
““Oh yeaaah, Baby!””
“Apa itu!.” Letjen Budiman yang masih bertahan di pengungsian terkejut melihat tubuh seseorang yang jatuh dari atas gunung sambil berteriak kegirangan.
“Apa otaknya sudah gila karena stress hingga memilih untuk bunuh diri?.” pikir pak Budi melihat seseorang jatuh dari atas gunung dengan wajah bagia.
Seikat rumput yang dijadikan sebagai mahkota di atas kepala pemuda itu memperkuat pendapat bapak Budi.
“Rawrrrrr”
“Sial.” panik.
Satu zombie hampir menggigit pak Budi, namun dengan sigap prajurit itu menggunakan senapan yang sudah tidak memiliki amunisi untuk bertahan. Keadaan menjadi begitu genting saat beberapa zombie lainnya berlari kearah pak Budi.
“Menahan satu zombie saja sudah kerepotan, apa lagi tiga. Sepertinya ini adalah ajal ku.” Pak Budi sudah berniat menyerah ketika dua zombie lainnya datang mendekat. Namun bantuan yang datang memaksa pria itu untuk bertahan lebih lama.
“Areeeyaah!.” Dari samping kiri seorang gadis berambut pendek mengarahkan belatinya kearah leher zombie, “Gueeckk….”, Sebuah tikaman kuat memotong leher zombie membunuh dalam satu serangan.
“Bola api!. ”
Bwooossss! Giliran Seorang pria berpenampilan serba hitam dengan topi bundar melempar bola api kearah zombie lainnya. Pria itu melakukan sesuatu yang bisa disebut mustahil, ‘Apa itu sihir?.’ Pikir bapak Budi. Zombie itu terbakar oleh bola api dan membuatnya tewas.
__ADS_1
Lalu giliran zombie terakhir yang saat ini dia hadapi. “Minggir!.” seorang pemuda berlari dari arah lain membawa pintu mobil yang dijadikan tameng.
Braaak! Pemuda itu menabrak zombie yang ditahan oleh bapak Budi, membuatnya terlempar beberapa meter. Zombie masih hidup tapi si pemuda tadi segera memukul kepala zombie menggunakan kunci Inggris beberapa kali hingga Zombi tidak lagi bergerak.
“Te… terimakasih.” Pak Budi terkejut dengan kemampuan tiga orang yang membantunya.
Membunuh zombie bukanlah hal yang mudah, perlu puluhan amunisi untuk menumbangkan satu mayat hidup itu, walaupun kepala mereka sudah hancur hingga otak berceceran tapi tetap monster yang dulunya adalah warga kota masih dapat bergerak.
“Tuan jendral sebaiknya anda memerintahkan pada pasukan anda yang tersisa untuk meninggalkan senjata api dan segera menggunakan teknik bertarung jarak dekat.” Saran perempuan dengan mata merah darah.
“Jarak dekat!, Tapi bukankah itu lebih beresiko untuk terluka oleh zombie?.” Pak Budi mengaggap saran dari April adalah sebuah ide yang konyol.
“Aku hanya memberikan saran, itu terserah padamu.” April mengangkat bahunya menyerahkan semua pilihan pada pak Budi. “Yah lagi pula sebentar lagi kalian juga akan benar-benar kehabisan amunisi.” lanjut gadis itu.
“Apa kau pikir jendral itu akan mengambil nasehat tadi?.” Riki bertanya pada dua rekannya. “Apa pun yang dia pilih pada akhirnya tidak ada jalan lain untuk melawan para zombie dalam pertarungan close combat.” Balas Dedi Zaire si dukun nyentrik yang sekarang menjadi seorang penyihir api.
“Dedi tersisa berapa banyak Mana poin (MP) milikmu?.” April bertanya sambil menjilat noda darah zombie di belati miliknya, matanya bersinar merah saat meminum darah itu. Hadiah dari membunuh 10 zombie membuat April merubah ras-nya dari manusia menjadi vampir.
“Itu tersisa seperempat...”
KBOOOM! Suara ledakan terdengar di bawah bukit, ketiganya segera melihat apa yang terjadi. Kabut debu terangkat ke atas, Setelah kabut berangsur-angsur menghilang terlihat sosok manusia mengenakan rumput di kepalanya, dia berdiri di tengah hutan mayat hidup.
__ADS_1
“Woah, dia kuat.” ucap Dedi saat melihat pemuda di bawah. Ketiganya terus menyaksikan pemuda aneh itu bertarung sendirian ditengah lautan zombie. April kagum dengan cara dia bertempur, “Gerakannya begitu terukur, seolah pemuda itu telah bertarung antara hidup dan mati dalam waktu yang lama.”
Pertarungan pemuda itu berlangsung selama dua jam, dalam singkat itu sudah ratusan zombie berhasil dia kalahkan, gunung mayat berada di bawah kakinya.
Sekarang bukan hanya tiga orang yang mengawasinya, tapi sebagian besar prajurit militer yang akhirnya bisa sedikit bernafas lega karena semua zombie mengarahkan perhatian pada pemuda itu. Serangan zombie yang melonggar dijadikan kesempatan oleh para prajurit untuk beristirahat.
Salah satu dari prajurit itu adalah Kolonel Hesti Dwitari. Dia menatap pertarungan pemuda itu dengan begitu seksama sehingga seperti April dan yang lainnya, mereka melihat pergerakan pemuda semakin menurun.
Terlihat tidak ada yang aneh awalnya, karena bertarung selama dua jam sudah sewajarnya pemuda itu kelelahan sehingga gerakan tubuhnya menurut. Tapi yang membuat semua orang heran adalah kondisi tubuhnya yang semakin lama semakin kering.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada pemuda itu?.” Riki begitu penasaran setelah melihatnya masih bisa bertarung dalam kondisi begitu mengerikan.
“Siapa yang tahu, yang pasti kita harus bersiap karena begitu pemuda itu mencapai batasnya maka gelombang zombie akan kembali mengarah ke mari.” Balas April yang tidak begitu peduli pada nasib si pemuda. Berbeda dengan Riki yang mulai berteriak pada si pemuda untuk segera beristirahat.
“Dasar idiot. Yang bertarung bukan si pemuda, dia hanya boneka, seseorang dibalik semua ini pasti menggunakan tanaman aneh yang berada di kepala untuk mengendalikan pemuda tersebut.”
“Mungkin konsekuensi dari pengendalian ini adalah terserapnya nutrisi tubuh.” April mencoba menebak apa yang terjadi d
Pada si pemuda.
***
__ADS_1
To be Continue.
[Note: Lebih baik pake POV atau TP POV?]