
Setelah pertemuan Ardisa dan Fahri, hubungan keduanya menjadi semakin dekat. Mereka bahkan sering jalan bersama untuk sekedar makan maupun nonton bioskop.
Kedekatan itulah yang membuat Erin, kakak dari Fahri bahagia. Erin pikir, setidaknya Fahri sudah menjalin hubungan yang serius dengan seorang wanita saja.
"Gas pol terus nih ye hubungannya. Yuk bisa yuk sampai pelaminan."
Erin terkekeh geli saat mengucapkan kalimat tersebut. Saat ini mereka sedang berada di kantin untuk makan siang.
Ardisa tersenyum menanggapi kalimat yang dilontarkan oleh Erin. Sejauh ini ia merasa nyaman dengan kehadiran Fahri. Meskipun ia masih tetap cuek dan tidak seagresif Fahri.
"Cie ciee Kak Disa bulshing. Hahaha."
Dita pun tidak mau kalah untuk menggoda Ardisa. Pipi Ardisa memerah karena malu.
"Dis, kalian sebenernya udah jadian belum sih?."
Deg
Ardisa sedikit kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Erin.
Ia dan Fahri memang belum jadian. Mereka memang dekat, bahkan Fahri selalu memberi perhatian kepada Ardisa, tapi Fahri bahkan belum pernah menyatakan perasaannya kepada Ardisa, apalagi menembaknya.
Ardisa tersenyum, lalu menanggapi pertanyaan dari Erin.
"Belum jadian kak. Mungkin masih mau mengenal lebih jauh dulu."
Erin tersenyum getir mendengar jawaban dari Ardisa.
Apakah ini seperti yang ia pikirkan selama ini? Bahwa Fahri hanya berniat bermain-main dengan perasaan Ardisa.
Jika iya, maka Erin akan menjadi orang yang sangat merasa bersalah. Biar bagaimanapun, Erin adalah orang yang ingin menyatukan mereka berdua. Bahkan sangat bersemangat jika mereka benar-benar berjodoh.
Tapi ia lupa bahwa Fahri merupakan tipe yang bermain hati dengan banyak wanita.
Dan Ardisa sangat tidak pantas jika harus mendapatkan hal itu.
"Kamu sabar dulu yah. Mungkin Fahri emang pengen kenal kamu lebih jauh dulu. Terus baru ke tahap yang lebih serius, atau mungkin mau langsung halalin kamu."
Ardisa tersenyum menanggapi hal tersebut. Dalam hatinya, ia berharap kalau Fahri memang benar-benar serius dengannya dan tidak berniat untuk bermain-main dengan hatinya.
__ADS_1
...****...
Kegiatan di kantor berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang terlalu menarik akhir-akhir ini. Hanya drama anak perkantoran seperti biasanya.
Ardisa sudah berada di kamarnya. Dia sedang melipat baju-bajunya sambil menonton konten mukbang di YouTube.
Tok tok
Pintu kamar Ardisa diketuk dari luar. Setelahnya pintu itu terbuka oleh orang yang mengetuk pintu itu.
Tantenya datang dengan membawa cemilan satu toples. Satu toples keripik talas berwarna merah. Menggoda sekali kelihatannya.
"Dia, lagi apa kamu?."
"Ini Tan, lagi nyuci piring."
"Hih. Jelas-jelas lagi ngelipat baju, bilangnya cuci piring."
"Ya tante udah tau lagi ngelipat baju, masih aja nanyain lagi apa."
"Hahahah iya deh. Sensi banget kamu hari ini. Belum gajian yah."
"Gak gajian pun udah banyak duit aku tan. Canda banyak."
"Hehe becanda doang elaah tan serius amat sih. "
"Dis. Kamu masih deket sama si Fahri itu kah. Kalo udah putus bilang tante yah. Ini ada nih kandidat buat kamu. Cakep, Dis. Suka kamu pasti."
