Aku Bereinkarnasi Menjadi Pohon

Aku Bereinkarnasi Menjadi Pohon
Low 10: Kesalahan Fatal


__ADS_3

“Bwahahaha!.” Dewa Hades tertawa terbahak-bahak hingga perutnya sakit.


“Ohohoho!.” Dewi Persefone juga tertawa sambil menutupi mulutnya dengan kipas tangan.


Keduanya sedang menertawakan aku yang saat ini dalam wujud ranting kecil berbentuk manusia. “Kenapa aku kembali ke neraka?.” Aku tidak memperdulikan keduanya karena ditertawakan oleh mereka memang sudah menjadi hal biasa untukku.


Dum, Dum, Dum! Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berat berlari kearahnya.


Bldaan! Guncangan kuat dapat aku rasakan, merasa penasaran aku pun menoleh ke belakang hanya untuk menyesali pilihanku. Seorang raksasa yang terlihat seperti kentang jumbo setinggi dua meter melompat ke atas lalu terjun tepat arahku. “Tidaaaaaaaak!.” Tidak ada yang bisa aku lakukan selain berteriak saat kentang itu akan menimpa ku.


“Aaaaaaaaaa..… Eh?.” Aku terbangun dan menyadari jika sudah kembali ke gunung dimana aku dilahirkan di dunia baru. “Mimpi yang mengerikan.” Entah itu keringat atau embun yang membasahi batang dan daun ku, yang pasti aku merasa sangat dingin hingga ketulang .

__ADS_1


Berhasil menenangkan diri aku menatap langit pagi. Matahari masih bersembunyi di ufuk timur menjadikannya langit kemerahan. Tapi seperti hari kemarin, kota sudah begitu hidup bahkan sebelum mata hari menampakkan diri.


“Mari lihat apa yang aku dapatkan setelah berevolusi.” Jiwaku keluar dari dalam tanaman. Hal pertama yang aku sadari setelah berevolusi adalah daun di kepalaku yang semakin lebat serta ditumbuhi oleh bung berwarna merah seperti bunga sepatu.


Tercium bau harum nan manis dari bunga tersebut sehingga mengundang lebah untuk berdatangan. “Apa itu karena efek dari kemampuan pembuat nektar?.” Tidak ada alasan lain, semakin lama semakin banyak serangga yang berdatangan ke sekitar tempatku dilahirkan. Beberapa serangga mulai menggerogoti tunggul pohon milikku. Tidak ingin menjadi keropos aku pun meneriaki mereka dengan Skill [Death Scream].


“AAAAAA!.” Aku membayangkan penyayi gila yang pernah aku lihat saat menjelajahi kota, suara yang berisik memecahkan gendang telinga, hasilnya ribuan serangga mati di sekitarku. “Akan berbahaya jika ini terus berlanjut, sebaiknya aku menghentikan produksi nektar.” Setelah produksi nektar dihentikan wangi manis seperti madu pun berhenti tercium.


Aku terdiam saat melihat apa yang ada di dalam tanah,“Helo big girls.” aku memberi salam pada kentang jumbo berbentuk seperti bayi besar. Wujud dari king Mandragora membuatku agak bergidik ngeri.


King Mandragora memiliki tangan dan kaki, tapi saat aku mencoba mengangkatnya tidak terjadi apa pun, itu dikarenakan cabang dari ajar utama yang jumlahnya tidak terhitung mengikat erat di dalam tanah.

__ADS_1


Tidak menyerah aku menggunakan kemampuan [Root Control] untuk mengendalikan akar serabut agar masuk kembali kedalam akar utama. Usaha itu berhasil, tapi sebuah kesalahan fatal terjadi ketika kristal yang merupakan masa energi Mana dalam jumlah besar terlepas dari ajar yang menciptakannya.


Bledam! Ledakan gas terjadi, kabur biru menyebar keluar dari dalam tanaman. Energi Mana dalam bentuk kabut menyelimuti seluruh gunung. Akibatnya seluruh makhluk hidup entah itu binatang maupun tumbuhan mulai menunjukkan reaksi akibat radiasi.


“Berbahaya!.” Melihat kabut energi Mana yang mulai turun gunung, aku segera mengaktifkan fotosintesis untuk menyerap kembali energi Mana yang bocor.


Beruntung Kabut Mana tidak sampai menyebar di kota, tapi itu nyaris saja. Kebocoran energi Mana hanya terjadi kurang dari dua menit, namun aku yakin jika akan ada banyak hal yang berubah di gunung ini.



***

__ADS_1


To Be Continue


__ADS_2