
Kota Semarang, sebuah rumah yang terkenal dengan banyaknya pintu dalam bangunan memiliki sejarah panjang hingga menjadi ikon kota tersebut. Namun setelah outbreak, bangunan yang pintunya tidak mencapai seribu itu hingga sekarang menjadi sarang makhluk astral.
Inti dungeon mengambil alih Lawang Sewu menjadikannya sebuah dungeon. Monster jenis Undead bermunculan. Pocong, tuyul, genderuo, kuntilanak dan sejenisnya menjadi penghuni dungeon tersebut. Membuat Lawang Sewu kini benar-benar menjadi kerajaan gaib.
“Hyaaaaaaa!.” Seorang wanita dengan penampilan serba merah menjerit kesakitan saat terkena sinar ilahi dari lawannya.
“Kau... kau juga makhluk Undead tapi bagaimana bisa memiliki kekuatan suci!.” Kuntilanak merah yang tidak lain adalah master dungeon sekaligus penguasa Lawang Sewu sangat terkejut dengan kekuatan Hunter yang ingin membunuhnya.
Dia hanya seorang gadis yang usianya akan menginjak 21 tahun minggu depan, kulitnya pucat seperti mayat yang ditinggalkan dalam pendingin, sementara matanya merah seperti darah.
“Itu karena aku tidak menyukai hal yang disebut sebagai 'Kelemahan'.” Gigi taring yang panjangnya tidak normal terlihat di mulutnya setiap kali dia berbicara.
Salah satu entis terkuat dari kota Jahe, manusia pertama yang meninggalkan kemanusiaannya demi menjadi ras yang berbeda, hingga sistem menghadiahinya dengan julukan [The first leave humanity], namun orang-orang lebih mengenalnya sebagai si bibir merah April.
“Menyerahlah, aku akan mengakhiri ini dengan cepat tanpa rasa sakit.” ucap April sambil meminum satu kantung darah menggunakan sedotan.
“Menyerah! Kau pasti bercanda.” kuntilanak merah menolak saran April, dia akan berjuang hingga titik darah penghabisan.
“Haaa~ aku heran kenapa kalian selalu memilih cara paling sulit.” April merasakan Dejavu, seolah dia pernah berada dalam situasi seperti ini sebelumnya.
Lima menit kemudian.
“Oke aku menyerah...” ucap kuntilanak dengan air mata mengalir deras.
Terkapar di lantai dengan wajah penuh luka lebam, kepala dedemit wanita itu menjadi botak setelah rambutnya di bakar oleh April, sementara gaun Merah darah yang dua kebakaran telah gosong berubah menghitam sepenuhnya.
“Seharusnya kau mengatakan itu lebih awal.” April mengambil buku besar dari dalam kantung ajaib.
[1001 night tales book], sebuah item sihir tingkat Legendaris yang dapat memerangkap makhluk apapun di dalamnya. Siapapun yang masuk kedalam buku tersebut akan dikirim ke dunia petualangan, entah itu petualangan yang menyenangkan atau menyakitkan si pemegang buku lah yang menentukan.
“Kau akan memulai perjalanan untuk mencari jati diri. Belajar banyak hal hingga kau sadar jika hidupmu tidak hanya untuk dihabiskan di dalam dungeon.” Buku itu bercahaya saat April membukanya, selanjutnya kuntilanak merah merasakan tarikan kuat menariknya kearah buku itu.
“Setelah kau menyelesaikan perjalananmu, hadiah yang bisa kau dapatkan adalah… menjadi budak ku.”
__ADS_1
“Aaaaaa……” Tidak dapat menahan tarikan, kuntilanak pun masuk kedalam buku.
Setelah menghilangnya kuntilanak merah, ruangan sekitar seketika berubah menjadi bangunan terbengkalai biasa. Cahaya mulai masuk lewat jendela seolah memberitahu jika bangunan bersejarah itu yalah berhasil di disucikan dari para demit.
Pengelola gedung begitu berterimakasih pada April, namun tanpa peduli dengan semua sanjungan yang dia dapatkan April segera mengambil bayarannya dan segera berniat kembali ke kota Jahe.
Dalam perjalanan April melihat siaran langsung pertandingan Leah melawan cyborg G.I nose Mark 7.
“Pffft…” Gadis itu terkekeh saat melihat temannya dihajar hingga terlempar jauh oleh lawannya. “Sekarang drama apa yang akan dia tunjukkan?.” Di dalam sebuah pondok yang berjalan dengan dua kaki ayam, April menikmati perjalanannya kembali ke kota.
***
Benteng Van Der Wijck, Kebumen.
“Uwaaa…. Mereka benar-benar datang.” dari atas benteng, Emily dapat melihat ribuan monster bab_i bipedal yang biasa disebut Orc sedang menuju kearah benteng.
Para Orc merupakan monster dari sebuah dungeon yang ‘Meluap’.
Semua warga yang berlindung di dalam bentuk ketakutan ketika mendengar teriakkan perang para Orc yang semakin mendekat, melihat itu Riki kakak Emily bertanya pada adiknya.
