Akhirnya Menikah

Akhirnya Menikah
Peresmian


__ADS_3

Happy reading


Setelah adegan di ruang ganti, para karyawan sibuk dengan pekerjaan mereka sebagai karyawan.


Keluarnya Shena dan Varo membuat orang yang datang ke butik itu langsung ternganga bagaimana tidak seorang laki laki yang sangat terpengaruh di kota bahkan negara ini baru saja keluar dari ruang ganti.


Tanpa menangapi tatapan semua orang, Varo menyuruh karyawan untuk menghitung semua gaun yang sudah di pakai Shena tadi. Walau itu butik Shena tapi Varo tak bisa diam begitu saja, masa ia harus membuat Shena bangkrut hanya karena gaun itu.


"Mas gak perlu beli, kan ini butik Shen," ujar Shena yang sudah memakai pakaiannya tadi.


"Gak apa apa sayang. Uang Mas banyak kok, lagian Mas gak mau buat kamu rugi," ujar Varo mengelus rambut Shena.


Sontak saja perlakuan sederhana Varo membuat para gadis yang sedari tadi sedang pura pura memilih baju baju itu terpekik tertahan.


Bagaimana tidak seorang Varo yang diketahui banyak orang itu dingin, datar, dan tak pandang bulu itu bisa sweet seperti ini pada seorang wanita.


"Ya sudah kalau begitu," ujar Shena dengan pasrah. Ia tahu kekayaan Varo lebih banyak daripada kekayaan keluarganya.


"Total semuanya 275 juta, Tuan," ucap Sesil yang memang bagian mencatat harga harga barang di butik.


Varo mengeluarkan kartu hitamnya pada Sesil, kemudian wanita berusia 23 tahun itu menggesek kartu itu.


"Genapin aja 300 juta, anggap aja rezeki buat kalian. Karena aku sedang bahagia," ujar Varo yang langsung dianggukkan oleh mereka.


Setelah menyelesaikan transaksi, Varo menerima kembali kartu miliknya. Akhirnya keduanya memutuskan untuk kembali ke ruangan Shena.


"Mas gak mau balik kerja?" tanya Shena pada Varo yang sedang duduk di kursi miliknya itu.


"Kamu ngusir Mas?" tanya Varo pada Shena yang berada di pangkuan laki laki itu.


"Gak ngusir, Mas. Tapi tanggungan Mas gak hanya aku, mas kan juga kerja. Aku gak mau Mas melalaikan tanggung jawab Mas hanya karena aku."

__ADS_1


Walaupun Shena senang karena Varo ada disisinya tapi Shena tak mau Varo sampai melalaikan tugasnya sebagai pemimpin di kantor.


"Mas tadi sebelum kesini sudah menyelesaikan semua pekerjaan Mas. Bahkan hari ini juga tidak ada meeting lagi. Makanya Mas bisa santai santai sama kamu disini," jawab Varo dengan senyum.


Entahlah kenapa ia bisa sangat mudah tersenyum jika bersama Shena. Apa ia sudah puber untuk kedua kalinya.


Memang sejak ia bertemu dan mengenal Shena , Varo merasa ia lebih bisa mengekspresikan dirinya sebagai dirinya sendiri. Kebiasaan yang dulu tak pernah ia lakukan kini menjadi kebiasaan. Seperti VC dan telepon pada dengan Shena.


Bahkan jika ia tak melakukan kebiasaan itu seperti ada yang kurang di hari itu. Shena sudah merubah hidupnya sejauh ini padahal Shena dan ia belum genap 1 bulan bertemu dan menjalin kasih.


****


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, kini tiba saatnya Vino dan Shena melangsungkan pertunangan keduanya.


Pertunangan yang Shena kira hanya sederhana, nyatanya sangat mewah padahal hanya satu hari saja di dekor tapi rumah keluarganya sudah sangat bagus.


Tadi saat pulang dari butik, Shena sempat bingung tadi kenapa rumahnya bisa berubah seketika saat ia pulang. Tapi setelah dijelaskan oleh Bundanya ia jadi tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Bund, aku gugup."


