
Kereta gandeng yang ditarik oleh dua banteng berjalan menyusuri labirin. Sementara sang kusir yang merupakan seorang wanita mengenakan topi kerucut besar yang terlihat berat dan mantel kulit berbulu yang terasa panas jika dilihat.
‘Aneh’ Satu kata yang terlintas di benak setiap orang yang berpapasan dengannya.
Azalea berangkat dari tengah labirin menuju pintu keluar, beberapa kali dia bertemu dengan petualang yang sedang menantang labirin, diantara mereka ada yang tersesat lalu meminta ditunjukkan jalan keluar pada Azlea.
“Kau hanya perlu menembus tembok tanaman.” Azlea mengungkapkan jalan rahasia menuju pintu keluar.
“Hah! Bukankah jika kita melakukan itu akan membuat Skyweed marah dan membunuh kita?.” Salah satu petualang yang tersesat tidak percaya dengan Perkataan Azlea yang sebenarnya adalah pembuat labirin itu sendiri.
Ketidak percayaan para petualang itu bukannya tanpa dasar, beberapa kali dilaporkan serangan agresif oleh Skyweed pada mereka yang merusak dinding tanaman labirin. Serangan itu bahkan telah mengakibatkan kematian.
Semua orang berpikir jika Skyweed yang biasanya ramah pada manusia tiba-tiba menjadi begitu ganas disebabkan oleh para petualang yang merusak labirin.
“Ma… itu hak kalian untuk tidak percaya apa yang aku katakan.” Wanita itu tidak terlalu peduli dengan para petualang yang tidak mempercayainya.
Menggunakan kemampuan tlekinesis Azlea menyingkirkan tanaman yang menghalangi jalan. Sebuah lubang besar tercipta di tembok yang terbuat dari tanaman merambat, melihat itu para petualang berpikir jika Skyweed akan datang menyerang, namun tidak ada yang terjadi.
Azlea dengan tenang memacu kereta melewati lubang yang dia buat. Setelah kereta itu melewati lubang, tanaman kembali menutup seperti sediakala.
“Sepertinya itu aman,” salah satu petualang tertarik untuk mencoba apa yang telah Azlea lakukan.
“Hey! Jangan gegabah, aku pikir itu adalah jebakan. Kita tidak bisa mempercayai orang aneh yang membawa kreta ditengah labirin bukan. Bisa jadi wanita aneh tadi adalah jelmaan monster labirin.” Petualang lain masih bersikap waspada.
“Ah, kau benar. Kita bahkan tidak mengenal wanita tadi.” Semua petualang kembali sadar jika di dalam labirin seringkali muncul orang jahat yang suka menyesatkan para petualang.
Walaupun sebenarnya Azlea begitu terkenal di kota kaki gunung Keramat tapi para petualang yang baru beberapa hari tiba dari kota lain itu tidak mengenalnya.
__ADS_1
Mereka memang pernah mendengar tentang lima orang terkuat di kota Jahe, tapi tidak pernah melihat mereka secara langsung hingga tidak menyadari jika wanita aneh tadi adalah salah satunya.
Namun beruntung porter atau seseorang yang pekerjaannya sebagai pembawa barang. Porter yang berasal dari kota Jahe mengenal betul sosok Azlea, dia pun menceritakannya pada para petualang.
Hal itu membuat para petualang kembali merasa dilema antara percaya dengan saran Azlea atau tidak.
“Ah! Masa bodo lah. Aku sudah terlalu lelah selama satu minggu terjebak di labirin sial ini.” Salah satu petualang yang putus asa kemudian berlari memasuki dinding tanaman.
“O… oy!.” petualang lain berusaha untuk mencegah temannya tapi terlambat.
***
Dua ekor banteng keluar dari tembok tanaman menarik sebuah gerobak besar yang di kendarai oleh seorang wanita dengan penampilan penyihir. Pemandangan itu tentu menarik perhatian puluhan orang yang berada di pintu masuk labirin.
“Dia menerobos dinding labirin!, bagaimana mungkin?.”
Banyak pendatang baru berdatangan dari kota, mereka berharap bisa memulai kehidupan baru di kota Jahe.
“Oey, Jaga bicaramu! Beliau adalah salah satu orang berpengaruh di kota, Leah the Witch. Seharusnya kau mengingat itu jika ingin hidup aman di kota Jahe.” Salah satu petualang yang merupakan warga asli kota Jahe marah karena seseorang menyebut Azlea sebagai wanita aneh.
