
Hutan di gunung begitu sunyi, aku tidak mendengar suara serangga yang sering menjadi backsound hutan ini. Aku sadar keadaan ini disebabkan oleh bocornya energi Mana. “Aku harus lebih berhati-hati menangani kristal yang akar ku hasilkan.”.
Aku menyadari keberuntunganku luar biasa hari ini karena kebocoran tadi tidak menimbulkan ledakan. Karena jika itu terjadi aku memperkirakan dalam radius 100 kilometer hanya akan menyisakan sebuah gurun pasir.
“Beruntung terdapat larangan untuk memasuki gunung. jika saja ada manusia yang memasuki gunung saat kabut Mana menyebar mungkin manusia itu akan berevolusi menjadi kera.”
Mencegah insiden seperti kebocoran kabut mana kembali terjadi aku berencana memindahkan tempat tinggal ku (pindah tanam). Aku sudah menemukan tempat yang cocok untuk pindah yaitu puncak gunung.
Menggunakan [Root Control] aku menumbuhkan akar memanjang hingga menembus puncak gunung, kemudian dengan cepat memindahkan akar utama yang berbentuk seperti bayi besar ke ujung akar serabut yang sebelumnya tumbuh ke puncak gunung. Proses pemindahan berlangsung singkat, aku dapat dengan leluasa memindahkan bagian akar utama di manapun akar serabut berada, karena itu aku menumbuhkan akar milikku hingga mencakup seluruh gunung.
Setelah saru jam melakukan banyak hal akhirnya aku bisa beristirahat. Jiwaku kembali keluar dari tumbuhan Mandragora untuk menatap danau dengan aliran air tenang yang berada di puncak gunung. Tempat yang sungguh menakjubkan begitu kontras dengan keadaan kota di kaki bukit.
Peraturan tentang larangan memasuki gunung dibuat agar kelestarian hutan tetap terjaga. Hanya di saat-saat tertentu saja gunung dibuka untuk umum. Berkat peraturan itu aku terhindar dari kesalahan tanpa sengaja membunuh manusia, walaupun banyak penghuni gunung yang akan terpengaruh akibat radiasi.
“Baiklah, sudah cukup menyalahkan diri sendiri. Sekarang saatnya untuk melihat kota dan dunia. Apakah ada sesuatu yang berubah akibat kepadatan mana di udara semakin menebal.” Jiwaku menuruni gunung menuju kota, “Aki sangat penasaran.” Senyumku melebar memikirkan apa yang bisa terjadi pada dunia ini.
__ADS_1
***
Di setasiun aku berdiri ditengah kerumunan manusia tengah menunggu kedatangan ular besi yang akan memakan mereka kemudian dimuntahkan di tempat berbeda. “Seperti kemarin, tempat ini dipenuhi oleh orang-orang sibuk.” Aku tidak melihat keanehan di tempat ini. Hingga kereta listrik datang semua orang berdesakan untuk masuk.
Aku ikut masuk lalu berdiri di tengah-tengah manusia, setelah dua menit kereta pun berangkat menuju pusat kota. Sebagai arwah aku bisa terbang lebih cepat dari kreta ini, tapi aku memilih untuk naik kereta dan menikmati pemandangan. Kereta melaju cepat di jalur layang menyusuri gedung-gedung pencakar langit. Keadaan begitu tenang seolah tidak akan ada hal buruk terjadi.
Hingga semua itu berubah menjadi kekacauan saat sebuah suara terdengar di kepala setiap makhluk hidup di dunia.
...[Dengan persetujuan yang telah di sepakati oleh berbagai pihak (dewa), maka dengan ini sistem dunia resmi diterapkan pada Planet 17662]...
...[Prosedur outbreak segera di proses]...
Suara itu kembali terdengar, namun kali ini tidak ada yang bisa mengabaikannya.
Duuum! Suara dentuman keras diikuti getaran bumi mengguncang seluruh kota. Dari jendela kereta aku dapat melihat gedung-gedung pencakar langit yang memenuhi seluruh kota mulai bergetar hebat hingga menimbulkan retakan dan jendela kaca pecah, ledakan dan kebakaran di seluruh kota membuat kepanikan warga, teriakan pun terdengar di mana-mana. Semakin lama getaran bumi semakin lama semakin kuat hingga gedung-gedung itu mulai runtuh.
__ADS_1
Setiap orang di dalam kereta menahan nafas mereka saat melihat kejadian mengerikan itu. Hingga akhirnya musibah yang sama pun menimpa kereta. jalan layang di depan telah runtuh, melihat itu semua orang panik karena kereta yang mereka tumpangi akan segera terperosok ke dalam jurang.
Semua penumpang berteriak secara bersamaan bagaikan musik pengantar saat kereta listrik terjun bebas dari ketinggian 50 meter. Mati, mati, mati semua orang berpikir akan menemui ajal mereka hari ini begitu seluruh bagian karet menghantam tanah. Tapi tiba-tiba seluruh badan kereta yang berjumlah lima gerbong tertutup sesuatu dari luar. Selanjutnya seperti ada yang menahan kereta untuk tidak jatuh dan membuatnya tergantung di tengah jurang.
"Itu nyaris saja."
Aku mengendalikan akar tumbuhan yang ada di sekitar untuk membuat tali melilit badan kereta dan mengaitkannya ke jalan layang yang masih berdiri. Usahaku berhasil, tapi akibat dari perhatianku seluruh badan kereta tertutupi oleh akar. Banyak orang terluka akibat kereta yang berguncang hebat, tapi beruntung tidak ada korban jiwa.
***
To be Continue
__ADS_1