AKIBAT SALAH SUMPAH

AKIBAT SALAH SUMPAH
positif


__ADS_3

"Gue pengin mie ayam kuah soto, ayolah Bel yah yah yah." Pinta Nana memelas, merengek layak nya seorang anak yang sedang meminta jajan pada mamah nya, sungguh membuat Bela terkejut, dia juga menghela nafas beberapa kali.


"Turutin aja Bel kali aja lagi ngidam gue sekalian yah." Cletuk Bimo membuat Nana terdiam memikir kan kata ngidam? Apakah benar diri nya sedang hamil.


"Lo sekalian mie ayam kuah soto?" Bimo mendengus ketika melihat tatapaan aneh dari sahabat nya ini, membuat Bimo geram.


"Sembarangan ya nggak lah, gue mie ayam aja pake kuah mie ayam lah, kalau pesenan Nana bukan mie ayam tapi mie wedus." Ucapan Bimo mengundang tawa bagi Bela.


"hahahahhaha." Tawa Bela namun dia menyikut Bimo pasal nya Nana terdiam seolah banyak beban di pikiran nya.


"Gue pesenin dulu deh yah." Ucap Bela pergi sedang Bimo memperhatikan Nana yang terdiam sedari ia berbicara soal ngidam.


"Na, lo kenapa?" Tanya Bimo lembut, membuat Nana terkesiap, netra nya menatap Bimo intens, sebelum akhir nya ia mengucap kan kata yang membuat Bimo kaget.


"Bim apa bener yah gue hamil?" Bimo mendelik, nah kan bener kan, Nana memikir kan itu tapi Bimo hanya tak menduga ternyata Nana sudah senjauh itu.


"Emang selama main, lo nggak pernah gitu pakai pengaman?" Bisik Bimo dan sial nya Nana menggeleng, terang saja Bimo mendengus kasar, namun ia berusaha bertanya kembali dengan lembut, mungkin ada cara lain.


"Di buang di luar nggak?" Nana menggeleng lagi mendengar pertanyaan Bimo.


"Kenapa nggak pake pengaman pea." Sembur Bimo pada Nana sambil menoyor dahi Nana pelan.


"Dia pengin punya anak Bim," Jawab Nana lemah, Bimo memegang kepala nya yang berdenyut, tapi tidak dengan cara seperti ini, miniman status mereka sudah sah di mata hukum, namun untuk marah pun Bimo rasa nya tak tega, bagaimana pun Nana sudah seperti adik nya sendiri.


"Apa lo bener bener sudah menerima dia di hidup lo, bukan semata mata karna lo hanya nyaman hidup dengan dia kan?" Selidik Bimo, ia takut rasa yang Nana rasakan hanya sebatas nyaman, dan di saat sudah berjalan justru Nana bosan. Karna untuk laki laki se umuran Lani tidak mungkin jika ia akan main main dalam menjalin hubungan, terlebih ia terkenal singel hampir puluhan tahun.


"Nggak Bim, gue bener bener cinta sama papi, gue pengin kasih dia anak, sesuai keinginan nya." Jawab Nana menunduk, memang ia merasakan lebih dari sekedar rasa nyaman.


"Kalau gitu bagus dong kalau lo hamil ada buah hati kalian di sini kan?" Nana mengangguk setelah tersenyum senang ternyata sahabat nya tak jadi marah pada nya.


"Tapi papi belum mengurus pernikahan kita bagaimana dong?" Keluh Nana, Bimo menghela nafas nya, ternyata Nana otak nya baru sadar akan sebuah ikatan pernikahan.

__ADS_1


"Na, apapun yang terjadi gue, Bela dan Feri akan ada buat lo, sama seperti lo yang selalu ada buat kita ok, lo tenang yah, jangan sampai stres, habis makan kita beli alat tes kehamilan." Ucap Bimo menepuk tangan sahabat yang sudah ia anggap adik ini.


"Makasih buat kalian semua yang selalu ada buat gue." Mata Nana berkaca kaca.


"Fiks lo hamil tanpa tes pun gue yakin iya, soal nya lo baperan anying biasa nya kan lo bodo amat, nah ini pesenan lo dateng." Bimo mengambil mie pesanan Nana dari nampan yang Bela bawa, walaupun dengan pandangan aneh begitu juga Bela.


"Gimana Na enak nggak?" Tanya Bela dan ajaib nya Nana mengangguk antusias.


Bimo membisikan percakapan nya dengan Nana tadi dan Bela hanya bisa menghela nafas nya.


"Dia sampai ke tahap ini juga karna untuk biaya hidup kita di kota ini, kita harus selalu ada buat dia." Bisik Bela di angguki Bimo.


selama perjalanan pulang menuju apartemen Lani, Nana menggenggam erat alat tes kehamilan nya.


"Nana." Nana mendongak.


"Kak Abi, mau kemana?" Nana cepat cepat menaruh alat tes kehamilan nya di tas,jangan sampai Abi tahu, sebab status Nana di apartemen ini sebagai anak papi Lani.


"Mau ke bawah, kamu baru pulang kuliah yah?" Nana mengangguk kikuk, bingung juga mau jawab apa, jantung nya masih berdebar debar.


Saat memasuki unit apartemen Lani Nana bergegas memasuki kamar mandi.


Segera membuka alat tes kehamilan nya di tas dan segera melakukan nya, diri nya sudah tak sabar ingin melihat hasil nya. Dia memejam kan mata nya takut takut akan hasil yang mengecewa kan nya.


Satu menit


Dua menit


Dan Nana bersiap membuka mata nya.


Deg deg deg.

__ADS_1


Mata Nana berkaca kaca melihat tanda + di alat tes kehamilan yang Bimo beli.


"Kau sudah hadir nak." Gumam Nana bibir nya melengkung ke atas, tak sia sia diri nya bermain siang malam dengan papi.


Dreet dreet dreet


Nana mengambil ponsel nya di tas, dahi nya mengerut saat melihat oma Las menghubungi nya.


"Kebetulan oma telfon aku akan bilang semua nya, aku mundur dan aku menyerah."


"Halo oma." Sapa Nana pada oma yang sedang menghubungi nya.


"........"


"Nana salah oma, maaf kan Nana nggak bisa menyelesaikan misi ini oma." Ucap Nana menyesal, namun tujuan nya kali ini ingin meminta restu sebab diri nya sudah mengandung.


"......."


"Tapi Nana sudah pakai uang nya oma, oma Nana ingin meminta res." Ucapan Nana terhenti saat ada suara benda jatuh,


Prak.


Sontak Nana melihat pada cermin di hadapan nya ini.


Deg deg deg


"Papi." Ucap Nana terbata betapa kaget nya dia saat melihat mata Lani memerah emosi menatap nya, dia berbalik hendak mendekat pada Lani setelah mematikan sambungan telfon nya.


"Pi," Panggil Nana lembut.


"Berhenti di situ Natasya arumi!"

__ADS_1


Deg deg deg.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2