
“Huwahahaha… Level up Level up Level up.” Azlea masih bertarung menggunakan tubuh yang dua culik, melihat poin-poin Exp yang dia dapat membuat tanaman parasit itu begitu bersemangat membantai para zombie.
Efek dari parasitisme membuat perolehan Exp yang dia dapat menjadi setengah karena terbagi separuhnya untuk pemuda yang dia kendalikan. Namun karena faktor efisiensi membuat Azlea memilih untuk menggunakan pemuda itu sebagai inang.
Tapi Parasit itu pun tahu jika keahlian miliknya memiliki downside yang tidak main-main.
Azlea merasakan keanehan pada tubuh yang dua jadikan sebagai inang. Pergerakannya menjadi lebih lambat dan begitu lemas, Azlea juga merasa kelaparan yang begitu luar biasa.
“Ah… ini gawat, tubuh pemuda ini sudah tidak bisa bertahan lebih.” Melihat kondisi tubuh pemuda yang begitu memperihatinkan membuat Azalea terpaksa menghentikan pertarungannya.
Menggunakan tanaman merambat yang berasal dari Skyweed, Azlea bergelayutan dari pohon satu ke pohon lainnya kabur dari tengah kerumunan zombie. Dia naik ke atas gunung menuju pengungsian.
Di atas gunung, tempa yang dua tuju terdapat banyak orang yang tengah memperhatikannya. “Oh wow, karena begitu asik membantai zombie, aku tidak menyadari telah menjadi tontonan para survivor.”
Azlea sedikit kebingungan dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya, “Apa aku perlu menarik biaya karena pertunjukan tadi?.” Azalea hanya berharap jika para survivor tidak mengaggap rumput terbang seperti dirinya sebagai sebuah ancaman.
Azlea yang masih mengendalikan tubuh inangnya tiba di pengungsian. Semua orang menatapnya dengan waspada, hingga Letnan Jenderal Budiman menghampirinya.
“Itu adalah kekuatan yang mengagumkan, terimakasih tindakan anda benar-benar membantu kami.” Pak Budi berniat menyalami tangan pemuda yang dijadikan sebagai inang, namun tubuh pemuda Itu terjatuh ke tanah.
Azlea melepas skill parasit pada pemuda yang hampir meninggal karena kelaparan. Melihat pemuda itu jatuh tak berdaya seperti boneka yang talinya di potong, beberapa orang pun sadar jika dia telah dikendalikan. Menyadari itu membuat Kolonel Hesti memerintahkan semua tentara untuk waspada.
Keadaan di pengungsian menjadi tegang, Letjen Budiman meminta semua orang menahan tembakan. Rumput terbang tidak menunjukkan pergerakan apapun begitu juga pihak militer dan sukarelawan. Hingga Azlea menggunakan kemampuan membuat Resin untuk menciptakan sesuatu.
[Resin Maker] kemampuan membuat cairan multi fungsi yang begitu membantu Azlea. Resin yang memiliki sifat lengket mempermudah Azlea saat bergelayutan di antara pohon, kemudian saat cairan resin dalam jumlah banyak jika mengering akan terlihat seperti kaca, dengan itu Azlea dapat menggunakan resin untuk menciptakan beragam senjata.
Seperti plastik cair, Azlea membuat resin yang dia bentuk menjadi botol bening. Semua orang hanya menatap apa yang sedang Azlea lakukan. Hingga cairan keemasan keluar dari ujung daun memenuhi botol, setelah penuh Azlea melempar botol berisi cairan nektar ke arah pak Budi.
Kemudian Azlea menjauh dari pengungsian, menghilang di pepohonan.
__ADS_1
Buruk! Setelah rumput terbang itu menghilang semua orang terjatuh di tanah.
“Apaan itu tadi?, Aku hampir mengencingi celanaku.” Seorang tentara.
“Sangat menakutkan, tubuhku tidak dapat berhenti bergetar.” Sukarelawan.
“Apa itu monster?, Kehadirannya jauh lebih menakutkan dari ribuan zombie yang aku hadapi.” Tentara lainnya.
Kehadiran Azlea membuat semua orang merasa terintimidasi. Walaupun di luar mereka terlihat baik-baik saja tapi di dalam jiwa mereka terus berteriak untuk menjauhi entitas tidak dikenal itu.
