
Setelah mendapatkan bukti Lani segera memberikan nya pada Coki mereka mengerjakan nya malam ini juga.
"Sial siapa dia." Cetus Lani mengepal tangan nya erat saat melihat seseorang menyelinap membawa barang haram tersebut.
"Kita serah kan saja bukti ini pada polisi." Usul Coki,
"Baik lah, besok kau serah kan saja, tapi tetap salin karna aku ingin mencari bukti sendiri." Lani melirik jam di dinding.
Huft ternyata sudah jam satu dini hari. Batin Lani gelisah, sedang Coki yang melihat itu mengerutkan alis nya.
"Kenapa Lan?"
"Gue balik lah, sudah terlalu malam." Coki menganga apa kata nya terlalu malam, biasa nya juga sampai jam tiga.
Coki yang ingin bertanya pun ia urung kan sebab Lani sangat terburu buru.
Ceklek.
Lani menghela nafas nya saat melihat Nana tertidur di sofa ruang santai dengan hati hati Lani mengangkat nya menuju ranjang.
Rasa lelah yang hinggap ke tubuh Lani membuat nya cepat terlelap hingga tak terasa hari sudah pagi namun seolah enggan untuk Lani membuka mata nya.
"Pii bangun, sudah pagi loh." Lani menggeliat diri nya merasa terusik mendengar suara Nana juga elusan di pipi nya.
"Bangun yuk pih." Lani membuka mata nya tepat saat diri nya menengok ke kiri di mana ada Nana di yang sedang membangun kan nya.
Cup.
"Morning kiss papi." Lani terpaku sejenak sebelum akhir nya dia memilih membersihkan diri.
"Papi baju nya sudah Nana siap kan." Lani hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Papiiii." Rengek Nana karna Lani hanya diam saja.
__ADS_1
"Hemmm." Nana tersenyum walau hanya satu kata bahkan bukan kata, hanya sekedar hemm namun Nana sudah senang.
"Aku tahu kamu mencintai ku pi, dan rasa itu tidak akan hilang semudah itu, terlebih kamu membawa ku ke ranjang semalam cukup untuk membuktikan kamu peduli pada ku pi." Gumam Nana.
Nana memilih keluar menuju sofa, dia sudah memesan makanan untuk nya juga Lani, jadi Nana menata nya di sofa saja entah kenapa semenjak hamil Nana ingin selalu duduk di sofa.
Nana mengerutkan alis nya melihat Lani yang sangat terburu buru seperti terkejar waktu.
"Pih tidak mau lihat perkembangan baby?" Tawar Nana, langkah Lani terhenti dia menatap Nana.
"Aku sibuk." Nana menghela nafas nya melihat Lani pergi.
"Mau sampai kapan pih kamu sedingin itu pada ku." Gumam Nana dia memilih memakan sarapan nya dari pada memikirkan Lani.
.
.
.
.
ceklek.
"Kalian sudah sampai?" Bobi, Bela juga Feri mengangguk.
"Udah yuk kita bersiap kita lihat perkembangan baby kita." Pekik Bela senang.
"Tapi kita naik apa?" Tanya Bimo.
"Taksi online sudah gue pesan yuk." Ajak Nana.
Mereka bersama menyusuri lorong rumah sakit untuk bersiap melakukan pemeriksaan rutinan, mengantri juga ikut masuk ke ruang pemeriksaan sampai sampai dokter kandungan berfikir mereka kembar empat.
__ADS_1
"Perkembangan yang sangat bagus bunda, Lihat lah?" Semua tersenyum melihat bentuk nya seperti anak tikus saja kecil sekali kalau kata Feri.
"Apa bunda sudah merasakan gerakan ynag di hasil kan baby?" Nana mengangguk mata nya berkaca kaca tersenyum melihat sang buah hati tumbuh dengan sehat. Lima bulan ia sudah hadir di perut Nana, selama lima bulan juga ia kehilangan cinta dari sang suami.
"Emmm dok maaf, tapi terkadang ada flek apa tidak masalah?" Tanya Nana hayi hati, sungguh ia merasa ketakutan.
"Mohon maaf apa olah raga malam nya sering anda lakukan." Nana mengangguk malu.
"setiap hari dok, tapi kita pelan pelan kok dok." Ucap Nana, dokter menghela nafas nya.
"Seharus nya sebelum trimester pertama jangan dulu berhubungan seperti yang saya ucapkan sekalipun pelan pelan tetap saja goncangan nya akan mempengaruhi si janin bunda." Nana mengangguk mendengar ucapan dokter memang ia salah di trimester pertama hingga sekarang tiada hari tanpa berolah raga, entah lah suami nya seperti selalu kehausan setiap malam nya.
"Apa ada masalah dok?" Tanya Nana saat melihat dokter sedikit mengerutkan alis nya.
.
.
.
"Udah gue bilang lo keluar aja deh dari apartemen laki tua lo itu." Dengus Bimo berapi api, posisi mereka lagi duduk di taman rumah sakit sambil makan telur gulung.
"Nggak bisa Bim ini semua terjadi juga gara gara gue kan?" Ucap Nana lirih membuat Bela mendengus.
"Tapi lo kek kaya pemuas naf.su nya dia aja, udah lah tinggal kan dia kita besarin anak itu sama sama, dia nggak akan kurang apa pun kita akan rawat dia, dia bakal punya emak dua bapak dua." Sahut Bela berusaha membujuk Nana, toh mereka sudah memiliki kerja sampingan.
"Di masa lalu nya dia sudah terluka oleh mantan tunangan nya dan sekarang gue menabur garam di luka itu, wajar kan dia marah, wajar pula gue ingin bersama lelaki yang gue cinta, terlebih dia suami juga ayah anak yang gue kandung." Ucap Nana menunduk.
"Na, maaf bukan maksud kita ngga mikirin perasaan lo, kita dukung kok apa mau lo asal lo bisa jaga diri baik baik terlebih lo ada masalah di kandungan lo, kita cuma pengin tetep bersama Na," Ucap Feri mengelus punggung Nana dia tahu Nana begitu dilema.
"Kita balik yuk, gue pengin istirahat di rumah." Pinta Nana. Mereka bersama pulang dengan taksi online.
Setidak nya mereka tidak membahas papi lagi. Gumam Nana dalam hati.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...