri apa yang dikatakan oleh Dita.
Makan siang mereka diisi dengan obrolan-obrolan gosip dan juga kisah rumah tangga mereka.
Ardisa hanya menyimak saja. Hitung-hitung bisa buat bekal nanti kalau dia sudah berumah tangga.
****
Ting
Ada pesan dari WhatsApp.
Ardisa lalu membuka aplikasi tersebut dan melihat ada pesan dari Fahri.
Fahri
__ADS_1
Sore..
Baru pulang kerja yahπ
Ardisa membaca pesan dari Fahri. Dia terkikik geli karena selalu menemukan emotikon π di setiap chatnya. Receh sekali hidupnya. Gitu aja bisa bikin ngakak.
^^^Ardisa^^^
^^^Iya ini baru sampai rumah^^^
Fahri
Weekend ada waktu gk. Pengen kenal kamu lebih intens lagi ππ
Ardisa menghela nafasnya. Apakah ini tidak terlalu cepat pikirnya. Mereka baru beberapa kali mengirim pesan, dan sekarang dia begitu agresif, meminta untuk langsung bertemu.
Ardsia masih sedikit trauma untuk menjalin hubungan dengan laki-laki lagi. Dia masih trauma karena hubungannya dengan salah satu mantannya sudah sampai di tahap serius. Tetapi karena keegoisan masing-masing, hubungan mereka yang sudah bertahan 2 tahun harus kandas dalam waktu semalam.
Fahri
Kamu masih bingung yah. Gk papa. Mungkin lain waktu kamu bisa.
Kita juga baru kenal kok.
Sans ajaππ
Ardisa membaca chat dari Fahri. Fahri seperti bisa melihat kebimbangan yang ada pada diri Ardsia.
^^^Ardsia^^^
^^^Kayaknya weekend aku ada waktu kok^^^
Akhirnya Ardisa membalas pesan Fahri. Dia lebih memilih untuk langsung bertemu saja. Agar tidak buang-buang waktu. Pikirnya
Fahri
Oke, makasih ya..
Hari Sabtu aku jemput kamu aja..
Kamu mau kan?
^^^Ardsia^^^
^^^Apa gk ngerepotin kamu kalo di jemput? Aku bisa kok kesana sendiri^^^
Fahri
Enggak kok. Kamu santai aja..
Kamu pilih aja tempatnya dimana ya..
π
^^^Ardisa^^^
^^^Oke kalo gk ngerepotin kamu^^^
Fahri
Iyaπ
^^^Ardisa^^^
^^^Di kafe brilian aja, gimana?^^^
Fahri
Oke
__ADS_1
Sampai jumpa besok yaπ
Ardisa meletakkan ponselnya. Dia tak lagi membalas pesan dari Fahri. Dia merebahkan dirinya sambil berfikir, apakah ini sudah benar. Apakah tidak terlalu cepat. Dia masih takut untuk membuka hati.