
Happy reading
"Bismillah dengan menyebut nama Allah dan atas restu Bunda dan Ayah, aku Shena Putri Adeliana menerima dirimu Alvaro Nendra Alfarizqi sebagai calon suamiku," jawab Shena yang membuat mereka lega.
Shena sendiri menyontek kata kata kakak iparnya dulu saat dilamar oleh sang kakak.
"Alhamdulillah."
Varo yang mendapat balasan atas lamarannya itu menyinggungkan senyum manisnya. Ia tak lagi bisa menyembunyikan rasa yang membuncah dalam dadanya. Ingin sekali ia memeluk tubuh Shena tapi ia tak bisa melakukannya sekarang karena masih ada banyak orang.
Mama membawakan kotak bludru berwarna merah ke hadapan mereka. Mereka meminta untuk kedua anak ini menyematkan cincin mewah itu ke jari masing masing sebagai pertanda Varo sudah mengikat Shena.
Senyum kedua keluarga juga tak bisa hilang begitu saja. Apalagi tak lama lagi kedua keluarga ini akan bersatu dengan adanya pernikahan ini.
Dulu Ayah Andra hanya ingin anaknya dan Varo bertemu. Syukur jika mereka saling suka, tapi ia juga sudah berjanji jika nanti Shena tak menerima Varo. Sebagai orang tua Ayah dan Bunda juga tak bisa memaksa.
*****
Jarum panjang di jam dinding itu berlalu begitu saja tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Para tamu undangan yang datang juga sudah pulang setelah memberikan selamat untuk kedua anak manusia itu.
Berbeda dengan para keluarga yang sedang berkumpul di dalam rumah membicarakan tentang pernikahan Varo dan Shena.
Kini yang menjadi objek pembicaraan itu kini sedang berada di kolam dengan jas Varo yang sudah membalut tubuh Shena.
"Mas pasti mau modus kan?"
"Tahu aja, yank."
Shena yang mendapat panggilan yank dari Varo itu tiba tiba menggembungkan senyum manisnya. Sedangkan Varo yang gemas itu langsung mengecup pipi merah itu.
"Gak boleh sekarang, lagi banyak orang. Nanti ada yang lihat gimana?" tanya Shena dengan takut jika nanti ada yang tahu.
"Gak akan ada yang tahu, sayang. Tuh lihat semua orang lagi bahas pernikahan kita," ujar Varo dengan pelan menujuk ruang tamu.
Senam menatap ke arah ruang tamu yang menunjukkan keluarganya dan keluarga Varo sedang berbincang mengenai pernikahannya dengan Varo.
__ADS_1
"Jangan disini," ujar Shena membawa Varo ke sebuah rumah kaca yang ada di dekat kolam. Untungnya jika malam, rumah kaca itu tidak terlalu nampak dari luar.
Sampainya keduanya di rumah kaca, Sena membawa karung ke kursi yang ada di rumah kaca. Bangun rumah yang lebarnya hanya 4×3 meter itu hanya ada berberapa perabotan. Satu kursi dan satu meja serta banyak buku-buku dan foto di rumah kaca itu.
Varo yang baru tiba di rumah kaca itu terkesima melihat rumah kaca yang sangat rapi dan bersih itu.
"Ini rumah kaca sudah lama, Ayah buat untuk aku dan kakak kakak setelah berenang kolam. Tapi sekarang sudah jarang digunakan. Aku sengaja nyuruh bibi buat bersihkan rumah kaca ini setiap hari agar tetap bersih dan terawat," ujar Shena yang kini sudah berada di atas pangkuan Varo.
Baru yang tadinya sedang mengamati sekitar kini beralih mengamati Shena yang berada di atas pangkuannya itu. Kenapa Shena menjadi agresif saat ini, biasanya gadis berusia 29 itu akan malu-malu jika meminta sesuatu hal yang pribadi.
"Mas suka?"
"Suka sayang, apalagi ini."
Tangan Varo meremat buah dada Shena yang ada di depan matanya. Varo bisa merasakan jika ada milik Shena itu sudah banyak menampung ASI.
