
Lani keluar apartemen dengan tergesa gesa tujuan nya kali ini adalah kantor polisi.
Yap dia mendapat telfon dari Sela karna masalah bar.
"Sayang." Panggil Sela membuat Lani menghela nafas nya.
"Sel bisa nggak jangan panggil gue sayang!" Sentak Lani membuat Sela kaget, toh biasa nya juga ia panggil Sayang tak masalah.
"Kenapa? Biasa nya juga seperti itu kan, panggilan sayang bukan lah hal tabu untuk kalangan kita?" Kilah Sela walau dalam hati ia terusik dengan sikap lelaki yang ia cintai.
"Mulai sekarang jangan ada yang panggil gue sayang, kalau lo mau masih tetap kerja di bar ikuti perintah gue, dan katakan juga pada yang lain." Dengus Lani berjalan memasuki kantor polisi, tak mungkin ia menjawab karna hati nya terusik melihat mata Nana yang berkaca kaca mendengar suara mesra Sela.
.
.
..
.
Sore hari Nana jalan jalan di bawah lantai apartemen.
Kalau tanya soal tadi siang Sela yang memanggil Lani sayang Nana lebih memilih tak ingin tahu sebab menurut Nana sikap Lani yang sedikit melunak jauh lebih penting.
"Nana," Nana mendongak.
"Kak Abi habis belanja?" Tanya Nana saat melihat satu kantung besar dari tangan Abi.
"Iya ini kak abi beli banyak buat stok kalau lagi males masak." Nana melongok melihat isi plastik berlogo lebah itu, alis nya menyatu melihat satu toples yang menarik perhatian.
"Toples apa itu kak?" Abi duduk di sebelah Nana.
"Oh ini toples sambel pete mak tia." Nana menatap Abi.
"Kakak suka sambel pete?" Abi terkekeh dia mengacak rambut Nana gemas.
"Sebenar nya nggak, tapi kata kasir itu sambel lagi viral Na enak banget katanya bikin nagih." Jawab Abi membuat mata Nana berbinar.
"Iya kah kak?" Abi mengangguk.
"Nana pengin?" Tawar Abi saat melihat tatapan berbinar dari Nana.
"Tidak perlu!" Abi dan Nana mendongak melihat lelaki dengan setelan jas mendekat.
"Papi sudah pulang?" Tanya Nana senang.
"Kenapa di bawah." Nana tersenyum.
"Nana lagi nunggu Bim." Ucap Nana terhenti saat melihat ke tiga sohib nya datang.
"Kenapa nunggu di bawah sih yuk naik ke atas." Dengus Feri.
"Ini kita udah beli semua nya kita makan, gendong Bim, ni anak udah di bilang jangan jalan jauh masih aja ngeyel." Gerutu Bela, Bimo langsung menggendong Nana dan masuk ke dalam lift dengan Bela dan Feri meninggal kan Lani juga Abi yang sedang menganga.
"Mereka siapa nya Nana?" Tanya Abi pada Lani.
__ADS_1
"Orang tua nya." Dengus Lani sambil melangkah menuju lift satu nya, semenjak kehamilan Nana, dan semejak kejadian itu, Lani jadi mengenal para sahabat Nana, sebab mereka sering ke apartemen untuk menjaga Nana.
Lani menghela nafas nya melihat istri nya di kerubung para sohib nya.
Bela menaruh seluruh jajanan pinggir jalan yang mereka beli "Nah ini anak mama yang baik kita sudah beli yang kamu mau di makan yah?" Ucap Bela sambil mengelus perut Nana.
"Ambilin minum pah" Titah Bela, Lani menganga saat melihat Bimo sekilat mungkin menuju dapur.
"Ambilin bantal itu ayah." Feri segeran
mengambil bantal dan menaruh nya di punggung Nana agar nyaman.
"Nah sekarang makan yah,Mau yang mana?" Tanya Bela namun Nana menggeleng.
"Nggak mau itu lagi." Bela, Bimo dan Feri menghela nafas.
"Baik lah mau makan apa?" Tawar Bimo lembut.
"Mau makan sambel pete yang tadi kak Abi beli di minimarket bawah itu loh." Adu Nana dengan mata berbinar, sontak saja ketiga orang itu saling pandang.
"Beli nya di minimarket bawah?" Tanya Feri Nana mengangguk semangat.
"Baik, sebentar gue aja yang beli," Ucap Bimo.
"Eh ada duit nggak?" Tanya Bimo pada Bela.
"Abis kan buat beli jajan itu." Tunjuk Bela pada jejeran jajan di meja.
"Duit gue abis buat bayar angkot kan tadi." Ucap Bimo. Sebab ini akhir bulan.