Kereta terus bergerak menuruni gunung menggunakan labirin. Setiap kali berpapasan dengan petualang atau petani yang mencari herbal di hutan mereka akan menundukkan kepala dengan hormat pada wanita itu.
Perjalanan dengan kreta selama sepuluh menit dari pintu masuk labirin, Azlea sampai di pos pendakian, tempat yang enam bulan lalu menjadi Pengungsian para survivor untuk melewati outbreak.
Tempat pengungsian itu sekarang dirubah menjadi pedesaan yang dikelola oleh asosiasi Hunter. Penginapan di tempat ini selalu penuh oleh para petualang yang ingin menantang labirin.
“Dua beef chess burger, kentang goreng ukuran besar dan kopi hitam.” Azlea memesan sarapannya pada pramusaji di sebuah restoran cepat saji favoritnya.
__ADS_1
Seorang wanita dengan penampilan penyihir terlihat begitu kuno, memasuki tempat makan yang begitu berbeda modern. Namun jika diperhatikan bukan hanya Azlea saja yang terlihat memiliki penampilan aneh. Banyak pelanggan di restoran itu merupakan seorang cyborg dengan bagian tubuh buatan, hingga mereka yang disebut Demi-human ikut berbaur dengan manusia.
Terlihat aneh, tapi begitulah keadaan dunia saat ini. Megala peradaban dari medieval (abad pertengahan), modern, fantasy, steampunk hingga cyberpunk melebur menjadi satu hingga realitas terlihat begitu acak, sesuatu terasa ditempatkan tidak pada tempatnya menciptakan Surealisme.
Setelah mendapatkan pesanannya, Azlea segera melanjutkan perjalanan menuruni gunung. Dengan mulut yang dipenuhi oleh burger dia memacu kereta lebih cepat, jalan yang menurun tidak membuatnya takut terjadi kecelakaan.
Ada peraturan mutlak bagi mereka yang ingin memasuki gunung Keramat yaitu tidak diperbolehkan untuk membawa kendaraan bermotor. Peraturan itu diterapkan untuk menjaga lingkungan hutan tempat tanaman herbal tumbuh.
Karena peraturan itulah membuat sebagian besar petualang yang menuju labirin menggunakan kuda atau kreta. Bahkan di halaman parkir restoran yang baru saja Azlea kunjungi tidak terdapat motor maupun mobil, melainkan kuda dan grobak.
Hingga Lima belas menit kemudian Azlea sampai di gerbang masuk gunung Keramat, di luar gerbang dipenuhi oleh pertokoan pedagang, mereka menawarkan berbagai kebutuhan para Hunter seperti potion, senjata hingga perawatan perlengkapan.
Beberapa pedagang mencoba mendekati Azlea karena mereka berpikir jika wanita penyihir itu merupakan seorang Hunter yang baru selesai menjelajahi labirin. Tapi begitu sadar jika sosok itu merupakan Leah the Witch membuat semua pedagang menyingkir dari jalan.
Meninggalkan gunung Keramat, kereta Azlea melaju cepat menuju tengah kota. Jalan dipenuhi oleh mobil namun kecepatan kereta tidak kalah dengan kendaraan bermotor. Kedua banteng yang menarik kereta Azlea adalah monster mutan yang bisa berlari hingga kecepatan 400 kilometer perjam.
Tapi tetap saja pemandangan sebuah kreta grobak menyalip mobil sport ada sesuatu yang terlalu tidak normal.
Asosiasi Hunter, tempat bagi para Hunter menerima quest atau menjual hasil buruan mereka. Kereta Azlea tiba di depan gedung asosiasi, para petugas asosiasi yang melihat kedatangan Azlea pun menyambutnya. Sudah menjadi sebuah rutinitas setiap hari dimana Azlea akan datang di pagi hari ke asosiasi Hunter untuk menjual berbagai material.
Braak!
Baru melangkah beberapa kali, Azlea dikejutkan dengan tubuh seseorang yang terlempar dari dalam gedung asosiasi.
“Senang rasanya kembali ke rutinitas sehari-hari yang ‘normal’.” Dengan senyum mengembang Azlea memasuki gedung asosiasi Hunter.
***
__ADS_1
To Be Continue.