
Hari ketiga hidupku di dunia yang berbeda. Masih tidak ada yang berbeda dari kota di bawah bukit, pagi hari masih terlihat normal seperti kemarin. Namun aku dapat merasakan tingkat mana yang lebih kuat dari kemarin. “Apa yang sebenarnya terjadi, bukankah seharusnya dunia ini tidak memiliki energi mana.” Tidak ada yang bisa aku pikirkan untuk memberikan alasan masuk akal selain ulah para Dewa.
Berpikir bencana seperti apa yang akan terjadi jika suatu energi yang sebelumnya belum pernah ada di dunia ini tiba-tiba muncul dalam jumlah besar. Mencoba untuk memahami situasi, jiwaku melayang ke luar angkasa melihat seluruh isi bumi untuk mencari darimana asal energi mana.
“Luar biasa, mereka bahkan bisa membuat benda-benda seperti ini di luar angkasa.” Aku kagum saat melihat ribuan benda buatan manusia bertebaran seperti sampah di orbit bumi. “Mereka menyebutnya sebagai satelit, bukan?.” Tidak dapat membayangkan seberapa banyak uang yang mereka buang untuk mengirim satu dari satelit itu ke luar angkasa.
“Itu hal yang berbeda jika mereka masih menggunakan emas sebagai alat tukar, saat ini beberapa orang pintar dapat mencetak uang mereka sendiri secara legal.” Aku masih tidak mengerti kenapa harus menggunakan kertas bergambar sebagai mata uang, sesuatu yang bisa dibuat sebanyak mungkin dengan sembunyi-sembunyi.
__ADS_1
Kembali ke tujuan awal terbang hingga ke luar angkasa kemudian menatap bumi yang dalam penglihatan ku terselimuti kabut biru tips yang tersamarkan oleh awan. Memutari bumi beberapa kali hingga aku menemukan ribuan titik yang menjadi sumber dari energi Mana.
“Sebuah lubang dimensi. Itu bukan retakan , melainkan lubang yang menang sengaja dibuat.” Melayang di atas langit aku mengawasi satu lubang di udara yang mengeluarkan kabut kebiruan. “Entah apa yang dipikirkan oleh dewa dunia ini sehingga mulai membuka lubang dimensi.”
Dunia ini begitu damai, kenapa dewa justru sengaja membuka lubang dimensi yang berakibat bocornya energi Mana?. Walaupun energi mana dalam segala hal lebih baik daripada minyak bumi, batu bara dan sejenisnya, tapi itu tidak berarti energi Mana tanpa resiko. Efek buruk seperti mutasi jika suatu makhluk hidup terpapar terlalu banyak energi Mana, bahkan bisa memicu munculnya sarang Monster.
Akan sangat berbahaya untukku jika sebuah dungeon muncul di dekat sini. Jika dungeon itu menelurkan monster elemen api maka matilah aku. “Mari lihat apa yang bisa aku lakukan dengan semua energi Mana yang terkumpul di gunung.” Kembali ke dalam tubuh fisik aku mulai melakukan meditasi. Menggunakan teknik pernafasan aku menyerap energi Mana di sekitar, mungkin lebih tepatnya aku sedang melakukan proses fotosintesis.
__ADS_1
Jumlah besar energi Mana terserap oleh daun lalu mengalir ke batang tanaman hingga berakhir ke akar. Tunggul pohon lama yang menjadi tempatku dilahirkan memili ajar yang begitu panjang tertanam di dalam tanah, dengan itu aku dapat menyimpan energi Mana dalam jumlah besar. “Tapi tetap saja bukankah ini tidak normal?.” Aku kebingungan saat hampir seluruh energi mana dalam jangkauan lima puluh kilometer mulai terserap habis kedalam daun, bahkan kabut kebiruan yang keluar dari dalam lubang dimensi pun mulai mengalir langsung ke arahku. “Sebanyak apa energi yang bisa batang pohon kecil ini kumpulkan?. Aku penasaran.”
Aku berpikir ini adalah efek dari menggunakan tubuh seorang dewa. Ya walaupun dari luar hanya terlihat seperti pohon yang baru tumbuh tapi sebenarnya itu adalah tubuh dari Dewi Athena.
***
__ADS_1
To Be Continue