
Ini sudah 1 bulan lamanya setelah percakapan antara Ardisa dan Tantenya.
Dan Ardisa sekarang sudah mendapatkan titik terang antara hubungan kedekatannya dengan Fahri.
Sudah 2 minggu ini, Fahri tidak mengirimi dia pesan ataupun telfon, apalagi mengajaknya pergi jalan.
Ardisa tidak mengerti dengan perubahan sikap Fahri. Baru 2 minggu yang lalu Fahri mengajaknya menonton bioskop bersama, dan masih berbalas pesan seperti biasa. Tetapi sekarang Fahri bahkan seperti hilang ditelan bumi.
Mustahil jika Ardisa tidak mulai memiliki rasa kepada Fahri. Selama ini, perhatian Fahri benar-benar telah berhasil untuk membuatnya membuka hatinya secara perlahan. Walaupun tidak dapat dipungkiri jika hal ini akan terjadi.
Ardisa sudah menyiapkan hatinya jika Fahri benar-benar hanya mempermainkannya.
Tak masalah baginya, setidaknya hubungannya belum terlalu jauh. Pikirnya.
Walaupun pasti ada sedikit rasa sesak karena waktu beberapa bulan ini yang ia luangkan untuk hubungannya dengan Fahri hanya sia-sia belaka.
"Huftt."
Ardisa menghela nafas berat. Pekerjaan kantornya sedikit menguras otaknya, ditambah lagi dengan perlakuan Fahri akhir-akhir ini. Benar-benar membuat moodnya buruk.
"Capek banget ya, kak? Istirahat dulu aja kak."
Itu adalah perkataan dari Dita. Ardisa melihat ke arah Dita dan tersenyum.
"Iya capek juga yah. Pengen istirahat tapi nanti gak selesai-selesai nih kerjaan."
"Iya kak. Kerjaan lagi banyak. Honorer pasti yang kerja rodi. Yuh bisa yuh. Ngopi dulu."
"Mana gaji gak seberapa ehehehe. Canda elaah ngeluh mulu perasaan deh kita. Hiks hiks banget."
"T-ttaapi bener kan gaji kita emang gk seberapa."
__ADS_1
Dita menjawab dengan suara dibuat terbata-bata. Ardisa terbahak melihat kelakuan Dita. Sungguh jika sedang seperti ini, Ardisa tidak percaya kalau Dita adalah seorang ibu satu anak.
......***......
Waktu istirahat makan siang telah datang. Ardisa dan Dita pergi ke kantin bersama-sama.
Ardisa melihat Erin. Ardisa tersenyum kepada Erin, namun Erin malah membuang mukanya, mencoba menghindari kontak mata dengan Ardisa.
Ardisa bingung dengan sikap Erin hari ini. Tidak biasanya ia bersikap seperti itu. Biasanya Erin akan menyapa Ardisa jika bertemu. Hal itu membuat Ardisa bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa ia merasa kalau Erin sedang menghindarinya.
Dita yang melihat Erin, Merlinda, dan Vira berada di meja kantin dan masih ada tempat kosong disana, langsung menarik tangan Ardisa. Ardisa yang masih bingung dengan sikap Erin hanya tersentak ketika Dita menariknya ke arah meja Erin.
"Hai kakak kakak cans. Kita boleh gabung kan. Pasti boleh dong."
Dita berucap heboh ketika sampai di meja mereka. Merlinda dan Vira tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sedangkan Erin terlihat sedikit gugup dan tidak menjawab ucapan dari Dita.
"Kalian pesen makanan dulu gih. Keknya muka-muka kalian lagi laper berat nih hahaha."
"Hahaha tau aja kak Mer kalo kita lagi laper. Kak Disa mau pesen apa, biar sekalian Dita pesenin deh."
"Samain aja sama punya kamu, Dit. Minumnya Es Teh manis ya."
"Ok. Bentar, kak."
Dita berlalu untuk memesan makanan mereka. Setelah 5 menit ia kembali. Mereka harus menunggu sekitar 15 menit agar bu kantin menyiapkan makanan pesanan mereka.
"Rin, Fahri katanya mau nikah ya. Kirain nikahnya sama Ardisa. Kan dari kemarin keknya kamu semangat banget mau njodohin mereka."
Deg
Tentu saja Ardisa terkejut dengan pernyataan dari Merlinda. Bagaimana bisa Fahri akan segera menikah, sedangkan beberapa waktu ini mereka sudah sangat dekat, meskipun belum ada status resmi diantara mereka.
__ADS_1
Erin terkejut dan membulatkan matanya ketika mendengar pernyataan dari Merlinda. Erin sebenarnya sedang menghindari Ardisa karena masalah ini. Ya, Fahri memutuskan untuk menikahi gebetannya. Erin juga terkejut dengan ucapan Fahri jika ia ingin menikahi wanita lain.
Bagaimana tidak, selama ini Fahri sering jalan berdua dengan Ardisa, dan hubungan keduanya sudah sangat dekat, lalu kenapa ia malah meikahi wanita lain?
Ternyata selama ini Fahri selain mendekati Ardisa, ia juga mendekati beberapa wanita lainnya. Kurang ajar memang. Setelah memberi harapan kepada wanita lain, ia malah meninggalkannya begitu saja. Bahkan tanpa sepatah katapun.
"Iya. Dia mau nikah sama temen kuliahnya dulu katanya."
Erin menjawab dengan sedikit gugup. Hal itupun langsung mengejutkan Ardisa. Ternyata inilah alasan kenapa selama satu bulan ini Fahri hilang tanpa jejak. Tidak pernah mengirim pesan, menelpon, ataupun terlihat membuat story di WhatsApp. Ah Ardisa baru sadar. Mungkin saja selama 2 minggu ini nomor kontaknya sudah Fahri blokir. Karena itulah keberadaan Fahri seperti benar-benar hilang ditelan bumi.
Ardisa kecewa dengan kelakuan Fahri. Fahri benar-benar telah mempermainkannya. Tapi itu juga tidak sepenuhnya salah Fahri karena disini Ardisa juga sudah terlalu berharap kepadanya.
"Lah nikah sama temen kuliahnya? Ku kira dia dekat sama kak Disa deh. Kenapa nikahnya sama orang lain?"
Dita sedikit jengkel mendengar pernyataan dari Erin. Dia merasa bahwa Fahri telah mempermainkan hati Ardisa. Keterlaluan sekali pikirnya.
"Mungkin kami emang belum jodoh, Dit."
Ardisa menimpali pertanyaan Dita dengan sedikit tersenyum. Biar bagaimanapun juga, hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Misi neng ini makanannya"
Ucap bu Sari. Ia mengantarkan sendiri makanan yang dipesan oleh Dita.
"Iya makasih, bu."
Ucap Ardisa dan Dita berbarengan.
Untuk melarutkan sedikit rasa sakitnya, akhirnya Ardisa hanya fokus makan dan tidak ikut mengobrol dengan mereka. Ia masih terkejut dengan kenyataan yang baru saja ia terima.
Setelah membuka hatinya, ia malah merasakan sakit hati lagi.
__ADS_1
Mengenaskan sekali, pikirnya.