“Kau tidak takut dengan para Bab_i itu?, Menurut cerita yang beredar sifat mereka sana seperti yang diceritakan dalam novel Fantasy. Mereka suka menghamili perempuan dari ras manusia.” pemuda itu mencoba menakut-nakuti adiknya.
“Hahaha… benar sekali, Emily tidak perlu takut karena aku akan melindungi mu.” Tiba-tiba seorang pemuda tidak jelas asal usulnya datang tertawa terbahak-bahak. Riki tiba-tiba merasa kesal dengan kemunculan pemuda itu, terlebih saat melihat usaha si pemuda untuk mendekati adiknya.
Riyan, salah satu teman sekolah Emily. Saat outbreak terjadi Riyan berhasil selamat bersama seluruh siswa karena berlindung di dalam markas militer.
“Uah, tiba-tiba aku merasa lebih terancam.” Emily menanggapi pemuda itu dengan datar. Riki senang dengan sikap adiknya, tapi melihat pemuda bergajulan itu pantang menyerah membuat Riki masih khawatir.
‘Aku harus secepatnya mendapatkan pasangan, jangan sampai adikku mendahului ku.’ batin Riki.
Pasukan Orc semakin dekat, Riki yang menjadi pemimpin pasukan bertahan pun segera memerintahkan pasukan panah dan sihir untuk menyerang.
Anak panah dan sihir menghujani para Orc mengakibatkan ratusan diantaranya terbunuh. Namun pasukan itu masih dalam jumlah yang mengancam.
Braaak! Gerbang benteng bergetar hebat saat Orc mencoba mendobrak. Semua warga semakin panik saat sadar jika monster yang telah membumihanguskan beberapa desa kini tepat di depan pintu benteng.
__ADS_1
“Pemanah dan penyihir arahankan serangan hanya pada monster di dekat gerbang. Sekarang saatnya untuk kaveleri udara beraksi!.”
Sebuah kapal terbang muncul dari balik awan, semua orang yang melihatnya merasa takjub ketika melihat kendaraan yang seharusnya mengarungi lautan kini terbang di atas langit.
Belasan monster terbang seperti Pegasus, Hippogrift, Griffin hingga Wivren meluncur dari deck kapal. Mereka adalah pasukan kaveleri udara dari guild Airsteam yang Riki dirikan.
Riki memimpin kaveleri udara, membabat ratusan Orc dengan Sekop yang diberikan oleh Azalea. Kini Sekop itu lebih baik dari saat pertama Riki mendapatkannya.
“Soul Colec!.” Riki mengaktifkan skill yang dapat menyimpan jiwa monster dalam sekop. Setelah jiwa yang diserap mencapai jumlah tertentu, Riki dapat memanggil monster tipe Undead.
“Army of the dead, aku memanggil kalian!.” Riki menancapkan sekop ke tanah, berikutnya pasukan kerangka mulai bangkit dari dalam tanah.
Pasukan mayat hidup terus berdatangan menyerang pasukan Orc. Anggota guild Airsteam yang lain pun tidak mau kalah dari pemimpin mereka.
“Kakak bodoh itu selalu saja terbawa suasana hingga lupa tujuan kita kemari adalah untuk memberikan anggota guild pengalaman (experience).” di ruang kemudi Emily mengawasi keadaan di bawah.
Serangan kaveleri udara dibantu dengan tembakan meriam sihir dari airship membuat pasukan Orc tidak mampu bertahan. Hanya berselang sepuluh menit setelah kedatangan kapal udara pertempuran dapat di selesaikan.
Beberapa kali gelombang serangan Orc menyerang benteng, tapi semuanya berhasil guild Airsteam atasi. Tiga gelombang dapat di lalui dengan mudah hingga keadaan benteng akan aman untuk sementara waktu.
“Jika kalian merasa tidak sanggup mengelola dungeon maka ajukan permintaan penaklukan ke asosiasi.” Riki memberikan saran pada penguasa wilayah.
Dungeon yang menghasilkan inti monster dan material berharga merupakan sebuah aset yang bernilai tinggi. Setiap daerah yang terdapat dungeon akan merasa dampak besar darinya jika di kelola dengan benar. Penjualan inti monster dan pajak dari para Hunter yang ingin memasuki dungeon bisa menjadi pemasukan daerah.
Tapi tentu ada resiko yang akan ditanggung oleh warga sekitar di mana dungeon berada. Jika tidak dikelola dengan benar maka monster dalam jumlah besar akan keluar dari sarang mereka.
Setelah pekerjaan di sana sudah selesai kapal terbang yang mengangguk seluruh anggota guild Airsteam pun bergerak menuju kota Jahe.
“Kakak lihat ada kejadian menarik di televisi.” Enemy menyalakan televisi dan memaksa kakak lelakinya untuk menontonnya.
“Apaan sih ribut-ribut… ” Riki terdiam saat melihat di layar kaca seorang wanita dipukul dengan begitu keras hingga terpental jauh oleh pemuda robot.
Prang! Melihat tayangan itu tanpa sadar Riki meremukkan gelas kaca yang dia genggam.
__ADS_1
***
To Be Continue.