
Setiba nya di apartemen Nana turun dan melangkah menaiki lift.
"Hai Na?" Nana mendongak.
"Kak Abi, nggak kerja?" Tanya Nana melihat Abi memakai baju santai.
"Cuti Na." Nana mengangguk mereka keluar dari lift bersama menuju unit apartemen mereka.
"Sudah kelihatan Na, berapa bulan itu?" Tanya Abi.
"Lima bulan kak, Nana masuk ya kak?" Pamit Nana, dia takut Abi akan berbicara panjang kali lebar, untung lah sejak pertama tahu diri nya hamil Abi tak pernah membahas siapa ayah yang di kandung nya.
"Iya Na kakak juga mau istirahat dah Nana." Pamit Abi dan di balas lambaian tangan dari Nana.
Nana masuk apartemen dia melihat jam di dinding masuk jam makan siang apa kah papi nya nggak pulang?
Ceklek.
"Loh pih ada di belakang Nana?" Tanya Nana saat melihat Lani membuka pintu yang Nana baru saja tutup.
"Siapa tadi, klien kamu kah?" Ketus Lani, Nana membuang nafas nya.
__ADS_1
"Tetangga pih, dia yang dulu bantu Nana bawa belanjaan banyak, papi bawa apa itu?" Tanya Nana berusaha bersikap biasa walau hati nya berdenyut nyeri.
"Makanan." Nana mengangguk menuju meja makan nya,
"Kita makan dulu yuk pih?" Ajak Nana berusaha sebiasa mungkin.
Mereka makan dengan diam terlebih memang setelah kejadian itu Lani memang cenderung lebih diam.
"Papi masih lama di sini kan?" Lani menatap Nana tanda Nana melanjut kan ucapan nya.
"Duduk dulu di sana yuk pih?" Lani dan Nana duduk di sofa ruang santai.
"Nana tahu, kesalahan Nana tak bisa termaafkan tapi pih bisa Nana minta sesuatu?" Lani yang semula sedang mengetik di ponsel nya mendongak melihat Nana.
"Ada apa." Ucap Lani dingin.
"Papi ingin anak kan?" Lani terdiam. Nana mengambil tangan Lani dan menaruh nya di perut nya yang mulai menonjol.
"Papi bisa rasakan tidak gerakan pelan di perut Nana, tanda baby senang di sentuh papi nya." Lani menatap perut Nana memang dia merasa ada gerakan kecil di sana.
"Papi marah sama Nana nggak papa, Papi kecewa sama Nana itu hak papi, tapi anak ini darah daging papi, dia tidak bersalah, dia tidak tahu apa apa, jika Papi ingin Nana pergi, Nana akan pergi setelah melahirkan, Nana cuma minta jaga anak kita dengan baik, Nana sadar Nana tidak bisa merawat nya dan Nana yakin papi akan jadi orang tua yang bijak untuk nya, Nana mohon selama dia belum Lahir biarkan dia merasakan keharmonisan hubungan papi dan mami nya, setidak nya sebelum Nana pergi dia pernah merasakan kebahagiaan ke dua orang tua nya ketika bersama, Nana janji tidak akan ganggu kalian setelah Nana melahirkan pi." Pinta Nana memelas.
__ADS_1
"Kau tidak akan membawa anak ini bersama mu." Nana menggeleng sebisa mungkin ia tahan air mata nya.
"Alasan Nana menerima uang oma karna butuh uang pi, jika Nana membawa anak ini bersama Nana takut akan membuat nya menderita, Nana takut tidak bisa memberikan kebutuhan yang cukup untuk nya." Jawab Nana.
"Bukan nya kau sudah berjanji tidak akan pergi." Nana mengangguk mendengar pertanyaan Lani, air mata nya jatuh namun sebisa mungkin ia berusaha tersenyum menatap Lani.
"Nana memang berjanji tidak akan pergi pi, Nana tidak akan pernah meninggalkan papi, namun jika kehadiran Nana di sini membuat papi kurang nyaman, bahkan papi selalu bersikap dingin seolah bukan diri papi yang selama ini nana kenal, Nana memilih pergi asal papi bahagia."
"Kenapa kau lakukan itu." Nana menangkup pipi Lani menatap nya dengan serius.
"Karna Nana mencintai papi lebih dari apapun, Nana memilih pergi jika memang itu bisa membuat papi bahagia, asal papi bahagia cup." Nana menc.ium bi.bir Lani dan Lani juga membalasa nya, Nana tersenyum setidak nya kali ini Lani membalas nya tidak sehambar sebelum nya, Nana yakin cinta Lani sudah mulai bersemi untuk nya lagi.
Nana duduk di pangkuan Lani tanpa melepas lum.atan mereka, tanpa melepas pag.utan panas mereka.
Dreeet dreet
Terpaksa Nana melepas ciu.man nya saat Lani menerima telfon dari seseorang, dapat Nana lihat nama Sela tertera di sana.
"Halo." Ucap Lani.
"Sayang,"
__ADS_1
Deg deg deg
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...