"Cukup lah kayak nya kan cuma sambel pete." Jawab Bela.
"Ok dah gue beli dulu, eh nanti balik gimana?" Tanya Bimo.
"Gampang, jalan kaki kan bisa, dah sana beli keburu ganti lagi pengin nya." Cetus Bela membuat Bimo ngibrit keluar.
"Eh temenin yuk takut salah." Sontak saja Bela dan Feri mengikuti Bimo keluar apartemen Lani.
Nana memejam kan mata nya entah apa yang dia pikir kan.
"Mereka alasan aku ambil tawaran oma Las." Lani menatap Nana yang berucap tiba tiba tanpa ia tanya.
"Mereka melakukan apa pun demi aku, begitu juga sebalik nya, aku lakukan apa pun agar kami bisa hidup di ibu kota yang keras ini, mereka tau semua nya tentang diri ku mereka tahu bagaimana aku, bahkan mereka sanggup menjaga ku juga bayi ku jika papi tak mau lagi dengan ku dan bayi ini." Lani menatap Nana dengan nanar.
"Namun aku sadar kamu jauh lebih menginginkan anak ini dari apa pun," Nana membuka mata nya menatap mata Lani.
"Itu sebab nya aku akan meninggal kan nya walau aku berat melakukan nya." Lirih Nana dengan air mata yang terus meleleh.
"Jika nanti papi ingin menikah lagi Nana mohon berikan anak ini pada mereka, biar mereka yang menjaga nya, merawat nya juga membimbing nya." Ucap Nana.
"Kau tetap mau pergi?" Ucap Lani dingin.
"Umur hanya Tuhan yang tahu pih." Nana menutup mata nya.
"Kau sudah berjanji tidak akan meninggal kan ku jadi tepati janji itu! gara gara sumpah itu aku tak bisa bermain dengan wanita lain jadi kau harus bertanggung jawab." Nana membuka mata nya dia mengangguk lemah namun dengan senyum getir nya.
__ADS_1
"Iya pih,"
Ting tong
Ting tong
Lani membuka pintu apartemen nya dia kira ke tiga sohib nya Nana tahu sandi nya ternyata tidak.
"Ah Na sambel nya habis, atau mau gue buatin aja yah?" Tawar Bela membuat Nana terkekeh.
"Udah nggak pengin lagi kok,"
"Ya udah deh kita balik yah." Ucap Feri.
"Kalian pulang pakai apa?" Tanya Nana.
"Angkot, masih ada kok uang nya kan nggak jadi beli sambel." Jelas Feri dia tahu Nana akan memberikan uang pada mereka.
"Gue boleh minta tolong nggak." Jelas saja ketiga sohib nya mengangguk semangat.
"Duit gue abis di dompet, kalian ambilin yah nih atm gue, sandi nya tanggal hari lahir gue." Ucap Nana di angguki Bela.
"Mau ambil berapa?" Tanya Feri.
"Sejuta aja dulu, oh iya gue mual liyat jajanan ini kalian bawa gih." Titah Nana.
"Iiz lo mah, baik lah kita balik yah, lo ati ati di rumah inget jangan banyak gerak dan stop olah raga malam nya." Ketus Bela pergi di ikuti kedua lelaki tanpa pamit apa pun pada Lani seolah lelaki itu hanya sebatas pajangan ruangan.
"Kamu sengaja kan ngerjain mereka?" Tanya Lani,
"Mereka tidak pernah jajan pi karna harus hidup ngirit sampai dapet pekerjaan sampingan yang pas, sedang mereka lebih memilih jalan kaki asal bisa makan nasi, tapi lihat lah pi mereka rela merogoh saku yang mereka tahan hanya untuk ku tanpa peduli mereka bisa makan atau tidak, soal atm, itu uang tabungan ku pih, atm papi Nana taruh di meja nakas toh sekarang Nana sudah nggak masak." Lirih Nana mata nya berkaca kaca jika mengingat ke tiga sohib nya.
"Lalu soal sambal?" Nana mengangguk.
"Kalau soal sambal pete itu memang aku mau pih, tapi kan sudah habis." Jelas Nana.
"Sambel pete apa?" Nana mengingat ingat apa nama nya tadi.
"Eeem oh iya sambel pete mak Tia." Ucap Nana berbinar.
grep
Aah
Pekik Nana saat diri nya di gendong Lani.
"Kita mau kemana pi?" Tanya Nana.
"kata nya mau sambel pete?" Ucap Lani sambil berlalu keluar apartemen nya.
"Kan habis pi?"
"Kita ketemu langsung sama pembuat nya."
"Apa.!!!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...