
"Disa, adekku lagi nyari jodoh nih. Kamu mau gk kenalan dulu sama dia."
Ya ampun, ini masih pagi, baru masuk ke kantor, dan kawan kantornya ini sudah menawarkan seseorang untuk berkenalan dengannya.
Ardisa bergumam kecil saat mendengar penuturan Erina, kawan kantornya itu. Tapi mau bagaimana lagi, usianya terpaut 5 tahun lebih tua darinya. Sebisa mungkin dia berlaku sopan kepadanya.
"Ah. Iya kak. Mungkin kalo sekedar kenalan boleh aja kak. Biar nambah relasi juga. hehe,"
Ardisa menjawab sekenanya, walaupun dalam hatinya dia juga ingin berkenalan dengan baik agar bisa menjalin hubungan yang lebih serius.
"Wah beneran yah. Berarti kakak boleh ya kasih kontak kamu ke dia. Dia orangnya baik kok."
"Iya kak, boleh. Kasih aja kontak Disa ke adek Kak Erin."
Ardisa tersenyum tipis saat mengatakan hal itu. Walaupun dia mengizinkan kontaknya untuk diberikan kepada seorang laki-laki, tetapi tidak dapat dipungkiri juga kalau dia merasa sedikit tidak nyaman jika nomor kontaknya tersebar luas.
Setelah obrolan singkat itu, Ardisa dan Erin pun pergi melanjutkan pekerjaan masing-masing.
...* * * * * * *...
Jam makan siang pun tiba. Ardisa terbiasa membawa bekal sendiri dari rumah dengan sebotol infused water buatannya. Menurutnya itu lebih sehat dan hemat. Walaupun sesekali dia juga makan di kantin ataupun di luar dengan alasan ingin makan enak atau sekedar nongkrong dengan kawan-kawannya.
"Kak Disa, gimana nih kelanjutan kisah asmaranya. Udah nemuin pengganti Bang Arsyi belum."
Lihatlah betapa mengesalkannya kawannya yang satu ini. Mana masih muda. Suka sekali bertanya tentang kisah asmaranya yang kandas.
"Belum hehe. Masih dalam pencarian."
Ardisa tersenyum simpul menanggapi pertanyaan dari kawannya itu.
"Isssh dasar kamu ini Dit, nanti juga kalo udah punya pacar juga Disa bakal cerita. Disa masih ingin sendiri agaknya."
Marissa menimpali Dita yang terus bertanya tentang kisah asmara Ardisa.
Maklum saja, Dita lebih muda 4 tahun dari Ardisa dan sudah menikah. Bahkan ia sudah memiliki seorang putri berusia 1 tahun. Mungkin karena itulah yang membuatnya sangat penasaran kenapa Ardisa tidak segera menikah dan masih betah saka untuk menjomblo.
"Udah ah yuk. Bentar lagi istirahatnya selesai. Cepet selesaiin makannya terus balik ke ruangan masing-masing."
Akhirnya mereka pun menyelesaikan makan siangnya dan segera kembali untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing
*********
Jam kantor sudah usai sejak 3 jam yang lalu. Sekarang Ardisa sudah berada dirumah. Dia sedang rebahan dan bersantai diatas tempat tidurnya.
Ting
Ardisa mendengar sebuah notifikasi pesan masuk dari WhatsApp nya. Ia pun segera membukanya dan menemukan sebuah pesan dari nomor tak dinkenal.
+6282********
Hai, ini Fahri
Aku dapet nomor kamu dari kak Erin
Salam Kenal ya..
Ternyata yang mengiriminya pesan adalah adik dari kak Erin.
__ADS_1
wah gercep juga kak Erin -Batin Ardisa.
^^^Ardisa^^^
^^^Hai, iya Fahri.^^^
^^^Salam kenal juga^^^
Langsung centang biru. Fahri langsung mengetik balasan dari pesan Ardisa.
+6282********
Jangan lupa save nomorku ya..