Bunda tersenyum dengan pelan kemudian menggenggam erat tangan putrinya. Ia paham apa yang sedang dirasakan oleh Shena.


"Tenang sayang, semua akan baik baik aja."


"Iya dek, gugup saat ingin di lamar itu wajar. Kakak dulu juga gitu," ujar Laila yang baru selesai make up.


"Kakak dulu juga gitu. Tapi semua itu wajar, karena ini juga salah satu hal penting untuk kita," ujar Nindi pada adik ipar yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya itu.


Shena yang mendapat respon positif dari bunda dan kedua iparnya itu tersenyum.


"Oh ya Bunga bisa datang apa enggak ya?" tanya Shena pada mereka yang ada disana.

__ADS_1


"Gak tahu sayang. Tapi tadi Bunda udah bilang sama dia, Gazi juga udah bunda kasih tahu," jawab Bunda dengan lembut.


Tak berapa lama mereka berada di kamar itu, tiba tiba pintu kamar itu terbuka. Mama Sindi datang memanggil mereka yang ada disana.


Mereka berlima turun dari kamar itu menuju aula tempat di mana pertunangan akan dilangsungkan.


Para tamu yang hadir dalam acara malam ini tentu pertama dengan cantiknya putri dan menantu keluarga Ayah Andra.


Jangan lupakan Varo yang memang sedari tadi sedang menunggu calonnya. Ia tentu terkesima dengan kecantikan gadis yang memakai gaun biru muda itu.


Tadi memang sudah cantik tapi sekarang sangat sangat cantik. Karena Shena memakai riasan yang sangat simpel tapi malah terkesan mewah dipandang orang orang.


Acara yang sudah ditunggu tunggupun dimulai, acara lamaran Varo dengan Shena dimulai. Keluarga Varo menyampaikan buat baik mereka pada keluarga Shena.


Tentu saja keluarga Shena menerima niat baik dari keluarga Varo. Apalagi Shena dan Varo sudah terlibat dalam perjodohan yang diatur oleh kedua orang tua mereka.


"Ayah sudah menjaga putri ayah selama 29 tahun, sekarang bolehkan saya menggantikan posisi ayah dengan menjaga dan membahagiakan putri ayah layaknya perhiasan dunia yang paling berharga?


Jika allah mengizinkan, saya ingin menjadikan putri ayah dan bunda sebagai istri saya, menemani setiap langkah perjuangan saya, menjadi penyejuk hati saya dikala gundah dan menjadi penasihat saat saya melakukan kesalahan, dari awal saya kenal putri ayah dan bunda, saya merasa seperti telah menemukan orang yang tepat, sekiranya ayah dan bunda menyetujui, saya ingin melamar putri ayah dan bunda dan melanjutkan hubungan kami berdua kejenjang pernikahan.


Maksud dan tujuan saya datang kesini ingin meminta izin kepada ayah dan bunda untuk melamar putri ayah dan menjadikan dia sebagai istri saya. Saya berjanji akan membahagiakan dan memenuhi kebutuhan lahir dan batinnya.


Saya ingin menyampaikan ketulusan hati saya bahwa saya mencintai anak ayah, izinkan kehadiran hidup saya mewarnai hidup anak bapak dan izinkan saya mengajak anak ayah kejenjang yang lebih serius dengan menikahinya.


Jika tidak keberatan saya ingin putri ayah dan bunda menjadi makmum sholat saya, saya ingin putri ayah dan bunda mencium tangan saya setelah selesai sholat, serta saya menginginkan dia sebagai istri dan ibu dari anak-anak saya kelak. Bersediakah ayah dan bunda menerima lamaran saya?"


Kata kata Varo sangat menyentuh hati pada tamu yang hadir, begitupun dengan kedua keluarga. Mereka tak menyangka Varo bisa merangkai kata kata seindah itu.


"Ayah selaku wali dari Shena menyerahkan keputusan ini pada Shen. Jadi bagaimana jawaban kamu, sayang?"


Shena menatap ayahnya dengan senyum kemudian ia menatap Varo yang sedang menunggu jawaban darinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2