
Entah sudah berapa lama waktu berlalu saat aku melakukan evolusi yang kali ini terasa lebih panjang dari yang pertama. Saat semua selesai dan aku membuka mataku, aku melihat langit sudah terang. Puncak gunung yang terlindung oleh bukit membuatku tidak dapat melihat matahari terbit seperti hari sebelum.
Agak sedih karena tidak dapat melihat pemandangan indah matahari terbit dan kesibukan kota di pagi hari. Terasa aneh karena sesuatu tidak lengkap, tapi mau bagaimana lagi semua ini aku lakukan untuk mencegah hal tidak diinginkan terjadi. Namun jika dipikir-pikir lagi, memangnya kota di bawah kaki gunung masih ada setelah bencana besar kemarin?.
Swiiing!
“Hem?.” Di langit aku dapat melihat pesawat jet terbang melewati puncak gunung, lalu...
Beberapa misil di luncurkan. “What the heck!.” Aku begitu terkejut saat melihat pesawat itu mengebom gunung, walaupun ledakkan yang ditimbulkan entah dimana mungkin di kaki gunung, tapi tetap saja membuatku jantung melihat beberapa misil ditembakkan.
Entah apa jadinya jika misil-misil itu mengarah padaku. Satu-satunya solusi yang bisa aku pikirkan hanyalah kabur ke tempat lain dengan kemampuan[Root Control].
“Sebenarnya apa yang pesawat jet itu bidik?.” penasaran aku pun mencoba untuk mengeluarkan jiwa dari dalam tubuh tanaman dan segera turun untuk melihat situasi dibawah gunung. “Aku sadar ini akan terjadi, tapi melihat akan separah ini membuatku merinding.”.
Hutan di gunung begitu berbeda dari kemarin. Pohon tumbuh dengan ukuran berkali-kali lebih besar, satu pohon tingginya bisa mencapai 40 hingga 60 meter. Bukan hanya pohon yang berubah, tanaman dan hewan pun mengalami mutasi akibat radiasi energi Mana.
Perhatianku tertuju pada bagian kaki gunung yang mengalami kebakaran, itu adalah titik misil di jatuhkan. Terlihat banyak mayat manusia bergelimpangan dengan kondisi terbakar akibat ledakan, “Gila apa pesawat jet tadi melakukan pembantaian pada orang-orang yang mencoba berlindung di gunung?.” Pikirku.
Tapi pemikiran jika mayat-mayat itu adalah para warga kota segera terbantahkan saat beberapa diantaranya kembali bangkit walaupun kondisi tubuh mereka sudah tidak utuh. “Zombie!.” Dengan mudah aku mengenali monster berjenis Undead itu.
“Tspi bagian dimana para zombie adalah warga kota tidaklah sepenuhnya kesalahan?.” Aku terus menatap para zombie yang mengenakan baju layaknya warga kota biasa. Sementara itu di kejauhan pesisir pantai ratusan ribu zombie berenang menuju dataran, mereka adalah para warga yang terseret ombak tsunami.
***
Ribuan zombie bergerak menuju gunung, tujuan mereka adalah tempat pengungsian yang terletak di titik peristirahatan para pendaki sejauh seribu meter dari kaki gunung. Banyaknya zombie yang berdatangan membuat semua orang panik, walaupun banyak tentara bersiaga dan terus menembak, tapi gelombang mayat hidup itu terus berdatangan.
__ADS_1
KBOOOM! Ledakan besar terjadi akibat misil yang dijatuhkan oleh pesawat jet. Ribuan zombie lenyap dari ledakan tersebut, namun seperti menguras kolam besar menggunakan sendok. Jumlah zombie tidak menunjukkan penurunan, mereka terus bergerak menaiki gunung Keramat.
Jiwaku turun ke pengungsian dimana puluhan ribu manusia memenuhi area seluas 2 kilometer. “Begitu ramai. Pantas saja para zombie mengarah ketempat ini.” Beberapa faktor yang dapat membuat zombie mengetahui keberadaan manusia adalah suara bising, ketakutan dan kecemasan. Semua itu ada di tempat pengungsian ini.
Semua orang begitu berisik dengan keluhan mereka, ketakutan akan datangnya bencana susulan serta kecemasan skan ancaman monster.
“Bagi mereka yang bisa bertempur tidak peduli pria maupun wanita diharapkan partisipasinya di garda terdepan!.” seorang petinggi militer memberikan pengumuman perekrutan sukarelawan.
Budiman Sakalangit, di bajunya memiliki lambang tiga bintang yang menandakan jika dia adalah seorang Letjen (letnan jenderal), dilihat dari wajahnya seperti masih berusia tiga pulu tahunan.
Seorang pria berpenampilan nyentrik berdiri dan berjalan menuju para prajurit militer, satu sukarelawan telah siap untuk membantu. Setelah itu banyak orang mulai memberanikan diri untuk menjadi sukarelawan salah satunya adalah seorang pria yang sempat di cegah oleh gadis yang sepertinya adalah adiknya.
Tapi pemuda itu berhasil meyakinkan adiknya bahwa semua akan berakhir jika seandainya para zombie berhasil menerobos garis pertahanan. Tidak ada jalan keluar, semua zombie telah mengelilingi gunung,l. Yang bisa mereka lakukan hanya bertahan atau naik ke puncak gunung yang semuanya akan berakhir saat tidak ada lagi tempat untuk mereka melarikan diri.
Helikopter pengangkut tidak dapat mendekati gunung akibat monster aneh yang muncul entah dari mana, selain itu angin yang berhembus kencang juga menjadi faktor lain mengapa tidak ada helikopter yang menjemput para pengungsi.
“Hem?.” saat tengah asik menatap drama antara para survivor. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara bel yang beberapa hari ini telah sering aku dengar.
[Quest harian telah dimulai]
“What?.”
Bukan hanya jiwaku yang bingung, sepertinya semua orang di tempat pengungsian pun mendengar hal yang sama.
___________________________________________
__ADS_1
[Quest Berburu Zombie]
Keterangan: Bencana besar melanda, banyak kesedihan tercipta akibat banyaknya korban yang menghilang. Di tengah itu munculnya zombie memperburuk keadaan. Wahai para pemberani dengan jiwa yang menginginkan kekuatan untuk bertahan dari kerasnya dunia, tidak ada cara lain untuk bertahan Selain bertarung.
Kondisi penyelesaian:
(1) Bunuh 10 zombie atau lebih.
Hadiah:
(1) Kotak acak tingkat Rare bagi siapapun yang berhasil membunuh 10 zombie.
(2) Juara 1 sampai 10 mendapatkan hadiah tambahan sesuai peringkat.
Denda: Tidak ada.
Batas waktu: 23:54:31
___________________________________________
“Permainan baru saja dimulai.”
***
__ADS_1
To Be Continue.