
Nana yang tertidur terusik dengan gerayangan di tubuh nya. Saat Nana membuka mata nya.
Jleb
Aaaahh
"Piiih keh napah." Tanya Nana di sela sela de.sa han nya.
"Na panas Na cup." Nana mendelik saat mendapat ciu.man panas dari suami nya, tatapan mata yang berbeda dari biasa nya.
"Aah Na, aku di jeh bak."
"Mak sud pa pih." Lani menghentikan hentak kan nya.
"Nanti aku jelas kan Na, ku mohon aku ingin menuntas kan nya." Pinta Lani memelas, Nana tersenyum tatapan itu yang Nana kenal, papi manis nya.
Cup.
Kali ini Nana yang memimpin lebih dulu jalan nya permainan dengan beberapa kali memberi peringatan pada Lani agar mengurangi kecepatan sebab ada si utun di dalam.
Aaaahh.
Era.ngan panjang keluar dari bibir ke dua nya saat menggapai puncak nirwana bersama.
"Na," Panggil Lani membuat Nana membuka mata nya menatap mata hangat Lani yang seperti saat pertama kali Nana kenal.
"Kenapa piih."
"Aku ingin lagi." Pintanya penuh harap, sedang Nana mengelus rahang Lani.
"Katakan dulu ada apa?" Lani menarik selimut dan berbaring di sebelah Nana.
"Aku di jebak Na." Nana melihat Lani ya g terpejam.
Flasback on.
Saat sampai di kamar Lani memilih mangguyur tubuh nya dengan air untuk menghilangkan amarah di hati nya.
Marah saat melihat istri nya bersikap acuh tak acuh pada nya, marah saat melihat kedekatan istri nya dengan tetangga sebelah,
Tak di pungkiri Abi memiliki pesona yang tinggi, wajah yang rupawan juga senyum yang manis.
Lani takut Nana berpaling namun enggan mengucap kan nya, ego nya terlalu tinggi.
Lani menghela nafas nya saat diri nya hanya bisa menerima takdir, kalaupun Nana pergi meninggal kan nya, ia pun akan menjadi duda seumur hidup nya karna akibat dari sumpah nya ia tak akan bisa berhubungan dengan wanita manapun kecuali Nana.
"Nana." Gumam Lani, diri nya ingin memeluk Nana, ingin mengelus perut Nana.
Lani bergegas mandi dia akan menemui Nana.
__ADS_1
Lani yang baru saja keluar kamar mandi mengerut kan alis nya saat melihat ada panggilan telfon dari Flora.
"Untuk apa dia menghubungi ku." Gumam Lani dia mengangkat panggilan telfon dari Flora, awal nya ia enggan namun dia penasaran ia berfikir ada hubungan nya dengan bar milik nya.
"Halo."
"Lan."
"Katakan. Jika tidak penting aku akan mematikan sambungan telfon nya." Ujar Lani cepat.
"Lani apa kau betul betul sudah menikah." Lani menghela nafas nya saat mendengar suara putus asa dari sebrang telfon nya.
"Iya." Terdengar suara isak tangis dari Flora namun Lani tetap diam menunggu Flo tenang.
"Lan, bisakah kau menemuiku untuk yang terakhir kali nya," Lani mengerutkan alis nya.
"Aku tidak bisa ini sudah malam besok saja." Ucap Lani saat melirik jam di dinding nya menunjukan angka delapan malam.
"Sekali ini saja Lan, ku mohon." Lani tahu Flo sedang frustasi di dengar dari suara nya.
"Baik lah." Lani mendesah kesal karna tak bisa berbuat apa apa.
"Temui aku di bar milik mu." Lani berdecak ia mematikan sambungan telfon nya.
"Merepotkan." Lani memakai baju nya dan menyambar kunci mobil dia ingin masalah ini cepat selesai, dia akan bilang pada Flo untuk mengakhiri rasa suka nya karna hanya akan sia sia.
Karna diri nya sudah menikah.
Ceklek.
"Duduk lah Lan, nikmati minuman kita malam ini." Lirih Flo dengan mata berkaca kaca membuat Lani mau tak mau akhir nya duduk di depan Flo yang sedang menenggak minuman nya.
