AKIBAT SALAH SUMPAH

AKIBAT SALAH SUMPAH
oma Las


__ADS_3

Entah kenapa pagi ini setelah bangun tidur Nana hanya bisa duduk, kepala nya seolah berat, dia hanya bersandar di sofa dengan mata menatap langit langit.


Setelah aku melahir kan apa kah aku harus pergi. Batin Nana berperang, ingin tetap bertahan dengan cinta nya, namun akan kah ia mampu, sedang Nana hanya lah bocah yang masih butuh kasih sayang, ia butuh di manja, ia butuh di belai.


Aku rindu pii.


Ceklek


Lani keluar kamar nya dengan setelan jas yang sudah rapih, berjalan melewati Nana ia tak peduli lagi pada Nana,


"Piiii." Panggilan Nana nampak nya tak memperhentikan langkah Lani.


"Huft, biar lah, untuk kali ini saja biar kan aku membiarkan mu pergi." Gumam Nana sembari memegang kepala nya.


Tapi aku laper.


Ting tong


Ting tong.


"Ah siapa pagi pagi datang." Decak Nana sembari merayap berpegangan tembok untuk menyangga rasa pusing nya.


Ceklek.


"Hai sayang." Nana terpaku melihat oma Las ada di hadapan nya. Nana takut akan di labrak oma Las,


"Iii iya oma, silah kan masuk oma." Nana membuka pintu lebih lebar ia duduk di ruang tamu sungguh kepala nya masih pusing.


"Na kamu sakit?" Ujar oma Las khawatir sebab melihat wajah pucat Nana.


"Oma, Nana pusing." Adu nya manja, hilang sudah rasa takut nya ketika tiba tiba rasa pusing itu datang.


"Sini oma pijitin, kamu ini habis ngapain kenapa muka sampe pucet gini, apa tugas kuliah mu sangat banyak?" Nana menggeleng, ia ragu untuk mengatakan karna diri nya sedang hamil.


"Bukan oma." Nana menghela nafas nya memejam kan mata nya karna rasa nyaman mendapat pijitan di kepala nya dari oma.

__ADS_1


"Na, semalam acara pertunangan Lani dan Flo batal." Nana membuka mata nya, jadi semalam batal, harus kah Nana teriak senang, namun hubungan nya dengan Lani pun di ambang kehancuran.


"Maksud oma?"


"Lani bilang kalau dia sedang menjalin hubungan dengan gadis yang ia cintai, bahkan dia akan mengurus surat surat pernikahan nya secepat mungkin, apa Nana tahu siapa gadis itu?"


Deg.


Gadis itu aku oma, lebih tepat nya mantan gadis. Nana hanya bisa menjawab dalam hati.


"Eeemm memang kenapa oma? Apa oma akan memarahi gadis itu, oma akan melabrak nya dan memberikan uang pada nya agar dia meninggal kan papi, dan papi bisa menikah dengan Flo." Oma Las terkekeh mendengar nada bicara Nana yang menggebu seolah olah diri nya sedang mengutarakan rasa keberatan nya.


"Hahahaha mana mungkin," Nana mengerutkan alis nya, mana mungkin arti nya?


"Lani sudah mau serius dengan perempuan saja oma sudah sangat beruntung Na, oma justru ingin berterimakasih dengan gadis itu." Lirih oma Las, sungguh diri nya merasa bersalah karna semalam, niat hati ia datang ke sini untuk mengembalikan ponsel Lani.


"Oma, ji jika perempuan itu aku, apa oma akan marah." Tanya Nana terbata, Nana menahan nafas nya saat pijitan di kepala nya terhenti apakah oma Las akan marah pada nya.


"Na kamu." Nana membalikan tubuh nya menghadap oma Las, memegang tangan oma Las dan menatap nya dengan pandangan memelas.


"Na, coba ceritakan pelan pelan agar oma tahu." Nana berusaha tenang, dia menceritakan semua nya dari awal hingga kejadian kemarin membuat oma Las kaget bukan main, namun ada senyum di wajah nya ketika mendengar Nana sedang hamil.


"Apa perlu oma yang bilang sama Lani Na," Tawar oma Las dia merasa ini juga ada sangkut paut nya, akar dari permasalahan ini adalah diri nya.


"Nggak usah oma, biar Nana saja yang bujuk papi, oma Nana laper." Rengek Nana membuat oma Las terkekeh.


"Baik lah biar oma masak untuk mu." Oma Las dengan semangat hendak menuju dapur, namun secepat kilat Nana menghentikan nya.


"Jangan oma!" Pekik Nana membuat oma Las terjingkit kaget.


"Kenapa Na?"


"Eeem Nana nggak mau oma masak, karna Nana mual kalau bau bumbu oma." Oma Las mengangguk dia memaklumi keadaan Nana karna sewaktu dia hamil Lani pun sama ia sangat tidak suka dengan bau bumbu masakan. Terlebih bawang putih.


"Baik lah, oma pesan makanan dulu yah." Nana mengangguk.

__ADS_1


"Oma bisa pesan juga makanan buat papi, Nana nggak bisa masak buat papi." Pinta Nana memelas.


"Iya sebentar oma pesan untuk Lani juga."


.


.


.


.


Di kantor Lani berjalan dengan wajah yang dingin, wajah yang sangat berbanding terbalik dengan biasa nya.


"Pagi pak Lani." Sapa beberapa kariawan namun Lani enggan menjawab.


Sesampai nya di ruangan nya, Lani duduk di sofa mendongak ke atas, hati nya sakit, namun ada setitik rasa bahagia saat mendengar Nana hamil.


Anak ku.


Mata Lani berembun mengingat dia akan menjadi ayah, namun juga terluka saat istri nya ternyata mendekati nya hanya karna uang semata.


Ceklek.


Lani yang emosi karna pintu langsung di buka tanpa mengetuk pintu, lantas segera mengeluarkan suara menggelar nya.


"Bisa nggak ketuk pintu dulu hah.!" Bentak Lani masih dengan posisi nya.


"Hei. Suka suka gue ini kantor punya gue!" Lani terjingkit mendengar sentak kan dari Lintang.


"Big boss." Gumam Lani yang segera duduk dengan tegap.


"Apa big big babi."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2