Biar bisa komunikasi terusπ
^^^Ardisa^^^
^^^Iya aku save kok nomornya^^^
Fahri
Gimana kerjanya hari ini?
Lancar semua kanπ
Ardisa membaca pesan dari Fahri. Dia kira setelah basa-basi tentang save kontak, chat mereka akan berakhir. Tetapi ternyata masih berlanjut.
Apakah Fahri sudah memulai untuk mendekatinya?
Wow. Impresif.
^^^Ardisa^^^
Fahri
Syukur deh kalo semua lancar.
Udah waktunya makan malam nih. Kamu udah makan belum?
Dih. Plis ya bang. Baru kenal nge-chat nya gini amat. Sok perhatian apa gimana sih. -Batin Ardisa
Ardisa termasuk orang yang tidak mudah bergaul dengan orang lain. Karenanya, dia sedikit tidak nyaman saat mendapatkan pesan seperti itu dari orang yang baru dikenalnya. Baru kenal loh. Lewat chat pulak kenalnya. Meresahkan.
^^^Ardisa^^^
^^^Iya.^^^
^^^Udah makan kok^^^
Ardisa benar-benar mati gaya dengan pesan berbalas seperti ini. Sedari tadi ia hanya menjawab iya-iya saja. Malas sekali pikirnya jika harus bertanya balik kepadanya. Penting banget apa buat aku. -Pikir Ardisa
Namanya juga usaha buat PDKT ye kan. Mungkin seperti itulah yang ada dipikiran Fahri. Pepet terus sampai dapat.
Fahri
Ya udah deh kalo udah makan
__ADS_1
Selamat beristirahat ya..ππ
^^^Ardisa^^^
^^^Iya. Selamat beristirahat^^^
Fahri
ππ
Akhirnya chat awkward ini berakhir juga.
Ardisa merasa lega karena chat bersama Fahri akhirnya selesai juga. Rasanya awkward sekali. Gitu-gitu doang pertanyaannya.
Setelahnya, Ardisa pun meletakkan kembali ponselnya keatas meja kecil di samping tempat tidurnya.
Ardisa keluar menuju dapur karena dia merasa haus.
Saat sudah sampai di dapur, dia bertemu dengan Tantenya.
"Eh Disa. Dah makan kamu Dis?"
Ardisa tersenyum dan menjawab, "Udah tadi tan. Bareng sama Bella malah."
"Kirain belum makan. Kamu kayaknya kurusan deh, Dis. Kenapa kamu? Sibuk mikirin kenapa jomblo terus yah. Makanya cepetan cari suami sana."
What the....
Huuft. Ardisa tidak habis pikir kenapa Tantenya bisa berpikiran seperti itu. Kurus karena overthingking kanapa masih jomblo.
"Enggak lah, tan. Ya kali masa jomblo doang bikin kurus."
Tantenya tergelak mendengar jawaban dari Ardisa.
"Kali aja kamu pengen banget nikah ya kan tapi gk dapet-dapet calon juga. Makanya sampe kurusan."
"Enggak kek gitu ya, Tan."
"Tante ada nih. Siapa tau kamu cocok. Kenalan dulu lah ya kalian. Tante udah kasihin nomor kamu ke dia."
Oh No! Apalagi ini miskah.
Ardisa tidak habis pikir dengan Tantenya ini. Kenapa dia suka sekali memberikan nomor kontaknya tanpa persetujuan terlebih dahulu darinya.
"Yah tan. Kok udah dikasihin dulu sih."
"Udahlah kamu. Nanti kalo anaknya nge-chat. Kamu balas aja. Baik-baik lah kalo balas pesan cowok tu."
"Iya tan. Disa balik dulu ke kamar ya, tan."
"Balik lah. Istirahat yaa."
"Iya tan."
Akhirnya dia kembali ke kamar.
Drama pesan apalagi yang akan dia dapatkan kali ini.
__ADS_1
Ardisa pun meneguk air minum yang ia ambil tadi. Setelahnya dia merebahkan dirinya diatas tempat tidurnya.