
April, dari luar dia terlihat seperti gadis cantik pada umumnya, namun sebenarnya di dalam dia adalah seorang pria.
[Note: WHAT! Seriusan?]
[April: Jdaar! Jeder! Jedor!]
[Note: Author-nya mati ditembaki oleh April, dan akhirnya novel pun tomat]
***
[Udah nih serius]
April, dari luar gadis itu seperti perempuan luar biasa. Kecantikannya membuat April seringkali dikira seorang model oleh banyak orang, tatapannya yang tajam memberikan perasaan jika April adalah gadis yang teliti dan berpendidikan tinggi. Setidaknya itulah yang terlihat di luar, namun sebenarnya di dalam April adalah seorang…. Anak dari mafia yang disegani di kota.
Sirine tanda bahaya terus terdengar, di dalam mobilnya sendiri April bersama pemuda yang tidak dia kenali tengah menuju sekolah tempat adik si pemuda berada. Khawatir jika musibah selanjutnya segera datang, April sempat meminta pemuda itu untuk segera menuju tempat aman, namun perintahnya ditolak walaupun dia menodongkan pistolnya.
Andaikan kondisi matanya baik-baik saja, mungkin April akan menembak kepala pemuda itu kemudian mengambil kemudi. Namun sayangnya akibat benturan keras di kepala membuat penglihatan gadis itu terganggu.
Sekolah yang dituju sudah terlihat di depan. Banyak pelajar yang turun ke jalan di karenakan gempa besar yang baru saja terjadi membuat sebagian gedung sekolah rubuh. “Aku akan kembali!.” Riki segera keluar lalu menanyai beberapa siswa dan guru.
Dari dalam mobil April tidak dapat mendengar pembicaraan Riki tapi dia menyadari dari sikap pemuda itu yang terlihat marah sekaligus khawatir, lalu tiba-tiba Riki berlari kearah sekolah. Beberapa orang mencoba mencegahnya karena gempa kecil masih terjadi yang dapat membuat bangunan sekolah bisa roboh seutuhnya. Tapi pemuda itu tidak peduli dan terus memaksa masuk.
“What the…” April menyaksikan saat Riki menghajar satu guru yang mencoba menghalanginya. Setelah itu Riki memasuki gedung sekolah dan tidak ada satupun orang yang mengejarnya, “Cih, biarkan saja mereka yang ingin mati.” Ucap salah satu guru. Kemudian beberapa mobil dan bus datang menjemput murid sekolah untuk segera mengungsi.
__ADS_1
“Nona lebih baik kau segera pergi ke tempat yang lebih tinggi, tsunami segera datang!.” Seorang guru memberikan peringatan. Begitu semua mobil dan bus berangkat membuat tempat yang tadi ramai pun menjadi sepi, hanya April yang tersisa seorang diri di dalam mobilnya.
Gadis itu menjadi begitu cemas setelah menyadari dirinya tinggal seorang diri. Dia tidak tahu kapan Riki akan kembali. Merasa khawatir April pun menghubungi orang tuanya untuk menanyakan keadaan mereka. April merasa lega saat mendengar jika seluruh keluarganya telah di ungsikan ketempat aman.
“Dasar idiot, siapa juga yang mau mati denganmu.” Duduk di kursi pengemudi, April berniat untuk meninggalkan tempat itu, namun saat dia ingin menyalakan mobil tiba-tiba mesinnya tidak bekerja. “Serius, Disaat seperti ini!.” Dengan marah gadis itu memukul klakson berulang kali. Tapi April berhenti menggila saat mendengar radio mobil memberitakan bencana yang sedang menghampirinya.
...<>...
Buruk!
Diiiiiiiiiing!
April menjatuhkan kepalanya ke stir mobil sehingga membuat klakson berbunyi. Tidak ingin menyerah begitu saja Gadis itu mencoba mencari tempat aman, April keluar dari mobil dan melihat sekitar tapi tidak ada bangunan yang cukup tinggi untuk terhindar dari terjangan tsunami.
“Aku tidak pernah mengira akan berakhir seperti ini.” Ucapnya sambil menatap langit. Terlihat ratusan helikopter dan pesawat tempur lalu lalang, namun walaupun dia berteriak keras pun tidak ada satupun dari kendaraan terbang itu akan menyelamatkannya.
“Maaf telah membuatmu menunggu begitu lama.” Tiba-tiba suara Riki menyadarkan lamunannya, dengan marah April berniat untuk menembak kepala pemuda itu tapi setelah melihat dua gadis yang Riki bawa membuat April kembali menurunkan senjatanya.
Keadaan kedua gadis yang Riki bawa begitu mengerikan dimana salah satu gadis hanya tersisa satu tangan, sementara yang lainnya mengalami pendarahan di salah satu mata. Mengabaikan April, Riki memasukkan kedua gadis itu di dalam mobil jok belakang.
“Ayo tsunami akan datang sebentar lagi!,” Riki mengajak April untuk segera memasuki mobil, tapi gadis itu justru mencibir, “Hemp, kau hanya bisa menggunakan mobil ini dengan mendorongnya.” Ucapnya. April merasa yakin jika mobilnya tidak akan bisa berjalan, tapi tiba-tiba..
Bruuum! Mobil itu menyala.
__ADS_1
“What…” Apri begitu kebingungan, tapi klakson dari Riki segera membuatnya memasuki mobil. “Kau pasti melakukan sesuatu pada mobil ini bukan?.” April bertanya dengan penuh kemarahan. Riki membantah tuduhan April pada dirinya, pemuda itu tidak menanggapi perkataan Apri dan memilih fokus pada jalanan.
Gelombang besar menerjang, di depan April gedung-gedung pencakar langit mulai tumbang setiap kali bersentuhan dengan ombak besar tersebut. Dia merasa sedikit bersyukur karena pemuda yang menculiknya mengarahkan mobil ke gunung keramat.
Di gunung keramat titik ketinggian 1000 meter terdapat posko pengungsian. Terdapat puluhan ribu orang yang berhasil terhindar dari maut, dan mereka mencoba untuk bertahan di dunia yang mulai bertambah kacau.
Beberapa orang yang berhasil selamat Berpikir jika besok semuanya akan lebih baik karena bencana telah berlalu, namun kenyataannya hal yang lebih mengerikan akan segera datang.
Sementara itu di dimensi berbeda.
...[100%]...
...DING!...
...[Selamat telah berhasil melakukan evolusi secara sempurna]...
...[Mendapatkan skill (grafting)]...
***
Tu ber culosis.
__ADS_1