
Happy reading
"Mas yakin mau minta hak mas saat ini?" tanya Shena pada Varo.
Tubuh keduanya kini polos karena baru saja selesai mandi. Varo yang sedang menatapnya sayu itu sontak mengangguk tapi entah kenapa Varo yang tadinya berada di atas tubuh Shena kini mulai membaringkan badannya di samping Shena.
"Kalau kamu belum siap, Mas bisa tahan kok. Walau nanti tetap aja aku nakal," jawab Varo meletakkan tangannya di atas dada Shena. Dan Shena mati matian untuk tidak menatap ke arah bawah.
"Kenapa sih matanya, mau banget lihat ke bawah? Lihat aja sayang, udah halal kok," bisiknya dengan pelan.
"Mas jangan gitu malu."
"Jadi gimana?"
"Terserah Mas Varo, Shena nurut aja. Lagian kita sudah bukan anak ABG lagi yang harus takut begituan, Shen juga bukan anak alim yang gak tahu begituan."
"Kalau Mas mau malam ini?"
"Silahkan."
Sungguh jawaban Shena membuat Varo seneng bukan main. Karena apa, akhirnya ia bisa minum susu lagi.
Sedikit cerita, Varo hanya minum susu lagi tadi karena setelah itu kedua keluarga mereka melarang keduanya untuk bertemu hingga ijab kabul di malam hari. Mereka juga tak diperbolehkan untuk bekerja, karena mereka harus menyiapkan segala keperluan menikah mereka.
Dengan lembut Varo mulai mengecup bibir kenyal itu yang kali ini di balas oleh Shena. Shena sudah tak canggung seperti dulu lagi, tangan Shena kini sudah berada di leher Varo yang sedang mencumb**ya.
Ciuman Varo pun kini mulai turun ke area leher Shena hingga membuat gadis berusia 29 tahun itu mend esah tertahan.
"Ahh Mashh."
Varo yang mendengar itu malah semakin bersemangat hingga kini ke menu utama mereka sebagai seorang pengantin.
"Siap sayang?"
__ADS_1
"Hmm."
"Kalau sakit kamu boleh cakal, gigit atau pukul aku hmm. Tapi jangan minta aku untuk berhenti," bisiknya dan dianggukkan oleh Shena.
Varo mencium bibir Shena dengan lembut, kemudian ia menuntun pedangnya untuk masuk. Satu kata yang bisa di ungkapkan Varo saat ini. Sulit.
"Rileks hmmm."
Seraya menikmati ciuman yang diciptakan Varo, Shena kini mulai pasrah dengan apa yang akan dilakukan Varo.
Jlep
"Ahh."
Bersamaan dengan itu cairan berwarna merah itu keluar hingga membuat Shena meringis. Mereka sudah menjadi satu malam ini, malam yang ditunggu tunggu oleh setiap pasangan suami istri.
Cups
"Love you sayang."
Akhirnya Varo mulai melajukan tubuhnya hingga membuat wanita itu yang tadinya meringis menjadi menikmati setiap apa yang dilakukan Varo.
Setelah berberapa saat berpacu untuk mengeluarkan cebong cebong di rahim Shena. Akhirnya cebong itu keluar yang membuat Shena dan Varo lemas.
"Terima kasih sudah menjaganya untuk, Mas."
"Udah jadi kewajiban aku kan?"
Tangan lentik Shena menyentuh pipi Varo yang mulai ditumbuhi bulu bulu halus.
"Terima kasih juga sudah mau menerima perawan tua seperti Shena."
Varo tak menjawab tapi ia malah membalik tubuh Shena hingga kini wanita itu berada di atas tubuh Varo.
__ADS_1
"Mas."
"Aku mau kamu yang gerak."
"Gak bisa ih, aku capek mau bobo."
"Ya sudah kalau begitu, kita bobo dengan posisi seperti ini aja," jawab Varo yang sebenarnya masih lemas tapi ia juga masih menginginkan hal ini lagi.
"Gak nyaman Mas, ada yang ganjel."
"Dinyamanin aja ya."
Shena tak bisa terus ada di atas tubuh sang suami, ia mulai bergerak keluar dari tusukan itu.
Dan akhirnya Shena berhasil, tapi hal itu juga membuat Shena meringis karena ada sesuatu yang lain dari tubuhnya.
"Mas udah bobok?"
"Hampir sayang, tapi pedang Mas malah gak mau bobok," bisiknya dengan pelan.
Shen yang sudah berbaring di samping Varo itu malah menarik selimut tebal itu untuk menutupi tubuh mereka.
Jlep
"Mas kenapa dimasukin lagi, aku capek."
"Biar hangat sayang, di luar dingin."
Shena menatap Varo tak percaya, tapi apa boleh buat tenaganya sudah terkuras habis saat ini. Entahlah besok ia masih bisa bangun atau tidak.
Dengan menahan rasa geli dan tak nyama akhirnya, Shena terlelap sedangkan Varo kini malah menyu** di dada Shena hingga terlelap.
Bersambung
__ADS_1
Sebelum puasa ya.