
Di ruang rawat inap kini Nana terbaring di ranjang pasien, sedari tadi ia enggan membuka mata nya.
Mungkin karna efek obat atau bahkan efek rasa nyaman karna sang suami selalu menggenggam tangan nya, juga jangan lupa kan elusan di kepala Nana.
"Kenapa kau tak bilang padaku Na?" Gumam Lani dengan berkecamuk di dada nya, rasa bersalah itu kian menyeruak saat mamah Las datang dan menceritakan semua nya.
Tak ketinggalan pula para sahabat Nana yang menjelas kan alasan Nana mengambil tawaran oma Las.
"Maaf kan aku Na, maaf kan semua kesalahan ku, aku egois sayang." Gumam nya terus dengen elusan yang tak pernah lepas.
"Lan, makan dulu nak?" Ajak oma Las pada Lani yang ternyata belum makan sedari bangun tidur.
"Iya mah," Jawab Lani ia sadar kalau iya sampai sakit justru akan merepotkan semua nya.
"Biar kan istri mu istirahat, sebelum kedatangan para keluarga Tia juga Bulan." Sahut mamah Las sembari menyajikan makanan untuk sang anak.
Lani mengangguk sebagai jawaban, tak peduli lagi ternyata di hadap kan dengan nasi membuat perut ya seketika keroncongan ingin segera melahap makanan di hadapan nya ini.
Kemana sahabat sahabat Nana? Maka jawaban nya kuliah, sepulang kuliah mereka berjanji akan menemani Nana di rumah sakit walaupun Lani sudah menolak tetap saja tak kuasa di hadapan kan dengan ke tiga sahabat bocah belut.
Bocah belut?
__ADS_1
Lani terkekeh saat mengingat diri nya memanggil bocah belut untuk Nana.
Bocah belut itu sedang mengandung bocah. Batin Lani terkekeh.
Tak lama setelah Lani selesai sarapan mata Nana terbuka perlahan.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Perlahan Nana membuka mata nya, terlihat wajah cemas suami nya.
"Pii, jangan khawatir." Nana berucap dengan pelan, Lani memegang tangan kanan Nana yang tak ada jarum infus.
"Jelas papi khawatir Na, kenapa kamu nggak bilang ada masalah di kehamilan mu Na." Gerutu Lani membuat Nana tersenyum, sungguh diri nya memang sengaja menyembunyikan semua nya dari Lani, karna Nana sadar di samping hubungan mereka yang baru saja membaik, dan Lani pun sedang terkena musibah.
"Pii bagaimana dengan usaha papi, apa masih harus berurusan dengan polisi." Lirih Nana karna ia masih belum bisa berbicara dengan keras.
"Maksud papi? Dalang siapa." Nana bertsnya dengan penasaran sebab setahu diri nya papi tidak memiliki musuh.
"Flora." Mata Nana membola saat papi menyebut nama yang sangat Nana kenal, Flora, apa Flo yang di jodoh kan dengan Lani tempo hari itu kah?
"Pi Flo yang oma Las kenal kan sama Nana kah." Ujar Nana terbata, jika iya alangkah bersyukur nya papi tak menjadikan Flo sebagai istri nya, atau justru karna sebab itu Flo akhir nya membalas dendam.
"Iya Na, kamu benar Flo yang di jodoh kan dengan papi." Nana menganga benar Flora itu.
__ADS_1
"Pi lalu bagaimana dengan Flo, apa kah ia di penjara?" Lani menghela nafas nya, ia tak mungkin menceritakan bahwa diri nya pun bukan hanya memenjarakan nya namun lebih ingin menghancur kan kehidupan Flora.
"Iya Na? Kenapa, bukan kah itu wajar, dia harus mempertanggung jawab kan semua perbuatan nya." Jelas Lani, tanpa Nana sadari tangan Lani terkepal di bawah ranjang saat mengingat perbuatan Flora yang memfitnah nya dan jangan lupakan jebakan yang gagal,
Sekarang Lani bersyukur dengan sumpah yang ia lalui tenyata ada hikmah di balik ini semua, walau ia tak akan bisa bermain dengan semua wanita.
Namun diri nya bersyukur sebab hanya Nana ia bisa melampias kan semua nya, andai saja diri nya berhasil terjebak oleh Flo entah apa yang akan terjadi.
Kehilangan Nana Lani sontak menggeleng dalam hati, ia tak sanggup jika harus kehilangan bocah belut nya.
"Nana hanya takut pii jika saat dia keluar dari penjara dia akan membalas dendam pada kita, jangan sampai dia melukai anak kita pi." Ucap Nana dengan mata berkaca kaca, sungguh ke khawatiran nya menjalar begitu saja.
"Kamu tanang saja Na, papi pastikan kamu dan baby baik baik saja hemm." Lani mengelus kepala Nana dan membuahi kecipan di dahi nya dengan sayang.
"Mau makan apa sayang?" Tawar Lani,
"Nana mau makan sambel cumi mak Tia pi, boleh kan?" Melihat mata Nana yang berbinar membuat Lani tak tega.
"Baik lah, sebentar papi telfon anak singa dulu yah." Nana tersenyum senang, namun tidak dengan Lani dia menggerutu mendengar permintaan Nana.
Ck ada orang sakit minta sambel cumi. Decak Lani hanya berani dalam hati.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...