"Aku tak mau basa basi Flo, hubungan kita tak lebih dari hanya saling kenal, hubungan kita memang tidak dekat sama sekali sedari dulu hingga sekarang bahkan hingga nanti." Ucap Lani dengan tegas.
"Aku tahu Lan, makan nya aku akan pergi tapi temani aku dulu untuk minum." Pinta Flo memelas, Lani tanpa pikir panjang menenggak minuman nya, toh ini bar milik nya inih.
"Lan, mau makan?" Tawar Flo, sedang Lani menggeleng dengan cepat.
"Tidak." Karna memang ia sudah makan di rumah Tia.
"Seperti apa istri mu Lan?" Lani menatap Flo aneh mendengar pertanyaan Flo, pertanyaan macam apa yang Flo utarakan ini.
"Dia baik untuk ku, dia sempurna untuk ku." Flora mengangguk lantas menatap Lani intens.
Lani mendongak melihat apa kah ac di ruangan ini mati atau memang cuaca sedang panas?
"Kenapa Lan? Panas hem." Lani mendelik saat Flora melepas dres nya pelan pelan. Gerakan yang sangat sen sual.
"Ck jadi ini jebakan mu?" Lani berujar dengan dingin. Sedang Flora terkekeh dia mendekat pada Lani.
__ADS_1
"Mauh mencobah nya Lan?" Des sah Flo sambil meremas dua gundukan nya dengan bibir yang ia gigit sungguh sangat menggoda di mata lelaki normal.
"Bahkan jika kau telan jang pun tak akan berpengaruh untuk ku Flo." Sahut Lani, membuat Flora tergelak.
"Hahaha kau munafik Lan." Lani mendengus lantas berdiri di hadapan Flora.
"Lihat. Bahkan milik ku tak bangun sama sekali." Tunjuk Lani pada milik nya di balik celana yang ia kenakan membuat Flora menganga apa apaan ini, apakah ini alasan Lani tak menikah hingga saat ini, namun bukan kah tante Las sudah mengumum kan pernikahan Lani, bahkan kata nya istri Lani sedang mengandung.
"Lan, kamu." Ucap Flora terbata.
"Impoten? Dengan senang hati aku jawab iya." Jelas Lani bodo amat lah jika kabar ini akan tersebar ke seluruh penjuru negri toh ia yakin akibat dari sumpah nya ini tak akan bisa sembuh seperti sedia kala.
"Gue balik, kalau lo mau main noh sama Coki." Decak Lani keluar dari private room dengan mengibas kibas kan kaos nya, panas, gerah, dan pusat tubuh nya ah entah lah.
Dia bergegas menuju apartemen nya.
Nana.
"Shittt kenapa langsung tegak gini cuma mikirin Nana." Decak Lani menambah kecepatan berkendara nya.
Lani berjalan dengan cepat bahkan sampai berlari menuju unit nya.
Ceklek.
Lani membuka kamar Nana, dia segera melepas seluruh baju nya dan memasuki kamar mandi.
di bawah guyuran air dingin adalah keputusan yang tepat untuk Lani agar diri nya tak terlalu ganas jika menyentuh Nana.
Saat keluar kamar mandi Lani berjalan pelan ke ranjang, membuka selimut yang menutup tubuh Nana.
Glek.
Lani betul betul heran padahal Nana memakai baju tidur tertutup namun kenapa begitu menggoda.
Di tarik nya celana yang Nana kenakan dengan pelan pelan ia berharap Nana tak terusik karna Lani kasian melihat Nana yang sudah terlelap.
Lani tersenyum saat melihat tempat kebahagiaan nya. Membuka pelan pelan pa.ha Nana.
Eeennghh
Lenguhan lirih Nana terdengar saat Lani menyusuri nya dengan sapuan Lidah nya.
"Eeemmmm." Terlalu nikmat untuk Lani bahkan sampai terdengar gumaman kenikmatan dari bi.bir Lani.
"Kau sungguh nikmat sayang." Desis Lani memposisikan inti nya untuk masuk menyusuri rasa yang jauh lebih nikmat.
Jleb
Aaahh
__ADS_1
Flashback off
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...