
Happy reading
Tak terasa mereka sudah sampai di ruang Shena. Varo yang mengantarkan Shena itu juga ikut turun.
"Aku takut Ayah sama Kakak marah, apalagi ini udah hampir jam 9 malam."
"Memang kamu gak pernah pulang malam?"
"Jarang sih, aku paling malam ya jam 7. Tapi ini sampai jam 9 kurang, bisa bisa habis aku dimarahi Ayah," jawab Shena dangan cemas. Ia tak bisa membayangkan bagaimana raut sang ayah nanti saat tahu ia pulang sangat malam.
"Gak apa apa, biar aku yang baru ngomong sama Ayah dan Bunda serta kedua kakak kamu. Lagipula aku juga ikut andil saat kamu pulang telat," jawab Varo menggenggam tangan Shena yang masih terdiam di depan pintu. Tanpa mereka sadari jika orang tuanya mengamati apa yang kedua orang ini lakukan.
Dari dalam rumah Ayah dan Bunda sedang mengintip kedua anak itu dari jendela. Yah sejak tadi mereka menunggu anak gadisnya yang belum pulang padahal jam hampir menunjukkan pukul 9 malam.
"Sepertinya mereka sudah bisa menerima satu sama lain," ujar Bunda menatap haru kedua anaknya yang ada di depan pintu.
"Heem, kita gak salah jika menjodohkan mereka. Lagipula usia mereka sudah pantas untuk membina rumah tangga, Ayah tak ingin putri kita satu satunya itu terlalu larut dalam masa lalunya."
Ayah menggenggam tangan Bunda dengan lembut kemudian mereka kembali ke sofa panjang itu. Seolah mereka tak tahu apa yang diucapkan Shena dan Varo tadi.
Ceklek
Pintu utama rumah itu terbuka hingga terlihatlah Shena yang berjalan di belakang Varo. Sedangkan Varo yang melihat kedua orang tua Shena itu langsung tersenyum canggung. Karena tadi ia sudah janji ingin bilang tentang kenapa ia dan Shena pulang telat, tapi sekarang mereka mulai gelagapan.
Lihat saja tatapan Ayah Andra yang menatapnya tajam. Jangan pikir kalau Varo takut di tatap seperti itu, Varo hanya sungkan saja karena ia tak bisa membawa Shena pulang lebih awal.
"Assalamu'alaikum Ayah, Bunda."
Yah sejak pertama bertemu orang tua Shena menyuruh Varo untuk memanggil mereka ayah dan bunda seperti Shena memanggil mereka.
Dan Varo mulai membiasakan panggilan itu sejak saat ini karena hubungannya dengan Shena juga sudah mulai ada kemajuan saat ini.
"Wa'alaikumsalam," jawab Ayah dengan datar. Ia hanya ingin mendengar penjelasan Varo kenapa anaknya bisa pulang selarut ini.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam nak. Akhirnya kamu pulang, bunda khawatir loh sama kamu," jawab Bunda langsung memeluk tubuh anak perempuan satu satunya ini.
"Maaf Bunda. Kita telat pulang, tadi ada sedikit masalah di jalan," jawab Shena yang masih memeluk tubuh Bundanya.
"Masalah apa sayang?" tanya Bunda pada Shena dan Varo.
"Maaf sebelumnya Ayah, Bunda ini salah Varo. Varo yang sudah maksa Shena untuk ikut dengan Varo tadi pagi," ujar Varo dengan sopan.
Akhirnya Varo menceritakan apa yang terjadi seharian ini tapi ia meski ia mengskip tentang mereka yang menginap di sebuah penginapan dekat wisata telaga cinta.
Mulai dari danau hingga mereka kehujanan dan berteduh kemudian setelah sore mereka pulang dan akhirnya disesatkan.
Untung mereka sudah sampai rumah saat ini jika belum entah mungkin mereka masih berputar-putar di jalanan tadi.
Ayah dan bunda mendengarkan cerita Varo kemudian mengangguk pelan. Mereka bersyukur karena Shena dan Varo pulang dengan selamat.
"Syukurlah kalian pulang dengan selamat," ucap Ayah menatap Varo dengan senyum.
"Iya ayah. Maafkan Varo juga gara gara Varo ngajak Shena pergi dari butik tadi kita malah pulang sangat malam."
"Ayah sama Bunda paham, kalian perlu waktu berdua. Dan sepertinya hubungan kalian sudah cukup baik dan dekat," jawab Bunda dengan senyum di wajah tuanya ia mengelus rambut sang putri yang sedikit kusut.
"Doakan saja Bunda, Ayah. Semoga kita berdua bisa cepat menyesuaikan diri," jawab Varo yang tak mau membuat malu Shena.
"Sebagai orang tua ayah dan bunda selalu mendoakan apa yang terbaik untuk anak-anaknya termasuk Shena," jawab Ayah mengelus rambut anaknya.
Perbincangan itu berlanjut hingga tak terasa sudah pukul setengah sepuluh malam, Shena yang sudah gerah ingin mandi itu langsung pamit pada kedua orang tuanya dan juga Varo.
"Mandi pakai air hangat dia sayang," ucap Bunda sebelum Shena meninggalkan ruang tamu.
"Iya bunda."
Sepeninggal Shena masuk ke dalam kamar, Varo mulai berbicara serius kepada kedua orang tua Shena.
__ADS_1
"Maaf Ayah, Bunda sebelumnya perjodohan antara Varo dan Shena akan terus di lanjutkan. Kita tak perlu menunggu 1 bulan lagi untuk saya dan Shena saling menyukai satu sama lain. Karena tadi setelah kami pulang dari telaga, kami sudah mengerti perasaan kami masing-masing. Kemarin bukan pertama kali kita bertemu, saya dan Sena adalah rekan bisnis kami sudah sering bertemu di luar jika ada meeting dan lainnya."
Kedua orang tua Shena tampak terkejut dengan ucapan Varo. Tapi mereka juga senang karena sebentar lagi anak mereka akan sold out alias menikah. Bunda dan ayah sudah sangat memimpikan cucu dari anak gadisnya itu, walaupun mereka sudah punya cucu tapi rasanya masih kurang karena cucu-cucunya saat ini tidak ada yang tinggal bersama mereka.
"Jadi keputusan kamu?"
"Saya akan melamar Shena dalam waktu dekat dan juga pernikahan kami akan dipercepat. Saya hanya menunggu persetujuan dari Shena dan keluarga," jawab Varo dengan senyum tipisnya.
"Ayah sama Bunda nurut apa kata kalian, karena pernikahan ini kalian yang akan menjalani bukan ayah dan bunda."
Setelah perbincangan itu Varo pamit pulang, karena hari juga sudah sangat malam. Tak enak malam malam begini bertamu di rumah orang.
Sebelum pulang baru menyempatkan untuk mengirim pesan pada Shena bahwa ia pulang. Walau Varo yakin Shena belum selesai mandi tapi apa salahnya ia berpamitan pada gadisnya itu.
Anda
Sayang, aku pulang ya.
Varo tak menyangka jika pesan yang dikirim berubah dari yang awalnya centang 2 abu-abu menjadi centang biru.
"Ternyata dia sudah selesai mandi," gumamnya.
Shen Sayang
Iya Mas hati hati. Kalau udah sampai rumah kabari Shena ya.
Anda
Iya sayang pasti.
Baru masukkan ponselnya ke dalam saku bajunya kemudian iya pamit pada kedua orang tua Shena.
Bersambung
__ADS_1