Aku Bereinkarnasi Menjadi Pohon

Aku Bereinkarnasi Menjadi Pohon
Low 30: Stasiun Radio


__ADS_3

[Note: Karena chapter lalu menggunakan sudut pandang Azlea membuat tidak disebutkan bahwa Avatar saat ini yang dikendalikan oleh Azlea diberi nama Leah]


***


Mobil yang terbawa arus tsunami berserakan di kaki gunung. Setelah beberapa saat mencari bahan bakar diantara sekian banyaknya mobil, kami mendapatkan beberapa jerigen minyak.


“Aku hanya bisa menyimpan sebanyak 30 kilogram.” aku memberikan alasan jika tempat penyimpanan dimensi milikku memiliki batas walaupun sebenarnya itu hanya sebuah kebohongan.


“Tidak apa, bisa menyimpan sebanyak itu saja sudah bersyukur.” Hesti bersyukur karena mendapatkan minyak yang berguna untuk menghidupkan generator listrik di pengungsian.


“Benar, kemampuan yang kau miliki memang sangat praktis.” Dedi begitu tertarik dengan skill item box yang aku miliki.


Setelah mendapat beberapa jerigen minyak, kami pun kembali melanjutkan perjalanan.


***


Kelompok kami akhirnya keluar dari wilayah gunung. Beberapa Monster langsung menyambut kedatangan kami ke dalam reruntuhan kota.


“Jangan terlalu gaduh atau kita akan menarik lebih banyak perhatian monster.” Aku mendeteksi jika setidaknya ada lima puluh monster dalam jangkauan tiga ratus meter. Jika kami menarik perhatian mereka maka akan ada masalah yang merepotkan.


Kelompok lima orang ini memang bisa mengalahkan gelombang monster yang bisa datang jika membuat keributan, tapi masalahnya saat ini kami jauh dari pengungsian. Tidak ada dari kami yang mau pulang lebih awal karena kelelahan setelah melawan monster.


Jadi pilihan kami adalah mengeksplorasi reruntuhan kota secara sembunyi-sembunyi.


“Gedung di depan hanya ada 5 monster, kita bisa menjadikannya base camp setelah membersihkannya.” Aky menunjuk sebuah gedung lima lantai tepat di depan pintu masuk gunung Keramat.


Mengikuti arahan dariku, semua orang memasuki gedung diam-diam. April sebagai seorang Assassin begitu diandalkan dalam pembersihan gedung dari para monster karena dia memiliki skill [Stealth].


Dua goblin di lantai dasar, April membunuh mereka tanpa kesulitan berarti. Sementara tiga zombie di atap, mungkin mereka adalah penduduk kota yang berusaha mengungsi.


April dengan cepat menyerang satu zombie, sementara kami berempat menyerang zombie lainnya menggunakan anak panah. Pekanya pendengaran mayat hidup membuat tidak ada yang berani mendekat lebih dari lima meter dari posisi zombie tanpa kemampuan khusus.


Tapi kemampuan [Stealth] April sepertinya membuat para zombie tidak dapat mendeteksi keberadaanya.


“Mati!.” Menggunakan keahlian [back stab] April menusuk lebar zombie dari belakang. Zombie berteriak di saat kematiannya membuat dua zombie lainnya menyadari keberadaan April. Tapi sebelum dua zombie melakukan apapun, kami berempat segera melakukan serangan.


Tiga anak panah dan satu bola api menghabisi zombie yang tersisa. Walaupun semua monster di dalam gedung telah dimusnahkan tapi kami tidak segera merayakannya. Dengan penuh waspada kami melihat sekitar khawatir jika ada monster yang mendengar keributan di atap.


Aku segera melihat peta untuk mengawasi pergerakan monster. “Sepertinya aman.” Tidak ada monster yang bergerak ke arah gedung membuat semua orang lega.


Menemukan sebuah tempat persembunyian yang aman membuat kami semua beristirahat sejenak.


***

__ADS_1


Kelompok kami kembali setelah menghabiskan beberapa waktu di reruntuhan kota. Saat tiba di tempat pengungsian kami dikejutkan dengan perubahan yang terjadi di tempat itu. Banyak orang bekerja membangun pagar, ada pula survivor yang kembali setelah berburu.


“Tempat ini jauh lebih hidup dari sebelumnya.” Dedi terlihat senang saat melihat para survivor mulai bisa pulih dan mulai bangkit melanjutkan hidup mereka.


Mengalihkan perhatian dari para survivor, Hesti memintaku kami segera melapor ke pak Budi. Malam telah datang setelah rapat kami dengan pak Budi berakhir. Kami membicarakan tentang penemuan di reruntuhan kota.


