Aku Bereinkarnasi Menjadi Pohon

Aku Bereinkarnasi Menjadi Pohon
Low 8: Membawaku ke Neraka


__ADS_3

Tiga evolusi, semua pilihan adalah jenis herbal yang sangat aku kenal. Pertama adalah herbal yang menjadi bahan pembuatan potion energi Mana, Blue Moon Herb.


Di duniaku sebelumnya bisa dengan mudah menjumpai tanaman ini di hutan, bahkan beberapa kerajaan membudidayakan herbal tersebut di ladang. Blue Moon Herb memiliki khasiat penambah energi Mana yang membuatnya sangat diperlukan oleh para penyihir.


Sementara evolusi kedua adalah Mandrake atau Mandragora, sebuah tanaman umbi-umbian seperti Ginseng. Salah satu bahan baku utama untuk membuat potion tingkat atas (High) hingga tingkat sepesial (X).


Sedangkan yang terakhir Black Lotus. Ini adalah bahan herbal yang dapat digunakan untuk menciptakan potion penyembuhan khusus Undead. Sekedar informasi jika makhluk sejenis mayat hidup seperti Zombie, Skeleton, Wraith dan sejenisnya akan mengalami efek kebalikan jika menggunakan potion biasa. Sihir suci yang terdapat pada potion biasa akan membuat mereka keracunan.


Selain itu Black Lotus juga dapat digunakan untuk membuat parfum pemanggil monster. Karena kegunaan bunga ini dulu aku sering menggunakannya untuk menghancurkan sebuah kota, dengan menyemprotkan wangi parfum Black Lotus di berbagai titik kota lalu tidak lama kemudian ribuan monster datang menyerang.


“Haha… masa-masa yang indah.” Aku kembali teringat saat menghancurkan beberapa kota yang memiliki kuil dewa di dalamnya. setelah memikirkan beberapa kali akupun menemukan jawaban atas evolusi mana yang akan aku ambil. “Tentu itu adalah Mandragora.” Ucapku pada pohon evolusi.


[Kenapa, aku pikir kau akan memilih Black Lotus?.]


Perkataan pohon evolusi membuatku bertanya, “Kenapa kau berpikir aku akan memilih evolusi itu?.”


[Itu karena aku melihat iblis dalam dirimu.]

__ADS_1


“Iblis?.” Aku semakin heran.


[Kau seolah telah berulang kali memasuki neraka dan disentuh oleh dewa dunia bawah]


Perkataan pohon evolusi mengingatkan aku tentang bagaimana hidupku di dalam neraka, “Oh yeah, itu terasa menyakitkan jika diingat kembali…”.


Aku kembali teringat saat pertama kali memasuki neraka. Setelah kematian ibu, aku yang menjadi budak dibeli oleh orang-orang dari aliran sesat. Mereka memuja iblis tujuh dosa, dan ingin menggunakan aku sebagai pengorbanan beserta enam anak lainnya.


Jeritan dan tangisan terdengar di dalam ruangan pengorbanan, satu persatu orang-orang sesat menyembelih budak anak-anak yang mereka beli. Suara jeritan dan tangisan perlahan mereda saat setiap anak sudah mati dengan leher tersayat.


Terakhir giliran aku yang akan dikorbankan. Belati yang telah merenggut nyawa anak-anak lain menempel di leherku, namun aku tidak peduli dan hanya diam mematung dengan tatapan kosong. Melihat sikapku membuat pemimpin ritual merasa marah karena menginginkan ratapan dan tangisan yang seharusnya dia dengar.


‘Percuma menangis, tidak akan ada seorangpun yang iba pada diriku. Percuma meratap karena tidak akan ada yang mendengar. Bahkan dewa sekalipun akan berpaling tidak peduli dengan apa yang akan aku alami.’


Kemudian karena muak, pemimpin ritual menyiram tubuhku dengan minyak lalu membakar tubuhku di tengah tempat ritual. Aku masih duduk terdiam saat seluruh kulitku terbakar melepuh. Semua orang hanya menatap dengan heran, mereka bertanya bagaimana aku bisa menjadi manusia tanpa emosi seperti itu, tidak ada yang dapat menjawab walaupun sebenarnya jawabannya begitu sederhana.


Para Dewa senang melihat manusia menderita, karena hanya disaat menderita manusia memohon belas kasih Dewa.

__ADS_1


Para Dewa tidak ingin dilupakan, karena itu mereka menimpakan berbagai musibah untuk manusia, agar saat manusia merasa tidak memiliki harapan dan tak berdaya, mereka kembali mengingat Dewa yang memberikan harapan dan kekuatan.


“Aku hanya tidak ingin menjadi bidak catur yang dipermainkan oleh para dewa.” Ucapku pada para anggota kultus sesat. Semua orang sesat hanya terdiam mendengar perkataan seorang gadis yang tubuhnya diselimuti api dan hampir mati.


Api semakin besar berkobar, rasa sakit yang begitu tak tertahankan membuat hampir berteriak. Tapi menyadari jika akan ada seseorang yang tertawa saat aku menangis, aku pun menahannya. Hingga rasa sakit dari api yang membakar tubuhku tiba-tiba menghilang, ya itu menghilang begitu saja.


‘Apakah aku sudah mati?.’ Pikirku, tapi saat membuka mata aku masih melihat orang-orang dari kultus sesat. Mereka diam dengan tubuh ketakutan menatap ke arahku, tidak lebih tepatnya mereka menatap seseorang di belakang ku.


Grab! Seseorang mencengkeram kepalaku yang seluruh rambutnya telah terbakar. Tangan itu menarik kepalaku hingga wajahku menengadah ke atas membuatku dapat melihat sosok di belakang.


Itu untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Dewa Hades. Dia muncul dari api yang membakar tubuhku, tatapannya begitu dingin. “Aku akan tunjukkan tempat seharusnya untuk orang seperti kalian,” Ucap Dewa Hades pada para anggota kultus sesat, dia mengibaskan tangannya lalu seluruh orang diruang ritual terbakar kecil aku yang kepalanya masih dia cengkraman.


Jeritan dan tangisan kembali terdengar di ruangan itu, namun kali ini akan lebih lama. Api penyiksaan Dewa Hades akan terus berkobar selama bertahun-tahun, memberikan siksaan pedih pada orang-orang sesat.


“Sekarang, apa kau juga akan menunjukkan tempatku seharusnya?.” aku bertanya pada Dewa di belakang ku. “Tentu, ikut dengan ku ke neraka!.” Dengan paksa dia menarik tanganku menuju dunia dimana manusia maupun Dewa tidak ingin memasukinya.


***

__ADS_1


To Be Continue.


__ADS_2