
Aku keluarkan dari kontak item, Random box tingkat Rare dari penyelesaian Quest membunuh 10 zombie. Kotak itu terbuat dari besi dan memancarkan cahaya kebiruan dari celah penutupnya seolah meminta kepadaku untuk segera di buka.
Cahaya bersinar menyilaukan saat daun yang digunakan sebagai tangan membukanya kotak, lalu sebuah Sekop terpampang jelas di dalam kotak.
“Heh! Sekop?.”
___________________________________________
...[Graveyard Shovel]...
Rank: Rare (Growth: 0%)
Tipe: Equipment.
Persyaratan: Tidak ada
Keterangan: Sebuah Sekop yang digunakan oleh seorang penggali kuburan.
Atk +10
Def +5
Skill:
(1) Sharp Edge: Menggunakan Energi Mana menjadikan tepian sekop setajam pedang.
(2) Locked: Naikkan Rank item ke Epic untuk membuka skill ini.
___________________________________________
“Benar-benar sebuah sekop.” kotak besi segera menghilang menjadi butiran cahaya setelah aku mengambil skop sepanjang 105 cm di dalamnya.
Berat sekop hampir dua kilogram, dengan pegangan terbuat dari kayu sementara ujung sekop yang pipih begitu tebal seolah terbuat dari batu obsidian. “Apa ini Sekop dari zaman batu?.”.
Aku mencoba menggunakan Sekop itu untuk menggali tanah namun sangat sulit karena ujung sekop yang tumpul. “Jika aku menggunakan benda ini untuk menyerang seseorang pasti akan menimbulkan luka memar.”
Tapi berbeda saat aku menggunakan energi Mana, ujung Sekop menjadi runcing seperti mata pedang. Ketika aku menggunakannya kembali, tanah digali dengan begitu mudah seakan aku tengah menyendok puding lembut.
“Cukup bagus, mungkin akan berguna nanti.” Sekop aku masukkan lagi kedalam item box.
__ADS_1
“Sekarang sudah saatnya untuk berburu beberapa daging busuk.” Turun dari gunung, aku segera mengarah pada gerombolan zombie.
***
Ribuan pengungsi menaiki gunung. Akan berbahaya jika mereka sampai di puncak dan menemukan keberadaan tubuh asliku. Aku takut mereka melakukan hal yang tidak diinginkan di sana.
Sementara itu di bawah masih banyak manusia berjuang walaupun seluruh senjata api yang mereka gunakan telah kehabisan peluru. Mereka menggunakan alat seadanya untuk memukul mundur para zombie.
“Para idiot itu benar-benar ingin mati.”
“Hahaha.. biarkan saja, toh dengan kebodohan mereka pergerakan para zombie bisa diperlambat.”
“Kau benar. Tapi agak disayangkan juga sih, gadis bernama April itu tidak mau mengikuti kita.”
“Betul-betul sangat disayangkan, padahal aku mengincar gadis bernama Emily.”
“Apa! kenapa gadis cacat itu yang kau perhatikan?.” terkejut.
“Ya, membayangkan wajah cantik itu menjerit kesakitan ketika aku menyiksanya, itu membuatku bersemangat.” senyum lebar.
“Kau sakit, kawan.” merasa jijik.
Saat melayang ke bawah gunung aku mendengar percakapan para survivor yang sedang menaiki gunung. Aku memperhatikan salah satu dari survivor berbicara seperti seorang sikopat, “Cara bicaranya seperti para bangsawan korup di dunia lamaku.” Aku merasa kesal saat beberapa kenangan buruk kembali teringat.
“Wha! Whaaaa…” pemuda sikopat itu berteriak keras ketika tubuhnya terjun dari ketinggian 1500 meter, aku yang melayang di udara dengan cepat menangkapnya menggunakan daun-daun dan membungkusnya merubah pemuda itu menjadi mumi.
“Mpffff…” Pemuda itu berusaha berteriak namun mulutnya tersumbat oleh daun milikku. Para survivor lainnya yang melihat kejadian itu tidak dapat melakukan apapun. Tubuh yang terjatuh kemudian menghilang dibalik rimbunnya pepohonan.
Berusaha menghentikan tubuh yang terjatuh, aku segera menggunakan rumput panjang yang keluar dari Skyweed untuk mengikat pohon sekitar, tubuhku bergelayutan di antara pepohonan membawa manusia yang aku culik.
“Baiklah, bagaimana aku menggunakannya.” Aku tidak berencana melakukan apa pun pada pemuda itu. Barusan aku hanya marah padanya karena membuat beberapa ingatan tidak menyenangkan kembali muncul.
“Akan sangat disayangkan jika aku melepasnya begitu saja. kalau begitu bagaimana jika….” Senyumku melebar.
“[Parasit]” Aku mengaktifkan skill yang membuatku penasaran.
Dengan cepat seluruh bagian Skyweed mengikat kepala pemuda itu termasuk tanaman merambat yang digunakan untuk bergelayut di pepohonan, akibatnya tubuh pemuda terjatuh ke tanah cukup keras.
“Dia kehilangan kesadaran.”
__ADS_1
...DING!...
...[Berhasil menjadikan target inang parasit]...
Notifikasi terdengar setelah aku sukses mengambil kontrol tubuh pemuda ini. “Wohoho…. Ini luar biasa.” menggunakan tubuh si pemuda aku berlari menuruni gunung lalu melompat ke jurang.
“Oh yeaaaaah.” Teriakan keras ku terdengar oleh setiap survivor yang menaiki gunung.
Beberapa Survivor yang melihat ku melompat berpikir jika aku akan bunuh diri, dan mulai melontarkan kata-kata penghinaan seperti pengecut dan pecundang. Tapi yang aku tidak peduli tetap melompat.
Terjun bebas, di bawah ku tepat berada pengungsian yang sudah ditinggalkan oleh para survivor. Masih ada puluhan orang di sana, sebagian besar dari mereka adalah orang-orang terluka sehingga tidak memungkinkan untuk menaiki gunung.
“Lets Rock, Baby!.” mengumpulkan energi Mana di sekitar untuk memperkuat tubu. Aku mendarat dengan keras di tengah-tengah lautan monster.
KBOOOM! Ledakan besar terjadi menciptakan kawah selebar lima meter dari pusat tempat ku jatuh. Puluhan zombie terbunuh tapi ribuan lainnya segera menyerbu ke arahku begitu merasakan hawa kehidupan dari pemuda yang aku kendalikan.
“[Root Control]” Menghantam kepala tangan ke tanah seketika membuat akar-akar tajam bermunculan di area seluas 10 meter dari tempat ku berdiri.
Para zombie tertusuk oleh akar yang tiba-tiba muncul dari dalam tanah, membuat hutan mayat hidup dalam sekejap tumbuh di depanku.
...[Exp 120]...
...[Exp 117]...
...……….....
...……....
...…...
...DING!...
...[You level up]...
“Manis, ini sangat menyenangkan.” dengan perasaan tak terkalahkan aku terus melakuksn pembantaian pada para zombie. Terlena oleh kenikmatan saat melakukan pembantaian membuatku melupakan satu hal yang penting.
Tubuh pemuda itu mulai mengering.
__ADS_1
***
To Be Continue.