“Kita mungkin bisa kembali menduduki kota jika membersihkan para monster. Tapi masalahnya bagaimana jika para monster terus bermunculan.”


“Jika itu terjadi maka tidak ada pilihan lain selain mencari sumber para monster berasal.”


Selagi yang lain sedang berdiskusi, aku sendirian duduk di depan meja yang dipenuhi oleh bagian alat radio yang aku coba perbaiki. Menggunakan pengetahuanku yang dipelajari sebelum outbreak terjadi membuatku hanya memerlukan waktu 20 menit untuk memperbaiki radio.



“Huwa… aku berhasil.” Aku melompat girang saat terdengar suara dari radio.


Melihat Radio kembali berfungsi aku segera menyerahkan pada pak Budi.


“Ini adalah pengungsian gunung keramat, Letjen Budiman Sakalangit yang berbicara.”



Suara di radio terdengar bahagia.


...DING!....


Oh tidak lonceng sial itu kembali terdengar.


___________________________________________


...[Sudden Quest: Menyelamatkan pengungsi di gedung penyiaran radio]...


Keterangan: Beberapa survivor tengah bertahan di dalam gedung penyiaran radio. Menolong mereka ketempat aman untuk menyelesaikan quest.


Syarat penyelesaian: Menolong survivor 0/10.


Hadiah:


(1) Kotak acak tingkat Epic ×1


(2) Exp 5.000


Denda:

__ADS_1


(1) Menolak quest: menurunkan 1 level


(2) Gagal dalam quest: tidak ada denda.


Waktu penyelesaian Quest: 3 hari


___________________________________________


Setelah melihat rincian quest, aku menatap sekitar. Melihat perhatian semua orang yang menatap layar status mereka membuatku yakin jika bukan hanya aku yang mendapatkan quest tersebut.


Semuanya saling menatap satu sama lain, lalu dengan berbagai tujuan yang mereka miliki membuat semuanya setuju untuk menerima quest.



Suara dari radio kembali terdengar, suara itu terdengar semakin cemas karena takut jika akan diabaikan.


“Jangan khawatir, tetaplah bertahan selama mungkin. Kami akan mengirimkan regu penyelamat segera.”



...DING!...


...[Quest telah diterima]...


Ada beberapa alasan kenapa kami menerima quest dadakan ini. Yang pertama, semua orang tidak ingin kehilangan level. Yang kedua, kami tertarik dengan kotak acak tingkat Epic. Dan yang terakhir jika bisa membebaskan gedung penyiaran maka kami bisa meminta bantuan ke pusat militer.


***


Setelah mendiskusikan rencana penyelamatan semalaman, besoknya kelompok kami berangkat menuju penyiaran radio.


Hari ini banyak survivor yang ikut bersama kami menuruni gunung, ini dikarenakan mereka bermaksud untuk membersihkan monster dari kota agar dapat memiliki tempat tinggal yang lebih layak. beberapa orang juga berkeinginan untuk kembali ke rumah mereka.


Berkat kemampuanku yang menunjukkan jalan terbaik di mana hanya ada sedikit monster, membuat perjalanan sejauh lima kilometer dari kaki gunung dapat di tempuh sekitar lima jam. Semua orang berfokus untuk menyelesaikan quest sehingga meminimalisir melawan monster.


Kami menemukan survivor yang menghubungi lewat radio kemarin malam. Tapi masalahnya mereka belum bisa kami bawa ke kamp pengungsian karena jumlah monster di sekitar gedung penyiaran radio masih sangat banyak.


Hari terus berganti, para survivor terus memburu monster di dalam kota sehingga tidak terasa dua bulan berlalu. Kini sebuah pemukiman kecil di dekat gunung keramat telah didirikan. Semua orang berkerja sama kembali membangun peradaban manusia walaupun semua akan berbeda dari yang mereka ingat dahulu.


Gedung penyiaran radio menjadi satu-satunya alat komunikasi untuk mencari survivor yang masih bertahan. Sebuah grup penyelamat di bentuk untuk menolong para survivor itu. Banyaknya survivor dari luar yang diselamatkan menambah populasi pemukiman hingga akhirnya menembus 100.000 penduduk.


Semakin banyak pengungsi membuat sumber daya yang dibutuhkan akan bertambah besar, namun pemimpin pengungsian yaitu Letjen Budiman tidak khawatir tentang pangan karena gunung Keramat telah menyediakan apa yang mereka butuhkan.


***

__ADS_1


To Be Continue


__ADS_2