Aku Bereinkarnasi Menjadi Pohon

Aku Bereinkarnasi Menjadi Pohon
Low 14: Driver 1


__ADS_3

Beberapa saat sebelum outbreak.


Riki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang bekerja sebagai ojek online. Seperti hari biasanya, Riki mengendarai sepeda motor kreditan yang selalu dia gunakan untuk mencari nafkah menghidupi dirinya sendiri dan adik perempuannya.


Hari ini Riki merasa beruntung karena baru jam tujuh pagi namun sudah mendapatkan dua orderan. Pelanggan pertama memintanya memesan makanan kemudian dibayar melalu cod, transaksi berjalan dengan aman tanpa ada drama. Kemudian orderan kedua adalah mengantar seorang berbaju serba hitam menuju gunung keramat.


Di perjalanan ke gunung keramat perasaan Riki terus merasa tidak enak, bukan karena penumpangnya yang terlihat aneh tapi dua terus menghawatirkan adiknya yang masih sekolah SMP. ‘Entah kenapa perasaan ku hari ini tidak enak.’ Pikir Riki dalam hati.


“Kau merasa tidak enak bukan?.”


“Eh?.” Tiba-tiba penumpang di belakangnya berbicara. “Kau merasa hari ini begitu gelisah bukan?.” Penumpang itu seenaknya saja menebak.


“Hahaha… anda kelir...” Riki mencoba membantah, tapi perkataannya terpotong oleh penumpangnya. “Aku merasakan hal yang sama juga. Seolah bencana besar akan segera terjadi dan insting kita sedang memberikan peringatan.”


“O…. Keey.” Riki tidak menganggap serius Perkataan penumpangnya, namun pria berjas hitam dan mengenakan topi bundar beserta kacamata terus mengajak Riki berbicara sepanjang perjalanan.


“Lihat, akan ku membuktikan jika aku adalah seorang penyihir sungguhan.” penumpang itu pun memperlihatkan trik berupa bola api yang menyala di telapak tangannya. “Oh, itu mengagunkan.” Komentar Riki melihat bola api seukuran lilin yang terus menyala walaupun motor yang dia gunakan tengah melaju dengan kecepatan 80 kilometer per jam.

__ADS_1


“Jadi kenapa anda pergi ke hutan keramat, saat ini hutan itu belum di buka bukan?.” Riki mengalihkan pembicaraan karena Penumpangnya terus membicarakan tentang sihir. “Karena gunung keramat adalah satu-satunya tempat teraman di kita ini.”


“Hemm… anda lari dari penagih hutang?.”


“Buwahahaha… kau lucu anak muda. Tapi memang benar itu salah satu alasanku.” Mendengar jawaban penumpangnya, Riki tertata kecil seperti sudah menduganya.


Melihat kembali, penampilan aneh pria paruh baya yang sedang dia bonceng terlihat begitu mencolok. Banyak aksesoris aneh yang tidak seragam, seperti kalung berdemokrasi tengkorak, tapi dia mengenakan anting dengan model malaikat, sementara itu seluruh jarinya dipasang cincin warna warni kemudian sepatu dengan gerigi yang menjadi ciri khas seorang Koboi. ‘Sangat nyentrik, dia pasti banyak melakukan pinjaman online hanya untuk bergaya.’ Pikir Riki.


“Tapi bukan hanya itu tujuanku datang ke gunung Keramat.”


Bum! Tiba-tiba terdengar suara Ledakan, “Huyaaaa!.” Riki yang ketakutan karena mulai berpikir penumpangnya adalah seorang pembunuh berantai, menjadi panik saat mendengar bunyi ledakan yang cukup mengagetkan.


“Maafkan saya tadi nggak sengaja.” Riki segera meminta maaf karena membuat motor sempat oleng, namun penumpangnya tidak menunjukkan reaksi apapun dan terus menatap gunung yang mulai di selimuti kabut kebiruan.


“Apa itu?.” Riki pun terpesona oleh kabut biru yang mulai turun ke kaki gunung. Sampai di depan gerbang masuk gunung, penumpang segera turun dan berdiri di samping Riki. Dia terdiam sesaat hingga akhirnya melakukan trik sulap itu lagi, trik memunculkan api di tangan.


Bwosss! Bola api berdiameter sebesar satu meter tercipta di ujung jari pria itu. “Hahaha… inilah sulap yang sesungguhnya!.” bagaikan orang gila dia tertawa terbahak-bahak, sementara Riki yang melihatnya terus menciumi menebak bagaimana pria itu dapat melakukan trik itu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian kabut biru mulai menghilang dengan cepat seolah sesuatu menyerapnya. Bersamaan dengan itu bola api yang dibuat oleh si pria pun mengecil terus mengecil hingga akhirnya lenyap.“Ada satu pusaran inti megis yang menyerap semua energi Mana di gunung ini. Aku harus mencarinya dan memanfaatkannya.” dia terlihat begitu senang.


“Jika kau mendengar suara seorang wanita di kepalamu, aku menyarankan agar segera datang ke gunung ini dan segera naik setinggi mungkin.” Ucapnya sambil membayar ongkos pada Riki. “Jangan katakan jika aku tidak memberimu peringatan.”, Setelah itu pria aneh itu pun berlari menuju tembok dan melompatinya.


“Itu adalah sebuah tindakan kriminal, apa aku harus melaporkannya?.” Ucap Riki yang terus menatap ke mana pria aneh itu pergi


Riki tidak menghiraukan apapun perkataan penumpangnya barusan. Dia tetap menjalani hari seperti biasanya. Tapi tetap saja perasaannya terakhir begitu tidak nyaman. Hingga peringatan dari penumpang aneh itu menjadi kenyataan.


[Dengan persetujuan yang telah di sepakati oleh berbagai pihak (dewa), maka dengan ini sistem dunia resmi diterapkan pada Planet 17662]


Suara seorang wanita yang begitu monoton terdengar langsung di kepala Riki, membuat perasaan buruk pemuda itu semakin menjadi-jadi. Tanpa berpikir panjang Riki segera membanting stir motor menuju sekolah adiknya.



***


To be Continue

__ADS_1


__ADS_2