
Cahaya bersinar terang di atas puncak gunung yang terapung. Cahaya itu berasal dari satu Skyweed yang tengah aku kendalikan, cahaya disekitar mulai redup memperlihatkan sosok Skyweed yang telah berupah menjadi gadis berambut putih dengan mata emas.
“Oh, akhirnya wujud manusia.” Terasa sangat nyaman saat menggunakan mode Champions of the War, aku merasa seolah kembali menjadi manusia. Menggunakan penglihatan Skyweed aku menatap diriku sendiri yang menjadi Champions.
“Bukankah ini Athena? Walaupun berbeda warna rambut dan mara yang berbeda.” Tidak ada kesalahan wujud dari Champions of the War adalah Athena, perbedaannya hanya pada warna rambut dan mata dimana Athena memiliki warna rambut keemasan dengan mata yang juga kekuningan, sementara Avatar di depanku memiliki rambut putih dengan mata merah.
“Jika seperti ini justru akan menimbulkan banyak permasalahan.” Kecantikan yang tidak manusiawi dari wajah seorang Dewi akan membuat manusia lebih curiga padaku, “Tapi pikirkan masalah itu untuk nanti, aku perlu mencari pakaian.” udara dingin yang berhembus tidak membuat tubuh tanpa busana ini kedinginan, aku hanya takut seseorang mengintip ku.
Kembali menjadi Skyweed, aku turun ke kaki gunung mencari beberapa pakaian wanita yang bisa dikenali. Sebagian besar mayat zombie telah diuraikan, daging-daging busuk itu dimakan oleh serangga dan menjadi pupuk bagi bunga di hutan, yang tersisa hanya pakai dan perlengkapan lain berserakan dimana-mana. Aku pun memunguti pakai yang masih bisa digunakan.
“Terlihat bagus, tapi perlu sedikit penyesuaian.” Aura dewa akan membuat manusia terkejut, aku harus menekannya, namun tanpa aura dewa wujud Champions of War hanya seperti gadis lemah pesakitan. “Aku harus merombak total Avatar ini.”
Selama aku mengedit ulang wujud dari Avatar Champions of War, pertempuran di pengungsian semakin memanas. Para survivor terus di pojokan oleh pasukan Goblin. Tidak ingin quest gagal aku pun memerintah setiap Skyweed untuk membantu melindungi para survivor.
***
[Wilayah Pengungsian]
Bentrokan terjadi saat tiba-tiba monster hijau yang dikenal sebagai goblin menyerang pengungsian. Banyak korban berjatuhan karena karena sebagian besar para survivor tidak tahu bagaimana cara untuk bertarung. Prajurit militer yang ada bersama mereka tidak dapat menjaga semua orang karena jumlah mereka lebih sedikit dari para pengungsi.
“Syit!.” Penyihir api Dedi mendapatkan luka di lengannya akibat tembakan panah.
“Dedi mundur, kau sudah kehabisan mana bukan!.” April memperingati rekannya. Karena sadar dirinya hanya akan menjadi beban yang lain karena terluka, Dedi pun memutuskan untuk kembali ke tengah pengungsian.
“Tsk, ini buruk.” Dedi menatap pertempuran yang terjadi dengan perasaan cemas. “Jika saja kami memiliki perlengkapan yang lebih baik.”.
__ADS_1
Saat ini senjata yang digunakan oleh para survivor hanya kayu yang diruncingkan, ada beberapa perlengkapan yang lebih baik seperti pisau dan golok namun kondisi perlengkapan itu pun sudah begitu parah.
“Jika terus dibiarkan seperti ini maka…” perkataan Dedi terhenti saat seorang gadis dengan satu lengan memberikan dia minuman. Emily,, adik dari rekannya Riki. Karena tidak bisa membantu dalam pertempuran, gadis itu menjadi sukarelawan di bagian suport.
“Terima kasih. Jika kau ingin bertanya tentang kakakmu, dia terlihat baik-baik saja, setidaknya saat aku terakhir mihatnya.” Ucap Dedi yang kemudian meminum air putih dengan rasa yang agak manis.
[Note: leminelal?]
Rasa manis berasal dari Nectar yang dicampurkan dengan air putih, efek dari nektar masih bisa dirasakan walaupun sudah dilarutkan dalam air. Meminum air itu membuat kelelahan Dedi sedikit berkurang lalu perlahan rasa nyeri di tangannya akibat luka panah pun berangsur-angsur menghilang.
