Aku Bereinkarnasi Menjadi Pohon

Aku Bereinkarnasi Menjadi Pohon
Low 15: Driver 2


__ADS_3

Riki mengendarai motornya dengan kecepatan penuh menuju sekolah adiknya. Beberapa kali panggilan order masuk namun pemuda itu mengabaikannya. “Aku pasti sudah gila mempercayai pria gila itu.” Riki mulai berpikir kekhawatirannya tidaklah berdasar sehingga dia berniat untuk berhenti, tapi tiba-tiba..


[Prosedur outbreak segera di proses]


Suara itu kembali terdengar di kepalanya, Riki berusaha menghiraukan tapi mendadak guncangan besar terjadi membuat motor nya mengalami oleng, hingga akhirnya terperosok ke bawah jembatan.


“Aaaah… oh fak?.” Beruntung Riki berhasil melompat dan menggapai pembatas jembatan di saat-saat terakhir. Berusaha keras Riki kembali naik, saat kembali ke jalanan dia melihat banyak mobil mengalami kecelakaan akibat gempa. Gedung pencakar langit bergetar hebat, jendela gedung yang retak kemudian pecah menjadikannya hujan pecahan kaca.


Kepanikan masal terjadi di seluruh kota. Sebuah sedan mewah menabrak truk tepat di depan Riki, membuat pemuda itu sadar akan tujuannya untuk menjemput adiknya. “Sial, bagaimana aku pergi ke sekolah adikku?.” Melihat jika motor satu-satunya telah jatuh di bawah jembatan membuat Riki tidak dapat memikirkan cara lain untuk sampai ke sekolah adiknya selain membajak mobil.


Tatapannya tertuju pada mobil sedan yang baru saja menabrak truk. Berharap jika mobil itu masih bisa menyala. Riki segera menghampiri mobil sedan dan melihat jika supirnya yang merupakan seorang gadis telah kehilangan kesadaran dengan luka di kepala.


Kaca pintu depan telah pecah akibat tabrakan, Riki masuk begitu saja lalu mengalihkan gadis pemilik mobil ke kursi samping supir. “Maafkan aku nona.” Riki segera menyalakan mobil, dia beruntung mobil yang bagian depannya ringsek masih bisa berjalan. Tanpa membuang waktu pemuda itu segera melaju ke sekolah adiknya.

__ADS_1


Perjalanan yang begitu sulit dilewati, Riki harus mengendarai mobil melewati banyak orang yang panik. Gedung yang mulai runtuh hampir membuat seluruh mobil menjadi gepeng, jalan yang retak akibat gempa pun mengejar mobil itu seolah berniat mengubur Riki dan seluruh mobil kedalam jurang.


Braaak! Mobil yang Riki menyenggol mobi lainnya saat mencoba menyalip, akibat benturan itu membuat gadis pemilik mobil menjadi sadar. “Argh… apa yang terjadi!.” Gadis itu terlihat melihat sekitar dan mendapati pemuda tidak di kenal tengah mengendarai mobilnya.


Gadis itu terlihat begitu tenang setelah menyadari orang asing membawanya entah kemana, “Siapa kau!.” Di bertanya sambil melihat Riki penuh selidik, sementara tangannya mengambil sesuatu di dalam laci mobil. Mata Riki terbelalak saat melihat apa yang gadis itu ambil. “Kemana kau ingin membawa aku pergi.” Dia kembali bertanya namun kali ini dengan sebuah pistol diarahkan ke kepala Riki.


“Wawawa… tunggu, tunggu dulu nona! Mohon lihat lebih dulu situasi kita saat ini!.” Riki begitu takut saat melihat moncong pistol yang mengarah ke wajahnya, tapi dia berusaha tetap tenang dan terus mengendarai mobil ditengah kota yang kacau.


Mendengar perkataan Riki, gadis itu kemudian menyadari sepanjang perjalanan suara ribut terus terdengar. Melirik ke jendela, dia pin melihat gedung-gedung berjatuhan, tanah terbelah dan kebakaran membuat api menyelimuti seluruh kota.


“Oke.” Disaat seperti itu entah bagaimana si gadis masih terlihat tenang.


“Keluar!.” Perkataannya begitu dingin hingga Riki tidak berani untuk membantah. Setelah mobil tiba di ruang terbuka dimana tidak ada bangunan tinggi disekitarnya, Riki segera di tendang keluar mobil. Pemuda itu hanya bisa melihat mobil yang mulai berjalan menjauh sambil memikirkan untuk mencari tumpangan menuju sekolah. Tapi tiba-tiba…

__ADS_1


Braak! Mobil yang dikendarai si gadis menabrak tiang listrik setelah berjalan 10 meter dari posisi Riki. Pemuda itu pun segera berlari menghampiri mobil dan melihat gadis di dalamnya sedang kebingungan.


“Kau mengalami masalah pada penglihatan mu akibat kecelakaan tadi, benar bukan?.” mendengar perkataan Riki, si gadis hanya terdiam. “Kau, tidak bisa berkendara dengan kondisi seperti itu, biarkan aku membawamu ketempat yang aman!.” Tidak memiliki pilihan lain, gadis itu pun membukakan pintu mobil untuk Riki.


“Tempat aman Maba yang kau maksud?.” gadis itu bertanya dengan tatapan tajam, pistol di tangannya siap untuk ditembakkan jika Riki berani melakukan tindakan bodoh.


“Gunung Keramat!.” Riki menjawab dengan penuh keyakinan. Namun gadis itu justru menatap seolah tidak percaya. Dia berniat untuk menendang pemuda itu kembali ke luar, tapi tiba-tiba sirine tanda bahaya terdengar di seluruh penjuru kota. Mendengar itu Riki segera menginjak pedal gas menuju sekolah adiknya.



***


To Be Continue

__ADS_1


[Note: Chapter Drive masih tersisa satu lagi, mohon bersabar untuk yang menunggu Azalea. Walaupun sebenarnya nggak ada yang peduli juga sih, •́ ‿ ,•̀ .]


__ADS_2