Aku Bereinkarnasi Menjadi Pohon

Aku Bereinkarnasi Menjadi Pohon
Low 29: Cara Mendapatkan Job


__ADS_3

Hari ke tiga setelah outbreak terjadi. Monster yang mendiami hutan semakin bertambah banyak, para pengungsi harus ekstra waspada lingkungan sekitar pengungsian. Hutan menjadi semakin berbahaya, jika mereka melakukan kesalahan sedikit saja bisa jadi akan berakhir dimakan serangga mutasi.


Namun itu tidak berarti semua survivor akan hidup dalam ketakutan selamanya. Beberapa orang yang sadar akan manfaat sistem menggunakan kekuatan yang mereka dapatkan untuk bertahan hidup. Mereka mulai mengeksplorasi hutan lalu membuat pagar untuk meningkatkan keamanan pengungsian, dan berburu demi persediaan pangan.


Ada total 70.000 lebih survivor di pengungsian, mereka diharuskan saling membantu dalam kegiatan bertahan hidup. Para pemuda yang memiliki kemampuan bertarung bertugas mencari makan di hutan, sementara mereka yang tersisa akan membantu mendirikan beragam infrastruktur pendukung seperti tembok, menara pengawas dan tentunya rumah.


Suara statis terdengar di radio saat pak Budi terus mencoba mencari sinyal yang ada. Sudah dua hari dia kehilangan kontak dengan pusat militer, hal ini membuat pria paruhnya itu cukup risau dengan keadaan di pusat.


“Mungkinkah pusat telah…. Tidak! Itu tidak mungkin.” pak Budi terus mencoba menghubungi pusat hingga tidak lama kemudian dia menyerah, “Percuma, mungkin radio ini telah rusak.” pikirnya.


Pak Budi kemudian mengalihkan perhatian keluar jendela, di luar terdapat ribuan orang tengah bekerja keras membangun tembok dengan balok kayu mengelilingi pengungsian. Sebagian pengungsi mencangkul tanah membuat parit sementara sebagian lainnya menebang pohon yang akan dijadikan sebagai pagar. Seluruh alat yang mereka gunakan adalah hasil dari kreasi resin Skyweed.


Berkat bantuan monster tanaman terbang itu membuat pekerjaan para survivor menjadi lebih mudah.


Tatapan pak Budi tertuju pada para pengungsi yang sedang bekerja keras, “Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan pada mereka.” Memikirkan masa depan pengungsian yang harus dia jaga, pak Budi hanya bisa menghela nafas berat.


***


[Azlea POV]


Sesuai kesepakatan kami, Riki mengajakku menjelajahi kota bawah gunung. Namun bukan hanya kami berdua yang melakukan perjalanan ini, ada tiga survivor lain yang ikut yaitu kolonel Hesti, vampir April dan penyihir api Dedi. Kami semua merupakan tim ekspedisi yang ditugaskan untuk melihat keadaan kota.


Awalnya semua orang ragu akan kekuatan yang aku miliki sehingga mereka sempat menolak permintaan Riki untuk mengajakku bergabung dalam tim. Tapi melihat kemampuanku yang dapat mendeteksi keberadaan monster membuat semua anggota membiarkan aku bergabung.


Sepanjang perjalanan menuruni gunung kelompok kami puluhan kali mendapatkan ancaman dari beragam monster penghuni hutan. Monster yang paling sering menghadang perjalanan kami adalah goblin dan ular beracun.


“Kau yakin ular ini begitu berbahaya?.” Tanya April sambil menunjukkan tubuh ular dengan sayatan lebar di lehernya. “Jika kau tidak percaya, kau bisa membiarkan ular yang lain untuk mengigit mu.” Jawabku sambil mengikuti kulit ular dan mengambil empedunya yang merupakan kantung racun.


Semua orang kagum dengan kelihaian ku menguliti ular dan wajah meraka dengan jelas menunjukkan pertanyaan apa yang akan aku lakukan dengan empedu ular tersebut. “Kita bisa menggunakan racun yang terdapat pada empedu ular untuk memperkuat senjata yang kita gunakan.”

__ADS_1


Sebagai uji coba aku melumuri satu anak panah milik Hesti lalu menyuruhnya untuk menembakkan pada seekor ba_bi hutan setinggi kuda.


“Apa-apaan dengan celeng itu?.” Riki terkejut melihat besarnya celeng yang aku tunjukkan.


“Hewan itu memakan goblin?.” Giliran Dedi yang terkejut.


“Kenapa heran, bukanlah binatang seperti Ba_bi memang pemakan segalanya?.” balas April.