Ardisa memutar bola matanya jengah. Boro-boro putus, hubungan aja masih belum jelas.
Sekarang tantenya malah ingin menjodohkannya dengan orang lain.
Benar-benar ajaib kelakuan tantenya yang satu ini. Semangat sekali untuk menjodoh-jodohkan orang.
"Elah, tan. Boro-boro putus, hubungan aja masih gk jelas statusnya apaan."
"Hah?!. Jadi kamu sama Fahri belum jadian??"
"Belum lah tan."
__ADS_1
"Buset dah. Tante kira selama 6 bulan ini kamu jalan sama dia udah pacaran. Ternyata masih gak jelas statusnya."
"Ya gitu deh, tan."
"Udah deh. Keknya Fahri gk bener-bener serius deh sama kamu. Masa iya udah selama itu hubungan kamu masih gitu-gitu aja. Padahal kalian kan udah sering jalan bareng, telfonan juga sering. Tapi kok masih nggantung gitu aja si. Fahri juga selama jemput kamu kalo mau jalan bareng gk pernah tu mau diajak mampir dulu ketemu sama om, tante. Tante itu takut Fahri cuma main-main sama kamu, Dis."
Ardisa mencerna setiap kalimat yang di lontarkan tantenya. Semua yang diucapkan tantenya memang benar. Hal inilah yang membuat Ardisa was-was. Ia takut kalau Fahri memang hanya berniat bermain-main saja dengannya.
Tante Ardisa yang melihat kegelisahan pada diri Ardisa langsung menanggapi,
"Dis, kamu inget kan dulu waktu mantan kamu yang terakhir itu. Bahkan dia langsung ngajak kamu buat serius loh, Dis. Pertama kali ketemu aja dia dateng ke rumah ini kan, terus bilang pengen kenalan sama kamu ke om sama tante."
Ardisa mengangguk mendengar pernyataan dari tantenya.
"Walopun kalian gk berjodoh, seenggaknya dulu kalian gk pernah main-main soal hati kan."
"Iya, tan. Kami putus karena emang kami sama-sama egois dan keras kepala. Tapi kami bener-bener gk niat buat main-main sama hubungan kami dulu."
"Nah itu dia, Dis. Coba deh, kita liat gimana sikap Fahri satu bulan ke depan. Kira-kira dia bakalan ngasih kamu status apa engga."
"Iya tan, Disa masih mau mantau Fahri dulu. Kalo emang dia gk serius, Disa bakalan stop sampe disini aja."
"Bener itu, Dis. Jangan kasih kesempatan cowok buat sakitin hati kamu."
"Iya, Tan."
"Oh iya. Nih keripik talas buat kamu. Malah lupa. Tadinya kesini kan mau ngasih ini buat kamu, eh malah ngghibah duluan. Hahahah."
"Hahaaha iya tan. Makasih tan, dari tadi Disa emang pengen banget makan ini dari Tante masuk heheheh."
"Aiih kamu kenapa diem aja kalo mah keripiknya. Kan kamu bisa langsung minta. Kayak sama siapa aja."
"Tadi tante gk nawarin. Mana toplesnya di kempit mulu sama tante. Kan Disa jadi ewoh mau minta keripiknya tan."
"Hahah dasar kamu. Ya udah deh. Tante mah balik ke kamar lagi. Nanti om kamu kecarian kalo gk liat Tante gk dikamar. Biasalah hahaha."
"Iya lah tan. Makasih ya tan keripiknya."
"Iya. Ya udah istirahat kamu. Udah malem."
__ADS_1
Ardisa pun mengangguk. Sangking asiknya mengobrol dengan tantenya, Ardisa bahkan sampai tidak sadar kalo sedari tadi, ponsel yang ia gunakan untuk menonton mukbang sudah mati karena kehabisan baterai.
Ardisa lalu mengisi daya baterainya dan memilih untuk memakan keripik talas yang tadi ia dapat dari tantenya.