
Happy reading
Shena yang sudah berganti baju tidur itu langsung melakukan ritual skincare. Ritual rutin yang membuat kulit wajah Shena tampak awet muda hingga saat ini.
"Udah gak sakit kayak biasanya, apa gara gara udah dihabisin sama Mas Varo tadi ya?" tanya Shena dalam hati.
Biasanya di jam jam segini, Shena kerap sekali merasakan dadanya sakit karena terlalu banyak menampung ASI.
Setelah selesai melakukan ritual malamnya, Shena berjalan menuju kasur empuk miliknya. Seperti malam malam sebelumnya, Shena lebih dahulu mengecek email email yang masuk dari butik miliknya.
"Alhamdulillah makin banyak keuntungan yang di dapat bulan ini udah 40% dari bulan lalu. Semoga bulan bulan kedepannya terus begini," gumam Shena tersenyum saat melihat angka yang masuk dalam ponselnya.
Karena sudah merasa mengantuk, Shena memutuskan untuk menutup layar ponselnya dan tidur.
"Selamat beristirahat diriku sendiri."
Ditariknya selimut itu hingga dada kemudian memejamkan matanya.
***
Kini jam sudah menunjukan pukul 5 pagi, Shena yang sudah bangun karena alarm ponselnya sudah berbunyi itu mulai berjalan menuju kamar mandi. Seperti biasanya kedua dadanya sudah sangat keras karena menampung air susunya.
Mandinya kali ini juga tergolong sangat singkat karena ia tak kuat menahan rasa sakit di dadanya yang makin lama makin sakit.
Hanya memakai handuk kimono saja, Shena langsung keluar dari kamar mandi kemudian mengambil pompa ASI yang ada di laci meja riasnya.
"Ahh rasanya kayak ada yang kurang gitu," gumamnya seraya memompa ASI itu.
Cukup lama memang jika dengan alat tapi mau gimana lagi. Mau minta bantuan Varo juga gak mungkin. Ia tak tahu dimana kamar laki laki itu.
Setalah tiga botol ia dapatkan, Shena menyudahi aktifitasnya. Kemudian ia berjalan menuju walk in closed dan mengambil baju kerjanya.
Sebenarnya Shena ini mau kerja atau mau apa, pakaiannya ini kelewat santai. Hanya celana kulot panjang dipadukan dengan kaos putih dan long outer.
Sederhana memang tapi Shena kini lebih modis dan sangat manis jika berpakaian seperti ini. Ia memasukkan tiga botol susu itu ke dalam tasnya kemudian ia membawanya turun ke lantai bawah.
__ADS_1
Di bawah ternyata masih ada Bunda, Mama Sindi, dan Kak Laila. Sedangkan ia tak melihat keberadaan kakak ipar tertuanya disana.
"Loh tumben kak Nindi gak ada, Bun?" tanya Shena meletakkan tasnya di kursinya.
"Kakak ipar kamu tadi malam langsung pulang katanya ngidam pingin makan es buah yang ada di dekat rumahnya," jawab Bunda Nada menyajikan makanan di atas meja.
"Ohh."
"Kamu sudah mau berangkat kerja sayang?" tanya Mama Sindi pada Shena, tampilan sederhana. Seperti anak kuliahan jika dilihat lihat, pasti jika Shena dan Varo jalan bersama dikira adik kakak.
"Iya Ma. Lagian hari ini gak ada janji sama siapa siapa, jadi Shena mau santai santai aja di butik," jawabnya dengan senyum manisnya.
Shena membantu menata makanan di atas meja kemudian ia disuruh untuk membangunkan Varo yang ada di kamar. Awalnya Shena tak mau tapi akibat desakan Bunda Dena dan Mama Sindi akhirnya Shena mau memanggil Varo. Katanya untuk simulasi jadi istri saat panggil suami. Tapi bagi Shena ini bagaikan melemparkan dirinya ke lubang buaya.
Dengan ragu Shena mulai mengetuk pintu kayu itu. Belum ada 1 menit setelah diketuk pintu itu.
Ceklek
Tangannya di tarik ke dalam kamar, ternyata Varo sudah bangun dengan pakaian yang ternyata juga sudah rapi dengan kemeja maroon dan juga celana yang senada.
"Mas sengaja banget ya gak kancingin kemeja?" tanya Shena mengancingkan 3 kancing kemeja Varo.
Tangannya sudah berada di pinggang ramping Shena, sedangkan Shena berusaha melepaskan tangan Varo. Ia tak nyaman dengan posisi seperti ini.
"Mas mau nyusu?"
Mendengar pertanyaan Shena itu, Varo sontak langsung mengangguk. Tentu saja jika di tawari dengan minuman kesukaannya pasti ia langsung mau. Apalagi ia tak membawa susu kotak yang biasa ia bawa.
"Aku udah pompa ASI, tapi sekarang ada di tas. Nanti pas kita berangkat baru aku kasih. Sekarang kita turun sarapan ya," ajak Shena menata dasi yang belum terpasang sempurna disana.
"Kok udah dipompa sih?" tanya Varo dengan cemberut. Ia lebih suka minum langsung dari sumbernya daripada botol.
Karena rasanya memang beda, meskipun masih sama sama manis tapi tetap saja ia suka jika langsung dari sumbernya.
"Kenapa? Aku gak tahan kamu nunggu sampai kita berangkat kerja," jawab Shena menepuk dada Varo dengan pelan.
__ADS_1
"Ya sudah deh, ayo turun dan sarapan."
Shena menangguk kemudian ia berjalan terlebih dahulu daripada Varo yang masih menyemprotkan parfum agar bau badannya tetap segar.
Varo menyusul Shena yang menunggunya di depan lift ke bawah. Kemudian Varo memeluk tubuh sang kekasih dari belakang.
"Nanti makan siang bareng yuk," ajak Varo yang masih menunggu lift terbuka.
"Nanti siang, dimana?" tanya Shena dengan lembut. Gadis itu juga menikmati pelukan Varo di pinggangnya dan juga ciuman Varo di lehernya.
"Mashh Varo."
"Hmmm."
"Udah ih nanti ada yang lihat," ucap Shena pada Varo.
Tak mungkin ada yang melihat mereka pikir Varo, karena di lantai itu hanya ada dua kamar yaitu kamar Shena dan kamar yang digunakan Varo tadi malam.
"Gak ada yang lihat sayang. Udah tunggu aja liftnya buka," jawab Varo masih saja menggerayangi perut Shena dan juga dada gadis itu.
"Mas belum jawab pertanyaan aku tadi loh. Nanti siang makan dimana?" tanya Shena pada Arka.
"Nanti aku jemput aja sayang, terus kita berangkat bareng," jawab Varo.
"Aku tunggu di butik ya, sekalian mau beli sesuatu di luar," ujar Shena dengan senyum.
"Mau beli apa?" tanya Varo yang mulai kepo.
"Ada deh kamu kepo banget sih."
"Ya sudah terserah kamu aja yang penting kamu seneng," ujar Varo.
Mereka terus berbincang dengan Shena yang menatap belakang sedangkan Varo menarik pinggang Shena kemudian mengecup wajah manis Shena.
Tanpa mereka sadari jika ada berberapa pasang mata yang melihat ke arah mereka dengan tatapan beda beda.
__ADS_1
Brak
Bersambung