
"Halo oma." Sapa Nana pada oma yang sedang menghubungi nya.
"........"
"Nana salah oma, maaf kan Nana nggak bisa menyelesaikan misi ini oma." Ucap Nana menyesal, namun tujuan nya kali ini ingin meminta restu sebab diri nya sudah mengandung anak Lani.
"......."
"Tapi Nana sudah pakai uang nya oma, oma Nana minta res." Ucapan Nana terhenti saat ada suara benda jatuh,
Prak.
Sontak Nana melihat pada cermin di hadapan nya ini.
Deg deg deg
"Papi." Ucap Nana terbata betapa kaget nya dia saat melihat mata Lani memerah emosi menatap nya, dia berbalik hendak mendekat pada Lani setelah mematikan sambungan telfon nya.
"Pi," Panggil Nana lembut.
"Berhenti di situ Natasya arumi!"
Deg
"Pih,"
__ADS_1
"Diam!!" Sentak Lani membuat Nana menunduk kaget, tanpa sengaja diri nya melihat barang yang Lani jatuh kan.
Nana menunduk diri nya tertegun saat melihat akte nikah yang kini berada di tangan nya terlebih saat di buka Nana kaget bukan main sebab di akte nikah itu tertera atas nama diri nya juga Lani.
Lani melangkah keluar kamar mandi hendak menuju kamar nya,
"Pi, tunggu pih." Nana mencekal tangan Lani hingga ia berbalik menatap Nana tajam.
"Sudah ku bilang jangan mendekat." Desis Lani geram, namun Nana masa bodo dia ingin mempertanyaan akte nikah di tangan nya.
"Pi, ini." Lani memalingkan muka nya marah, geram, juga kecewa menjadi satu.
"Aku sudah mengurus pernikahan kita, kau tahu aku ijin pulang cepat untuk mengambil akte ini dan segera menunjukan nya pada mu tapi apa yang aku dengar?" Ucapan Lani terhenti.
"Apa yang aku dengar barusan ternyata membuka jalan fikiran ku, bahwa tidak ada perempuan di dunia ini yang tulus mencintai ku, dulu aku memberikan cintaku pada mantan tunangan ku kami hampir menikah namun dia justru menghianatiku lalu sekarang? Aku sudah memantap kan hati ku pada mu, aku sudah menyerahkan hidup ku untuk mu, aku sudah memberikan seluruh yang aku punya pada mu termasuk cinta yang ku punya tapi apa sekarang kau justru mengecewakan aku, kau mematahkan segala angan angan ku Na." Nana menutup mata nya mendengar segala kekecewaan dari lelaki yang kini berstatus kan suami nya.
"Aku memang menginginkan pernikahan ini pi bukan karna uang tetapi karna aku betul betul mencintaimu." Lani menatap tajam mata Nana.
"Berapa uang yang sudah mamah ku kasih pada mu?"
"Tiga puluh juta." Jawab Nana. Lani mengusak rambut nya.
"Kau tahu di atm yang aku berikan itu jumlah nya lebih dari tiga puluh juta!" Sentak Lani geram.
"Nana tahu pih, Nana minta maaf, karna dulu Nana memang membutuhkan uang itu, tetapi tidak sekarang, yang Nana butuh kan kamu pi." Lani memalingkan muka nya bulshit kalau dia miskin pasti Nana enggan bersama lelaki tua seperti nya.
__ADS_1
"Pi."
Ah.
Prak
Nana terpekik saat tangan nya tersentak karna Lani enggan ia sentuh hingga barang yang berada di tangan nya terjatuh tepat di bawah kaki Lani.
"Alat tes kehamilan?" Gumam Lani ketika dia mengambil nya.
"Positif." Gamam Lani.
"Aku hamil, ada anak mu di sini pi?" Lani terdiam dia bingung harus apa memaafkan Nana namun hati nya enggan melakukan itu, ego nya terlalu tinggi.
"Kau hamil?" Nana mengangguk tersenyum.
"Baik kalau begitu setelah anak itu lahir lebih baik kita ber."
Cup.
Ucapan Lani terhenti saat Nana membungkam nya dengan ciuman nya, tak bisa di pungkiri hati nya sakit akan keputusan dari suami nya.
"Tolong jangan ucap kan itu, baik setelah anak ini lahir aku akan menuruti semua ucapan mu tapi ku mohon biarkan aku tetap berada di sisi mu selama kehamilan ku pi." Pinta Nana memelas.
Lani pergi ke kamar nya meninggal kan Nana yang sedang termenung akan nasib cinta nya yang kandas padahal baru saja ia memulai nya.
__ADS_1
"Maaf kan aku pi." Desis Nana air mata nya tak bisa ia tahan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...