AKIBAT SALAH SUMPAH

AKIBAT SALAH SUMPAH
anak kita


__ADS_3

Lani membelai pipi Nana lembut.


"Terimakasih sudah mau bertahan sampai sejauh ini, maaf kan aku yang sudah egois Na." Nana tersenyum memegang tangan Lani yang masih berada di pipi nya.


"Sama sama, dan maaf kan Nana juga jika di awal pertemuan kita Nana memanfaat kan papi, tapi sungguh saat Nana mengenal papi Nana sangat mencintai papi, cinta Nana tulus untuk mu pi," Ucap Nana lirih, mata nya berkaca kaca,


"Uuussst papi tahu, maaf kan papi, kita mulai semua nya dari awal ok sayang." Nana mengangguk.


"Apa papi sedang ada masalah?" Lani menghela nafas nya, memeluk Nana membelai perut Nana pelan.


"Iya sayang, ada masalah di bar papi, ada yang tega mem fitnah papi dengan menaruh nar.koba di bar milik papi." Nana membola bukan karna nar.koba namun lebih ke Lani yang memiliki tempat usaha, karna setau diri nya Lani hanya bekerja di Mareeta grup.


"Lalu pih." Lani mencium pipi Nana gemas.


"Tapi kamu tenang saja, papi sudah menemukan sedikit bukti," Nana tersenyum.


"Semoga semua cepat selesai pi." Lani mengangguk.


"Iya sayang, yuk kita tidur." Ajak Lani, Nana ikut memejam kan mata nya.


Pagi menjelang Lani mendapat telfon dari Coki akhir nya memutus kan untuk segera pergi, namun sebelum pergi Lani sudah menyiapkan makanan untuk Nana.


"Papi pergi dulu ya sayang cup." Bisik Lani lalu segera keluar apartemen.


Lani mengemudi kan laju mobil nya dengan cepat, tangan nya terkepal saat Coki memberi tahu dalang di balik kejadian tempo hari.


Langkah Lani yang lebar memasuki bar milik nya tak peduli sapaan dari para bawahan nya, satu tujuan nya yaitu bertemu Coki.

__ADS_1


"Cok." Panggil Lani ketika sampai di ruangan nya.


"Cepet Lan sini, lo liyat anak buah kita sudah menemukan dalang nya." Tunjuk Coki pada layar laptop nya.


"Kurang ajar! Jadi ini semua ulah Flo. Bang.sat!" Lani sungguh geram ketika semua bukti mengarah pada wanita yang di jodoh kan dengan nya.


"Gue yakin dia mau balas dendam karna pertunangan kalian batal, atau karna memang lo dari awal nggak suka sama dia." Cetus Coki namun bibir nya mengeluar kan seringai puas.


"Sebentar lagi dia akan merasakan dingin nya jeruji besi Lan, lo tenang aja." Sambung Coki membuat Lani senang.


"Aku tidak mau hanya itu, karna aku yakin ayah nya akan berusaha mengeluar kan nya." Coki mengerutkan alis nya mencoba mencerna ucapan dari sahabat nya.


"Lalu?" Lani menepuk pundak Coki dan membisikan sesuatu.


"Hancurkan semua usaha nya." Coki menganga menghancurkan semua usaha Flora.


"Semua Lan?" Ucap Coki dengan terbata apa kah betul betul semua nya.


"Baik lah, karna Flo juga berniat menjatuhkan usaha kita, serta dia mau jebak lo, maka kita pun harus buat dia jatuh sampai tersungkur hingga dia malu untuk berdiri kembali." Ujar Coki dengan mantap.


"Yap."


.


.


.

__ADS_1


Sedang di apartemen air mata Nana jatuh saat melihat darah keluar dari ******** nya.


"Mami mohon sayang, bertahan lah." Gumam Nana mengelus perut nya, dia sudah menghubungi ke tiga sahabat nya untuk segera sampai ke apartemen.


Mula nya saat Nana bangun tidur hendak mandi ada darah yang menjalar walau tak banyak tetap saja Nana takut setengah mati, jangan sampai ia kehilangan buah hati nya.


Nana berjalan pelan menuju pintu saat mendengar bunyi bel.


Ceklek.


"Astaga Na, kita segera ke rumah sakit." Pekik Bimo dan Feri segera menggendong Nana.


Mereka segera membawa Nana ke rumah sakit,


"Dokter! Tolong.!" Teriak Bimo, Bela dan Feri, Lantas Nana segera di bawa ke UGD.


"Semoga anak kita baik baik saja." Gumam Bela,


"Dia akan baik baik saja." Bimo memeluk Bela guna menenang kan nya, terlebih melihat mata Bela yang sudah berkaca kaca. Sungguh diri nya pun sangat khawatir dengan Nana dan anak nya. Atau yang biasa mereka sebut anak kita.


Tak ada kah yang ingat dengan Lani? Maka jawaban nya ingat namun lebih ke enggan, mereka bertiga belum tahu soal Nana yang sudah berbaikan dengan Lani.


"Apa kita harus beri tahu suami nya?" Tanya Bela dalam dekapan Bimo.


"Tidak usah. Biar kan saja dia kalang kabut mencari Nana." Gerutu Feri sungguh diri nya geram melihat keadaan Nana pagi ini.


"Feri benar, biar kan saja si tua itu mencari cari Nana, itupun kalau memang dia mencari, bukti nya pagi pagi Nana sudah di tinggal dalam keadaan mengkhawatir kan.

__ADS_1


"Enak bener jadi suami cuma tahu nggenjot aja." Sambung nya dengan emosi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2