"Puk puk ya," ujar Varo membuka pengait gaun itu.
"Tumben manja."
"Kan biasanya juga gitu, ini mumpung gak ada orang. Aku berani gini," jawab Varo menarik pinggang Shena.
"Kamu bahagia gak lamaran kamu tadi aku terima?" tanya Shena dengan senyumnya. Tangannya ia gunakan untuk mengelus rambut Varo yang halus dan juga wangi itu.
Varo yang sudah memulai aktivitasnya itu langsung menghentikan hisapannya, kemudian melepaskanh bulatan itu.
Plup
"Aku sangat bahagia, bahkan rasanya aku ingin segera menikahimu," jawab Varo memainkan bulatan itu.
"Ahh Mas jangan dimainin gitu," ujar Shena dengan ringisan yang lebih terdengar sebagai desa han.
"Sengaja mau goda Mas ya sayang? Suara kamu sangat indah saat mende sah tadi," ujar Varo kembali memasukkan buah itu ke mulutnya.
Shena bukan bermaksud untuk menggoda Varo tapi yang dilakukan Varo membuat Shena tak sadar mengeluarkan suara yang memalukan itu.
__ADS_1
Akhirnya mereka menghabiskan waktu yang mereka punya untuk bermanja manja. Varo sudah menyelesaikan aktivitasnya ini giliran Shena yang harus dimanja oleh Varo.
Gadis itu kini berada sudah menyandarkan kepalanya di dada bidang laki laki yang sebentar lagi menjadi suaminya itu. Bajunya sudah kembali seperti tadi. Mereka masih ingin menghabiskan waktu bersama sebelum besok mereka harus kembali dengan aktivitas semula.
*****
"Ahh kenapa kamu pintar sekali sih?" tanya Gazi pada Bunga yang sedang memanjakan pedangnya.
"Gara gara kamu juga, aku gak akan kayak gini kalau gak sama kamu," ujar Bunga mengelap tangannya yang penuh dengan cairan itu.
Setelah membersihkan tangannya bunga naik ke atas kasur empuk itu dan memeluk tubuh Gazi dari samping. Sedangkan laki laki itu kembali memakai boxer miliknya dan menarik tali handuk kimono milik Bunga.
"Shitt ternyata kamu masih pakai baju?" tanya Gazi dan dijawab cengiran oleh Bunga.
"No se* before married."
"Ihh padahal cuma mau tusuk tusuk aja."
"No no no."
"Katanya masih mau jadi dokter. Kita bakal jadi dokter sama sama hmm."
Bunga dan Gazi memang tak sepolos yang dibayangkan orang tuanya. Bahkan tanpa mereka tahu Gazi sudah mampu membeli apartemen sendiri.
Apartemen yang biasa digunakan untuk dia dan bunga lakukan berdiskusi tentang apa yang terjadi. Bahkan tak jarang apartemen ini menjadi saksi bisu pertengkaran mereka berdua. Tapi akhirnya keduanya selalu rukun kembali.
"Yank, aku takut kalau orang tua kita tahu apa yang sudah kita lakukan," ujar Bunga memainkan cincin yang ada di jari sang kekasih.
"Kenapa takut, paling kalau kita ketahuan pernah tidur bareng bahkan kamu sudah pernah memanjakan pedangku mereka pasti akan menikahkan kita," jawab Gazi dengan santainya.
"Ihh kamu mah."
"Emm bukannya hari ini, kak Shena lamaran ya?" tanya Bunga menatap mata Gazi.
"Emm aku sudah mengatakan pada kak Shena jika aku sedang berada di apartemen. Dan dia paham," ujar Gazi dengan lembut mengecup kening Bunga.
__ADS_1
Yah yang mengetahui jika Bunga dan Gazi selalu berdua seperti ini adalah Shena. Kakak perempuan satu satunya Gazi itu tak sengaja melihat Gazi dan bunga di sebuah apartemen. Dan yah akhirnya Shena tahu. Tapi tenang rahasia mereka aman bersama Shena.
Bersambung