
Nana terdiam menatap hamparan danau di depan nya, danau buatan di tengah tengah kota tempat ternyaman untuk nya saat ini.
Apa lagi dia dengan jelas mendengar saat oma Las memuji Flo di sambungan telfon.
Flashback on
"My honey Lani i miss you."
Deg.
Dada Nana seperti di remas remas saat mendengar suara Flo di sambungan telfon dengan Lani.
"Flora." Gumam Lani namun masih bisa di dengar oleh Nana.
"Hai sayang nya mamah, kamu sibuk nggak?" Nana tahu itu suara oma Las.
"Ada apa mah?" Tanya Lani dia menaruh ponsel nya di meja.
"Kita makan siang bareng yah, sama mamah sama Flo, kasian dia Lan udah kangen banget nggak ketemu kamu."
"Aku sibuk mah." Nana mengelus dada nya saat mendengar suara Lani yang menolak ajakan mamah nya.
"Kamu ini kerja terus, kamu itu harus buka hati mu untuk wanita lain, jangan hanya gara gara Veny kamu jadi males sama semua perempuan, nggak semua perempuan sama dengan Veny, contoh nya Flora ini, dia baik, cantik, anak berpendidikan, dan dia pemilik resto, pengusaha sayang, jelas keturunan siapa, coba kamu lihat dia dengan hati kamu."
Satu detik
Dua detik
Tiga detik.
klik.
Nana mematikan sambungan telfon nya, meremas dada nya sakit rasa nya saat oma Las memuji Flo di hadapan Lani dan sial nya Lani hanya diam saja.
Nana menghapus sisa air mata nya berjalan keluar bilik toilet dengan berjalan gontai.
Flashback off.
__ADS_1
"Sabar Naaaa, sabar, masa lo kalah sama tante tante sih, biar kata dia berkelas juga masih menang lo lah." Ujar Nana berusaha membangkitkan rasa percaya diri nya namun.
"Huuuuaaaa tapi dia kaya, aku miskin hiks hiks hiks, apa aku cuma bisa jadi simpananan."
"Langiiiiiiit."
Jedeeerrr.
"Kagak jadi!" Nana menatap takut pada cuaca yang entah kenapa selalu mendung.
"Balik lah, ngeriii." Gumam Nana tadi nya dia mau mencurah kan isi hati nya pada langiit namun belum juga cerita sudah di sambut suara menggelegar.
Nana jalan kaki menuju Apartemen nya tanpa sengaja dia melihat Lani memasuki mobil nya dengan Flo serta oma Las.
"Izzz nasib gue buruk amat yah." Nana meremas dada nya, ia berjongkok di bawah pohon pinggir jalan tempat persembuyian nya saat mengintip tadi.
Entah kenapa melihat mereka bertiga pergi dengan mobil sungguh Nana merasa rendah diri.
Diri nya yang hanya gadis kampung rasa nya sangat rendah di hadapan Flo, terlebih melihat mereka berjalan berdua sangat sangat serasi, umur Lani yang memang sudah memasuki kepala empat dengan Flo yang tujuh tahun lebih muda rasanya sangat pas.
"Hiks hiks tapi gue nggak mau kehilangan papi, gue mau sama papi teruuus." Isak tangis Nana sungguh menyayat hati siapa saja yang mendengar nya jika peduli.
"Siang loh ini." Gumam Nana diri nya merasa ini masih siang tak mungkin ada hantu.
"Gue di atas." Jelas saja Nana mendongak dan benar saja ada bocah di atas pohon hingga membuat Nana tersentak sampai terjengkang.
"Si.al ngapain lu di atas bocah." Gerutu Nana sambil mengibas libas kan drees nya karna kotor saat diri nya terjengkang tadi.
"Gue lagi mantau." Nana melihat sekeliling memantau siapa.
"Ck mantau siapa?"
"Mantau lelaki tua di sana." Tunjuk nya pada lelaki tua di hadapan nya membuat Nana mengikuti arah nya.
Dahi nya mengerut saat melihat lelaki tua memasuki perusahaan besar Mareeta.
"Masalah nya apa?"
__ADS_1
"Gila! Ngagetin aja sejak kapan lo naik ke atas." Ketus nya saat diri nya terkaget saat tiba tiba saja Nana berada di atas pohon ikut duduk di ranting besar untung lah diri nya terkaget namun tidak sampai jatuh.
"Gue naik ya naik aja, ngapain bilang lo, itu kenapa dengan bapak bapak itu." Tunjuk Nana pada lelaki yang baru saja memasuki kantor tempat kekasih nya bekerja.
"Dia paman calon mertua gue." Jawaban lelaki di samping nya ini membuat Nana menganga apa tadi calon mertua sedang dia saja masih bocah.
"Ck masih bocah lo." Dengus Nana.
"Bodo amat, dari pada lo nangis di bawah pohon." Nana menghela nafas nya.
"Calon suami gue pergi sama mamah nya dan calon menantu yang mamah nya pilih." Suara Nana tercekat. Mata nya berkaca kaca menatap bocah di samping nya ini.
"Maksud mu lelaki tua itu?" Nana mendelik lelaki tua kata nya.
"Ck tua tua gitu dia berkarisma dan uuuhh gagah." Ujar Nana menaik kan alis nya kagum dengan Lani.
"Ck tapi dia pengecut, buktinya malah pergi dengan calon menantu pilihan mamah nya." Ucapan bocah di samping nya ini membuat Nana menunduk hati nya perih.
"Lagian masih ganteng ganteng mertua gue, tampan tampan dan yang pasti tajir tajir." Sahut nya membuat Nana menganga ganteng ganteng, tampan tampan.
"Kau mau menikahi dua gadis sekaligus?" Ujar Nana kagum dengan bocah di sebelah nya.
"Mana berani, aku hanya akan menikahi satu gadis di dunia ini." Nana terpukau dengan keyakinan lelaki di samping nya ini.
"Benar kah? Tapi tadi kau bilang ganteng ganteng dan tampan tampan."
"Iya mertua ku dua lelaki dan satu perempuan." Sahut nya mantap, Nana mengangguk.
"Oooh maksud mu mertua mu janda menikah lagi jadi ayah mertuamu dua?" Nana mengerutkan alis nya saat melihat gelengan dari lelaki di samping nya ini.
"Tidak, mertuaku memang satu perempuan dan suami nya ada dua, mereka kakak adik hidup dengan rukun dan bahagia."
"Apa." Nana yang kaget lupa sedang berada di atas pohon hingga.
Aaaaa
"Papiii.."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...