“Terimakasih atas kerja keras anda.” Emily menundukkan kepalanya setelah Dedi mengembalikan gelas pada gadis itu, kemudian Emily pun pergi membantu relawan yang lainnya.
Setelah istirahat sejenak dan lukanya telah pulih, Dedi kembali menuju garis depan. Sepanjang jalan dia berpapasan dengan para orang-orang yang kembali dari tempat yang akan dia tuju dengan keadaan terluka.
Suara rintihan prajurit yang terluka membuat ketakutan di hatinya semakin membesar, ingin dia menghentikan langkahnya untuk kembali berbalik dan kabur. Namun perasaannya meminta untuk tetap tinggal dan berjuang.
Dedi teringat dengan dua kotak hadiah acak yang dia terima, dua-duanya hanya berisi sampah. Kotak pertama Dedi mendapatkan kunci Inggris, karena mereka tidak berguna dia memberikannya pada Riki, Pemuda itu menggunakan kunci Inggris yang dia berikan sebagai senjata.
Kemudian hadiah kedua setelah menjadi juara 4 quest Berburu Zombie, Dedi mendapatkan serbet. Serbet dengan kemampuan pembersih dan penghilang bau, April mengambilnya untuk menutupi hidung, gadis itu tidak tahan dengan bau badan para survivor yang tidak mandi selama beberapa hari sejak Outbreak. Sebagai gantinya April pun memberikan tongkat sihir yang dia dapat dari kotak hadiah acak.
Suara ledakan terdengar disertai jeritan yang terdengar di garis depan, api berkobar dahsyat membuat Dedi menghentikan langkahnya. Sesosok tubuh terlempar jauh hingga mendarat tepat di bawah kaki Dedi, pria itu pun segera mengenali sosok tersebut.
“Riki!.” Teriak Dedi mencoba membangunkan rekannya yang tidak sadarkan diri.
Aaaaaa! Sekarang giliran jeritan April yang menusuk telinga Dedi, dia melihat dari kobaran api muncul sosok goblin dengan senjata pedang yang tertancap di tubuh gadis itu. Walaupun masih tetap bertahan tapi pada akhirnya April terjatuh tidak berdaya saat goblin beberapa kali menusuk tubuhnya.
__ADS_1
“Gugigu!.” Goblin yang telah mengalahkan April memerintahkan semua bawahannya segera melakukan serangkaian penghabisan. Semua orang jatuh dalam kepanikan ketika gadis depan telah di tembus. Pihak militer tidak dapat bertahan lebih lama menahan gelombang pasukan Goblin.
“Ah… ini sudah berakhir.” pikir Dedi melihat apa yang terjadi di depannya.
“Benarkah?.” Suara itu terdengar begitu dekat hingga Dedi di buat terkejut, sesosok wanita dengan postur tubuh berotot berdiri di belakang Dedi. Di kepala wanita itu terdapat rumput yang sebelumnya pernah dia lihat.
“Aku pikir penjaga gunung ingin melihat kalian menderita lebih lama lagi.” Wanita itu berkata sambil memainkan rumput di kepalanya. Belum sempat mengatakan sesuatu, Dedi di kejutkan oleh datangnya ratusan Skyweed yang terbang di atas pengungsian.
Satu persatu dari monster itu menghinggapi para sukarelawan yang terluka, Dedi tidak dapat berbuat apa-apa saat rumput terbang hingga di wajah Riki, pria itu pun melihat April yang tengah sekarat di bawa terbang 0leh Skyweed lain.
Terjadi kepanikan ketika orang-orang menganggap itu adalah serangan. Tapi melihat jika mereka yang terluka terlihat baik-baik saja, just semua luka mereka telah di sembuhkan, membuat banyak orang melihat Skyweed bukanlah ancaman.
“Sekarang, saatnya ronde kedua.”
Dedi merasa keanehan pada wanita yang berdiri disampingnya. Tapi pikirannya segera terhenti ketika satu Skyweed menghinggapi kepalanya. Dedi tidak mencoba untuk melawan, dia membiarkan rumput itu menjadikannya inang.
‘Luar bisa, aku merasakan tubuhku dipenuhi oleh kekuatan.’
“Hahaha… ini sangat menakjubkan!.” perlahan pria itu kembali kepada kegilaannya sebagai penyihir api.
***
[Avatar Champions of War]
__ADS_1
To be Continue.