
Lani memutar mata nya malas melihat fahmi dan Robi menggebrak meja dengan kompak.
"Iz kalian ini lebay sekali, terlalu bucin." Decak Lani.
"Ck lo nggak ngerasain gimana rasa nya kehilangan dan lo ngemis ngemis minta kesempatan ke dua." Dengus Fahmi di angguki oleh Robi, karna diri nya pun sama takut sekali saat Widia menyerah dengan hubungan mereka.
"Halah." Sahut Lani.
"Ck Lo ini bukan masuk ke jajaran kita semua." Sahut Lintang geram, jajaran yang di maksud adalah jajaran bucin dengan tingkat rasa cinta di atas rata rata.
"Untuk apa?"
"Om nanti juga merasakan nya kalau istri om nyerah dan memilih laki laki lain yang jaaaauuuuhh lebih muda dari pada om yang sudah tua." Gerutuan Robi sukses mendapat tiga jempol dari Lintang, Fahmi, serta Xelo. Mereka ber empat masuk ke jajaran suami suami terlalu cinta pada istri sehingga lebih takut jika istri marah.
"Ck nggak bakalan, lagian terlalu bodoh kalau bucin kaya gitu. Soal Nana jika ingin mencari lelaki lain ya terserah dia."
Deg.
Semua mata tertuju pada Nana yang sedang menunduk menghela nafas nya, sungguh sakit rasa nya.
"Papi benar om, lagian juga buat apa terlalu cinta, toh manusia mudah goyah jika ada yang lebih bagus." Sahut Nana santai membuat Lani menatap nya.
"Nana cerdas, setuju Na, kalau kita tak bisa di hargai gampang itu mah tinggal cari yang bisa buat kamu merasa di ratukan." Sahut emak Tia.
"Mak bikin sambel banyak nggak?" Ujar Nana mengalih kan perhatian tanpa peduli dengan tatapan mata Lani.
"Banyak, kenapa mau bungkus buat sohib sohib kamu?" Nana mengangguk senang saat tebakan emak Tia tepat sasaran memang ia ingin membungkus dan memberikan pada para sahabat nya, bukan hanya itu, dia juga akan memberikan pada tetangga baik nya.
"Mereka paling suka sambel mak, di jamin pasti mereka akan nagih banget sama sambel mak, Nana beli ya mak, soal nya di minimarket stok kosong mak soal nya viral banget." Adu Nana membuat Tia terkekeh, lucu sekali istri Lani ini, terlepas dari masalah yang mereka hadapi namun menurut Tia itu tak pantas untuk Nana mendapat perilaku seperti itu dari Lani.
"Nggak usah bayar, kamu sebut siapa saja sobib sohib mu itu?" Ujar Tia sembari memakan makanan nya membuat Nana senang bukan main sebaik itu Tia.
"Bimo, Bela, Feri dan kak Abi." Sahut Nana riang membuat semua juga ikut tersenyum.
"Kak abi?" Tanya Lani heran untuk apa Abi ikut masuk hitungan.
__ADS_1
"Iya kak Abi, dia baik banget sama Nana, sering banget nemenin Nana jalan jalan pagi, jalan jalan sore area apartemen, juga dia sering banget bawain Nana belanjaan Mak, bahkan Nana sering belanja bareng." Tia terkekeh melihat mata Lani membola. Katanya tak bucin, bodoh lah tapi apa sekarang.
Sedang Lani menganga apa tadi kata nya.
Nemenin jalan jalan pagi sore, bawain belanjaan dan bahkan belanja bareng? ****. Decak Lani dalam hati.
"Siapa kak Abi?" Pancing Tia, Nana tersenyum lebar menjelas kan tentang kebaikan tetangga nya itu, bahkan Nana juga bilang bahwa kak Abi mau memberikan sambal nya tadi sore sewaktu pulang kerja.
"Wah baik banget, dia kayak nya menyukai kamu Na, ganteng nggak?" Seru Bulan.
"Ganteng Tan, dia kerja di salah satu perusahaan besar gitu, kalau nggak salah eeemm ma mahes Maheswara tan." Seru Nana senang membuat semua membola Mahesawara.
"Lah ini yang punya Maheswara." Tunjuk Tia pada Bulan yang sedang terkekeh.
"Iya kah, kenal kak abi nggak tan? dia ganteng, putih, tinggi kira kira usia nya 30an tan." Bulan menatap Xelo.
"Sekarang sedang di pegang adik saya, karna saya hanya sesekali ke sana mungkin nanti kalau anak anak sudah besar bisa fokus kembali." Ujar Bulan membuat Nana mengangguk.
"Abi? Apa mungkin manager keuangan ya kak?" Tanya Xelo pada Kevin.
"Baik lah, sebentar yah emak bilang bibi dulu buat bungkusin sambel nya." Pamit Tia pada Nana yang mengangguk senang tanpa peduli pada Lani.
"Setelah makan kita pulang." Nana menengok ke kanan setelah mendengar nada dingin dari suami nya.
"Hemm." Lani melotot cuma hmm?
Tia membawa empat paperbag. "Nah ini sambel nya, kamu kasih masing masing satu paperbag, dan kalau kamu mau sambel, kamu bisa datang ke sini nanti emak bikinin, soal nya yang di jual pedes semua." Ujar emak. Nana mengangguk senang, bahkan gigi gingsul nya terlihat membuat siapa saja terpesona keculi para lelaki yang sudah mematok hati nya dengan nama pasangan mereka masing masing.
"Makasih Mak." Tia terkekeh melihat wajah masam Lani.
Setelah makan usai Lani pamit pulang terlebih dahulu.
"Pelan pelan pih ada dede di sini." Ujar Nana ketakutan saat Lani membawa mobil nya dengan kecepatan tinggi.
"hemmm." Nana lega saat Lani menurun kan kecepatan nya.
__ADS_1
Aman.
Mereka semua menuju apartemen hingga saat Lani membuka pintu apartemen nya.
"Kau mau kemana?" Tanya Lani heran saat Nana berjalan terus.
"Papi masuk dulu, aku mau anter ini buat kak abi." Ucap Nana riang tanpa peduli Lani yang sudah mengepal kan tangan nya erat.
"Nana, ada apa?" Tanya Abi saat membuka pintu sudah ada Nana di hadapan nya.
"Kakak suka sambel emak Tia tadi nggak?" Tanya Nana penasaran membuat Abi terkekeh bahkan sampai mengacak rambut Nana gemas.
" Suka banget, enak Loh na, Nana mau biar nanti kakak cari ke seluruh mini market mau?" Nana menggeleng ia mengangkat satu paperbag.
"Nggak usah kak Abi, Nana malah ketemu owner nya langsung, nih nana bungkusin buat kakak, macem macem sambel kak." Ujar Nana riang, Lani sudah tak tahan lagi ia segera memasuki apartemen nya melihat interaksi kedekatan mereka berdua.
Ceklek
Nana memasuki apartemen namun dia heran kemana papi nya, mungkin di kamar nya.
Nana melangkah menuju kamar milik nya. Sekarang Nana memutus kan untuk tinggal saja kembali di kamar ini.
Jujur saja hati nya sakit melihat sikap serta ucapan yang Lani lontarkan di rumah mak Tia.
"Huh, lelah nya." Gumam Nana memejam kan mata, biasa setelah kenyang pasti akan mengantuk.
.
.
.
Jleb
Aaaaah
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...