“Jika dia memang gemar memakan monster lain seperti goblin, itu akan wajar jika celeng itu begitu besar.” ucap Hesti.


Setelah melumuri ujung anak panah dengan racun ular. Setelah persiapan selesai kolonel Hesti segera membidik panahnya kearah Ba_bi hutan, wanita militer itu narik nafas panjang lalu melepas tembakan.


Guiiiiih!


Ba8i hutan terkejut saat bok_ongnya tiba-tiba terkena anak panah, dengan marah monster itu mencari pelakunya di sekitar tapi dia tidak menemukan siapa pun karena kelompok kami bersembunyi di balik semak.


“Oh… luar biasa, membunuh monster sebesar itu hanya dengan satu anak panah beracun.” Riki tidak bisa menahan kekagumannya. Perkataan pemuda itu diiyakan oleh April.


Sementara itu kolonel Hesti terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu, “Ada apa?.” April bertanya. “Aku barusaja mendapatkan tawaran Job menjadi seorang Hunter.” Balasan Hesti membuat tiga lainnya terkejut.


“Job Hunter!, Job seperti apa itu?.” Dedi bertanya dengan begitu bersemangat.


“Hem… Seperti itu spesialis dalam perburuan monster. Job Hunter dapat membuatku menaikkan kekuata sebesar 10% dan mendapatkan tambahan Exp 5% lebih banyak saat melawan monster.”


Mendengar rincian dari Job Hunter membuat setiap orang kecuali Dedi berpikir untuk mendapatkan Job yang sama. April dan Riki belajar menurut instruksi Hesti, diketahui jika untuk menjadi seorang Hunter seseorang harus membunuh monster dengan 5 senjata dan 2 cara yang berbeda.


April dan Riki menggunakan senjata panah, pedang, tombak, belati, dan senjata api. Lalu yang terakhir mereka melakukan sama seperti yang Hesti lakukan saat membunuh ba8i hutan yaitu dengan menggunakan racun.


“Oh, aku mendapatkannya!. Tapi ada Job lain yang juga muncul.”

__ADS_1


“Sama, aku juga.”


Setelah melakukan sama seperti yang Hesti lakukan, sepertinya Keduanya tidak hanya mendapatkan job Hunter tapi ada pilihan job yang lainnya.


April mengatakan jika dia diberi pilihan untuk menjadi Hunter atau Assassin, sementara Riki memiliki job Spearman sebagai pilihan kedua.


“Aku tidak mengerti kenapa keduanya mendapat pilihan kedua. Apa itu terkait dengan cara Keduanya bertarung?.” Dedi mencoba menganalisa.


Seperti yang dikatakan penyihir api itu, walaupun saat ini April menggunakan pedang pendek tapi sebelumnya dia menggunakan bayonet (sejenis belati). Sementara Riki apa sistem mengira jika sebuah Sekop sebagai sebuah tombak?.


“Jadi apa yang akan kalian pilih?.” Tanya Hesti, pertanyaan yang membuat keduanya menatap tajam penuh perhatian pada layar status yang tidak bisa kami lihat.


Assassin memiliki keunggulan dalam teknik menyelinap, ada beberapa skill khusus yang didapat jika memilih Skill tersebut, sama halnya dengan job Spearman. Walaupun kedua job tidak memiliki tambahan Exp saat membunuh monster, tapi sebagai bonus mereka akan menaikkan kekuatan hingga 15% ketika menggunakan senjata tertentu.


“Kita tidak tahu apakah job bisa diganti atau tidak, jadi berhati-hatilah dalam mengambil keputusan.” saran Hesti.


Kemudian pada akhirnya keduanya mengambil Job kedua, April menjadi Assassin dan Riki sebagai Spearman. Jika ditanya kenapa mereka memilih job selain Hunter, keduanya memberikan alasan karena penelitian. Bukan hanya April dan Riki tapi kami berlima penasaran dengan keunikan masing-masing Job.


“Jadi apa yang kau dapatkan?.” Pertanyaan Dedi membuat seluruh perhatian tertuju padaku.


Aku melakukan hal yang sama seperti yang lainnya namun tidak ada tawaran menjadi Hunter maupun job lainnya. Aku berpikir karena saat ini aku sudah memiliki Job Champions of God jadi tidak mendapatkan kesempatan menjadi Hunter.


Tidak ingin membuat mereka curiga, terpaksa aku berbohong.“…. Engineering, itu job yang aku dapatkan.”


***


To Be Continue


[Note: mohon maaf lahir batin. Maaf karena beberapa hari tidak update,]

__ADS_1


__ADS_2