Setelah keadaan mulai tenang, Letjen Budiman memerintahkan prajuritnya untuk bersiaga. Para zombie yang semula tertahan oleh Azlea kembali naik menuju pengungsian.
Sementara itu pemuda yang mengering segera di rawat, “Tidak ada luka serius, hanya kekurangan nutrisi.” Ucap dokter yang menangani bekas inang Azlea.
“Bagaimana menurut anda?.” Tanya Kolonel Hesti pada atasannya Letjen Budiman. Wanita berusia 27 tahun itu terdiam sesaat sambil menatap tubuh si pemuda yang mulai dipulihkan. Dokter mengatakan jika pemuda itu akan sembuh dalam tiga jam ke depan.
“Kita tidak bisa terburu-buru mengambil kesimpulan apakah makhluk itu berbahaya atau tidak sebelum pemuda itu sadar.” pak Budi berjalan keluar dari tenda pos kesehatan.
Saat ini di pihak militer masih memperdebatkan apakah entitas rumput terbang yang mereka jumpai merupakan ancaman atau tidak. Beberapa orang menganggap jika rumput terbang adalah ancaman berbahaya karena perasaan tertindas saat pertama kali mereka melihatnya. Sementara yang lainnya mengaggap jika makhluk itu ramah dan sedang mencoba membantu para manusia yang kesulitan.
“Singkirkan masalah mengenai makhluk itu untuk saat ini. Sekarang mengenai pasukan mu, bagaimana hasilnya?.”
Melihat kekuatan para survivor yang bisa dibilang lebih kuat dari pada prajurit saat bertemu close combat melawan zombie, membuat Letjen Budiman teringat dengan perkataan April. Dia pun memerintahkan Kolonel Hesti untuk membawa sejumlah pasukan dengan kemampuan bela diri mumpuni untuk melawan Zombie tanpa menggunakan senjata api.
“Aku berpikir anda menginginkan kami sebagai pasukan pengorbanan pada awalnya. Tapi melihat hasilnya yang lebih efektif dari pada menggunakan senjata api, aku bisa menyimpulkan memang benar para zombie lebih mudah dihadapi menggunakan teknik pertarungan jarak dekat.”
Wanita dengan tubuh berotot itu menatap tangannya sendiri. Dia merasakan keanehan setelah membuka kotak hadiah yang dia dapat dari sistem.
“Jika memang seperti itu maka bawa lebih banyak prajurit dengan kemampuan bertarung bersamamu.” perintah pak Budi.
__ADS_1
“Anda juga harus lebih banyak melakukan penaklukan zombie, sistem membuat kekuatan kita bertambah saat mendapatkan exp.”
“Sistem seperti game itu yah?. Aku merasa dunia akan menjadi lebih kacau jika semua orang memang diberikan sistem itu.” Pak Budi menatap kaki gunung di bawahnya, terlihat zombie yang masih berusaha untuk naik ke atas, namun kali ini jumlahnya lebih sedikit setelah Azlea membantu. Itu membuat para prajurit dan sukarelawan bisa lebih tenang.
“Mungkin mulai sekarang dunia akan berubah, dimana kekutan adalah segalanya. Kita harus berhati-hati pada pihak mana yang akan kita dukung.”
“Apa yang jendral maksud?.”
Hesti meras bingung pada perkataan pak Budi.
“Aku mendapatkan pesan radio dari pusat jika dunia saat ini begitu kacau. Beberapa negara kuat melancarkan serangan satu sama lain karena mengaggap bencana dan munculnya zombie adalah perbuatan salah satu diantara mereka.”
Wajah Hesti seketika menjadi pucat mendengar perkataan atasannya.
“Maksud anda mereka melakukan itu?.” Hesti memikirkan kemungkinan terburuk.
“Ya, mereka melakukannya.”
“Perang nuklir.”
Langit mulai memerah, malam segera akan datang. Tidak ada seorangpun di dunia apa yang akan mereka lihat hari esok, bahkan mereka tidak tahu apakah akan bisa melewati malam ini dengan selamat.
Gelombang kedua berakhir saat zombie telah meninggalkan gunung dan menyebar kedalam kota yang porak-poranda akibat gempa dan tsunami.
Namun gelombang terakhir Outbreak yang menjadi awal dimulainya era baru umat manusia baru saja dimulai.
***
Konsep Kolonel Hesti Dwita.
__ADS_1
To Be Continue